Home Lifestyle Film ‘Banda’ menceritakan sejarah yang hampir dilupakan

Film ‘Banda’ menceritakan sejarah yang hampir dilupakan

161
0
SHARE

Ada berapa anak muda yang tertarik dengan sejarah Indonesia? Adakah yang tahu bahwa Banda memiliki peran penting hingga kala itu penjajah ingin menukarnya dengan Nieuw Amsterdam (yang kini menjadi Manhattan, New York)?

Untuk menyelesaikan konflik tersebut, ditandatanganilah Perjanjian Breda pada 30 Juli 1677 antara Belanda dan Inggris.

Dalam perjanjian tersebut, salah satu pulau kecil di Kepulauan Banda, yaitu Pulau Run, diserahkan kepada Belanda yang sebelumnya dikuasai oleh Inggris. Sebagai gantinya, Inggris mendapatkan Nieuw Amsterdam yang sebelumnya dikuasi oleh Belanda.

Perebutan yang diakhiri dengan Perjanjian Breda ini terjadi karena Belanda menginginkan pala yang banyak dihasilkan di Pulau Banda itu.

Sejarah penting seperti ini yang ingin diangkat kembali lewat film dokumenter Banda The Dark Forgotten Trail yang diproduseri oleh Sheila Timothy dan disutradarai oleh Jay Subiakto. Film berdurasi 94 menit ini ditulis skripnya oleh Irfan Ramli.

Selain mengangkat kejayaan Pulau Banda karena palanya, film dokumenter ini juga mengangkat kisah kelam yang pernah terjadi di pulau yang terletak di Maluku tersebut.

Genosida pertama di Indonesia terjadi di Pulau Banda ketika VOC datang. Kejadian tersebut mengakibatkan kegaduhan besar di Banda hingga banyak warga asli yang memutuskan untuk bersembunyi hingga migrasi.

Menurut Irfan, sejarah kelam itu seharusnya dijadikan pelajaran untuk saat ini. Lihat bagaimana orang-orang bisa beradu karena perebutan lahan seperti sama dengan terjadi kala itu antara VOC dan warga Banda.

“Lihat sejarah, kekayaan alam bisa merusak ketenangan warga Banda. Seharusnya kita bisa belajar dari sejarah,” kata Irfan dalam acara Rappler Talk: Di balik film Banda The Dark Forgotten Trail yang diadakan di Go-Work Co-Working Space, Jakarta Pusat, pada Kamis, 20 Juli.

Sesuai dengan tekad dari sang produser, film ini memiliki pesan penting bagi setiap penontonnya. Pesan tersebut sekilas dibagikan oleh Sheila.

“Sejarah itu penting, dan harus ada impact-nya untuk masa kini,” ujar Sheila yang turut menjadi salah satu narasumber bersama Irfan dan Jay.

Sheila sendiri mengaku bahwa target dari film ini adalah anak muda. Tetapi, ia juga tak memungkiri bahwa film dokumenter nyatanya kurang disukai oleh target pasarnya. Meski demikian, ia mengatakan tak akan menyajikan film yang penuh sejarah ini dalam bentuk fiksi.

“Kalau film ini dibuat fiksi, akan ada beberapa segmen yang tidak bisa dimasukkan dalam film fiksi. Maka dari itu kami pilih dokumenter,” ujar Sheila yang pernah menyutradarai film layar lebar seperti Pintu Terlarang.

Jay yang memiliki peran sebagai sutradara, menambahkan bahwa salah satu lagu dari band indie, yaitu Barasuara, akan menjadi salah satu lagu pengiring dalam film ini. Alasannya, karena lagu tersebut cocok dan banyak disukai oleh anak muda saat ini.

“Saya sendiri senang dengan band indie. Mereka sangat orisinal, punya warna sendiri, dan liriknya sangat cocok dengan film ini,” kata Jay.

Selain Barasuara, narasi Bahasa Indonesia dari film ini akan diisi oleh aktor Reza Rahadian. “Pengisi narator buat saya enggak bisa main-main. Karena ada ironinya, ada penekanannya juga,” kata Jay.

Untuk kamu yang mau nonton film Banda: The Dark Forgotten Trail ini, Film ini telah rilis pada 3 Agustus 2017 dan bisa dinikmati di bioskop nasional.

Berikan komentar anda disini..