Home Social Movement Berkenalan dengan Rumah Baca Potensial Sahabat Jiwa Kaniti

Berkenalan dengan Rumah Baca Potensial Sahabat Jiwa Kaniti

206
0
SHARE

Dalam usaha meningkatkan minat baca, beberapa komunitas berinisiatif untuk menghadirkan ruang baca, baik bagi masyarakat secara umum maupun bagi anak-anak. Pada kesempatan kali ini, Tim Basodara berhasil berbincang-bincang dengan salah satu penanggung jawab Rumah Baca Potensial Sahabat Jiwa Kaniti, yaitu Putri Theodora Takalapeta, atau yang akrab disapa Putri. Sebagai informasi awal, Rumah Baca Potensial Sahabat Jiwa Kaniti ini berada di Kabupaten Kupang, tepatnya di Kampung Kaniti, Desa Penfui Timur, samping SD Inpres Kaniti, Kabupaten Kupang. Berdua bersama dengan Yeftha Yerianto Sabaat, Putri mendirikan sekaligus bertanggung jawab terhadap rumah baca yang ada di Kaniti ini. Rumah Baca Potensial Sahabat Jiwa Kaniti sendiri berada di bawah naungan organisasi sosial Komunitas Sahabat Jiwa. Organisasi ini lahir di Salatiga, merupakan hasil inisiatif mahasiswa Fakultas Psikologi UKSW. Pendirinya adalah Yulius Darmawan yang saat ini berdomisili di Cirebon. Organisasi Sahabat Jiwa memiliki banyak aktivitas sosial, salah satunya adalah rumah baca. Saat ini, rumah baca Sahabat Jiwa ada di tiga tempat, yaitu di Salatiga, Cirebon, dan Kabupaten Kupang.

Yuk, kita kenalan lebih lanjut dengan rumah baca Kaniti ini bersama Putri.

 

Halo, Putri. Latar belakang apa yang mendasari teman-teman sehingga bisa bikin rumah baca di Kaniti?

Halo, Basodaracom. Saya punya beberapa poin di sini. Pertama, in fact kebanyakan orangtua-orangtua di kampung hanya berlatar belakang pendidikan SD dan SMP, sehingga kebanyakan anak-anak menjadikan itu sebagai role dalam menempuh pendidikan. Jika sudah remaja, bisa berkebun, mereka putus sekolah dn memilih berkebun saja, bahkan menikah di usia muda. Kebanyakan adik-adik di Kampung Kaniti hanya termotivasi untuk belajar di pendidikan formal hingga SMP. Ada beberapa yang sampai SMA dan beberapa yang sampai perguruan tinggi. Ini sebuah keprihatian karena Kampung Kaniti terletak di perbatasan Kota Kupang dan Kabupaten Kupang. Kami sebagai orang muda ingin memutus mata rantai itu dengan mengkampanyekan pentingnya pendidikan, dimulai dengan membaca buku, karena buku adalah jendela dunia. Anak-anak di Kampung Kaniti perlu diberikan role yang baru tentng hidup dan pendidikan. Bahwa untuk bisa bersaing, kita perlu mengenyam pendidikan setinggi mungkin. Kedua, gambaran atau bayangan tentang profesi terbatas karena efek dari role tadi. Hanya tahu PNS, guru, polisi, bidan, perawat, tentara, profesi seperti itu ada di Kampung Kaniti, sehingga cita-cita hanya sebatas itu. Padahal di kota, di luar dari kampung, cita-cita anak-anak beragam, malah anak-anak kota didorong untuk bermimpi setinggi mungkin. Ketiga, kami tahu bahwa setiap anak terlahir istimewa, punya bakat dan talenta masing-masing. Tapi, bakat hanya akan terpendam tanpa ada stimulus untuk bisa mengembangkan bakat tersebut. Oleh karena itu, di rumah baca ada kelas kreativitas untuk menstimulasi potensi adik-adik. Keempat, setiap anak berhak dapat pendidikan yang layak. Kelima, fasilitas membaca dan menuangkan kreativitas di kampung masih terbatas sehingga kami menghadirkan ruang untuk itu.

 

Rumah Baca Kaniti ini pertama kali dibuka kapan?

Sudah dipersiapkan sejak tahun 2016 dan baru diresmikan Februari 2017, berarti sudah 9 bulan berjalan, dengan aktivitas inti kelas literasi dan kelas kreativitas. Seminggu hanya buka dua kali, hari Jumat dan Sabtu pukul 14.30 WITA sampai 17.30 WITA, dengan alasan agar rumah baca bukan jadi taman bermain adik-adik, tapi benar-benar mereka datang untuk membaca. Selain itu, agar mereka tidak bosan karena buku-buku yang tersedia juga masih terbatas. Kendala so far… di waktu saya dan Kak Yeftha sebagai relawan inti, karena kami masih studi di Surabaya. Jadi yang take over selama kami tidak ada adalah partisipan. Kadang, banyak ide baru yang ada tapi terkendala jarak. Tapi so far aktivitas rumah baca tetap berjalan di-handle oleh para partisipan. Kalau dari segi anak-anak, ya namanya usia anak-anak ya, pendamping perlu tenaga ekstra, kesabaran ekstra untuk berinteraksi dengan mereka. Anak-anak punya kebutuhan untuk diperhatikan, jadi semua akan minta perhatian yang sama dalam satu waktu. Kadang pusing, apalagi kalau pendamping ada masalah pribadi, tapi tetap harus kontrol diri untuk tidak bicara kasar, tidak memukul. Sebenarnya, interaksi dengan anak-anak adalah cara cukup ampuh untuk latih kesabaran. Hehehe. Jadi keuntungan juga bagi pendamping karena melalui anak-anak kita bisa semakin belajar tentang hidup.

 

Jpeg

Wah, menarik ya. Apakah ada syarat-syarat khusus untuk jadi partisipan/pendamping adik-adik di rumah baca?

Begini, kalau mau jadi relawan biasanya melamar atau mengutarakan keinginan ke kami. Nanti kami akan tanya-tanya dulu motivasi apa, karena ini benar-benar kegiatan sosial, menyita waktu, pikiran, dan tenaga, namun tidak dibayar, kan? Terus ada masa percobaan dulu beberapa minggu atau sebulan untuk lihat komitmennya calon relawan. Pengalaman kami pernah ada dua orang pemuda kampung, akan tetapi karena kesibukan mereka dan kurangnya komitmen yang membuat mereka tidak bisa jadi relawan lagi. Kalau kegiatan-kegiatan dari luar atau lembaga lain, boleh, asalkan sesuai dengan visi kami, yaitu literasi, kreativitas, dan semua yang berunsur pendidikan. Semisal ada kelas bahasa Inggris, Matematika, dll. Akan tetapi, nanti kita lihat dulu jadwalnya, sehingga tidak bertabrakan dengan jadwal aktivitasi inti adik-adik, yaitu membaca dan kreativitas. Mungkin sebagai contoh, kelas literasi dua jam, mereka bisa membaca tigapuluh menit terus dilanjutkan dengan kelas Inggris, Matematika, dll. Tapi ya itu tadi, mereka tidak mengganggu aktivitas inti kami.

 

Apakah rumah baca juga menerima donasi buku? Bagaimana alur berbagi buku ke sana?

Kami terima. Sejauh ini yang memberi masih dari teman-teman di Kupang, ya jadi langsung antar ke sana atau bisa ke rumah saya semisal mereka tidak tahu lokasi. Karena kami berada di bawah Komunitas Sahabat Jiwa, setiap bulan kami menerima buku-buku kiriman dari founder kami atau teman-teman komunitas kami yang tersebar di Indonesia, seperti Cirebon, Jakarta, Semarang, Salatiga, Surabaya. Pernah ada penulis buku cerita remaja yang menyumbangkan karyanya secara langsung ke Komunitas Sahabat Jiwa. Nah, founder kami mendistribusikan ke kami melalui pengiriman buku gratis setiap tanggal 17. Saya sendiri berencana mendaftar rumah baca di webnya pemerintah, tapi karena kesibukan tesis masih belum sempat. Hehehe. Kadang kami terima sumbangan dalam bentuk uang. Si pemberi meminta kami untuk mengatur uang tersebut untuk apa. Nah, uang kami gunakan beli buku cerita, buku keterampilan, sains, dll, juga kebutuhan kreativitas adik-adik. Nota semua disimpan, dicatat dan melalui japri dilaporkan ke si pemberi dana sebagai pertanggungjawaban. Karena bagaimanapun kita harus menjaga kepercayaan publik.

 

Jpeg

Selama 9 bulan berjalan, adakah pengalaman-pengalaman baik yang pernah alami, baik oleh teman-teman relawan maupun partisipan dan adik-adik di rumah baca?

Pengalaman saya, menyenangkan ada di dunia anak-anak, karena sejak dulu saya suka dunia anak-anak, ditambah lagi belajar ilmu psikologi, jadi saya bisa menerapkan ilmu praktis saya ke mereka. Contoh, reward positif, negatif, dan berusaha untuk tidak berikan punishment karena memang kurang baik untuk mengubah pola tingkah laku anak. Saya juga semakin belajar tentang kesabaran dan mengelola emosi. Banyak hal positif yang dipelajari dan tentu sangat berguna bagi diri sendiri. Kemudian, saya bisa menuangkan kreativitas saya di sana, jadi bertumbuh bersama Kak Yeftha, para partisipan, dan adik-adik. Kalau pengalaman Kak Yeftha, menantang, karena berhadapan dengan anak-anak kita harus memposisikan diri sebagai anak-anak. Menyenangkan juga karena kadang tingkah mereka yang polos membuat lucu dan gemas. Melatih kesabaran dan kematangan emosi. Ketika anak-anak jahil dll, kita harus tetap bisa menegur dengan tegas tanpa mengeluarkan kata-kata negatif yang melukai hati. Ini cukup berat, tapi untuk mendidik anak menjadi berkualitas, relawan sendiri harus mampu membawa diri, mengontrol diri, dan memberi contoh atau teladan yang baik, karena anak-anak akan lebih mudah meniri sikap kita daripada kata-kata kita. Harapan ke depannya, semoga semakin banyak anak-anak di Kampung Kaniti dan sekitarnya yang tertarik untuk belajar di rumah baca, dan setiap bulan kami bisa membeli atau menerima bantuan buku-buku maupun bahan-bahan setengah jadi untuk digunakan dalam kelas kreativitas.

 

Terima kasih banyak, Putri, untuk sharing-nya tentang Rumah Baca Kaniti.

Dengan senang hati, Basodaracom. Sukses untuk webnya!

 

Nah, teman-teman Basodara, demikian bincang-bincang singkat kami dengan Putri, salah satu penanggung jawab utama Rumah Baca Potensial Sahabat Jiwa Kaniti. Teman-teman yang berminat berinteraksi, berbagi buku, maupun menjadi relawan, dapat berkomunikasi dengan penanggung jawab Rumah Baca Potensial Sahabat Jiwa Kaniti:

  • Putri Theodora Takalapeta

Instagram: theodoraputry

Facebook: Putri Theodra Takalapeta

e-Mail: theodoraputritakalapeta@ymail.com

  • Yeftha Yerianto Sabaat

e-Mail: sabaatyefta@gmail.com

Berikan komentar anda disini..