Home People Who Inspire Mario F Lawi: Dari Dongeng Ayah, Festival Sastra, Hingga Ekaristi

Mario F Lawi: Dari Dongeng Ayah, Festival Sastra, Hingga Ekaristi

520
0
SHARE

Nama Mario F Lawi tentu sudah akrab di telinga para penikmat sastra Nusa Tenggara Timur.

Puisi-puisinya sudah pernah dipublikasikan di beberapa surat kabar seperti Kompas, Koran Tempo, Sinar Harapan, Bali Post, Sumut Pos, Pos Kupang, Victory News dan Flores Pos, juga dimuat dalam sejumlah buku festival kepenulisan seperti Tuah Tara No Ate (TSI IV, 2011), Sauk Seloko (Pertemuan Penyair Nusantara VI Jambi, 2012), Through Darkness to Light (UWRF 2013), Senja di Kota Kupang (Kantor Bahasa NTT, 2013), serta sejumlah jurnal dan buletin sastra. Penyair kelahiran Kupang, 18 Februari 1991 ini sedang mempersiapkan skripsinya. Di tengah-tengah kesibukannya mempersiapkan buku kumpulan puisi terbaru yang berjudul Ekaristi, Basodara.com berkesempatan mewawancarai Mario.

Pemilik nama lengkap Mario Ferdinandus Lawi ini menceritakan pengalaman yang membuatnya menulis puisi seperti sekarang. Ketika dia masih kecil, ayahnya sering menceritakan dongeng-dongeng tradisional. Selain itu, dia juga membaca buku-buku kisah Alkitab milik ibunya di rumah. Kata Mario, “Di SD kelas 6, saya pertama kali membacakan puisi Chairil Anwar yang berjudul ‘Aku’ sebagai materi ujian praktik Bahasa Indonesia. Semasa SMP, saya mulai membaca sejumlah cerpen dan puisi di rubrik Imajinasi Harian Pos Kupang yang biasa dibeli oleh ayah. Ada beberapa tulisan yang saya anggap menarik. Saya pun mulai mencoba menulis puisi berdasarkan beberapa puisi yang saya baca tersebut.”

Mario semakin tertarik pada puisi ketika melanjutkan SMA di Seminari Menengah Santo Rafael, Kupang. Dia mengakui, akses terhadap bahan bacaan di sana agak mudah karena adanya tradisi akademis yang berkembang di seminari. Iklim belajar yang tercipta di antara teman-teman sendiri juga memberikan dorongan baginya. Dia mengenal para penulis Indonesia lewat buku-buku puisi di perpustakaan seminari, juga lewat beberapa koran yang ada di perpustakaan seperti Media Indonesia dan Kompas.

Setelah tamat SMA (Seminari Menengah), Mario tidak melanjutkan ke Seminari Tinggi karena alasan kesehatan dan memilih untuk melanjutkan studi di Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Nusa Cendana. Di tahun awal di bangku kuliah, dia bersama beberapa orang penulis yang ada di Kota Kupang mendirikan Komunitas Sastra Dusun Flobamora. Bagi Mario, “Saya percaya, selain bahan bacaan yang saya cerna, pengalaman berkomunitas jugalah yang membentuk saya seperti sekarang ini.”

Pada awal pembentukannya, Komunitas Sastra Dusun Flobamora membahas persiapan menjelang Temu Sastrawan Indonesia IV 2011 di Ternate pada akhir bulan Oktober. Dari karya-karya yang dikirim, karya yang lolos adalah karya Mario dan karya temannya, Ishack Sonlay. Puisi mereka dinyatakan lolos seleksi oleh para kurator. Mario bercerita, “Di festival tersebut, kami mulai membuka jaringan dengan teman-teman dari berbagai daerah dan saling bertukar informasi. Akses terhadap harian Kompas, harian nasional pertama yang menerbitkan dua puisi saya, juga saya peroleh akibat menjaga hubungan baik dengan teman-teman yang saya temui di Festival TSI 2011.” Lanjutnya, “Beberapa festival yang saya ikuti setelah TSI, saya percaya, semakin membuka cara pandang saya terhadap dunia kepenulisan pada umumnya dan membuat saya termotivasi untuk membagikannya dengan teman-teman di Dusun Flobamora khususnya, dan di NTT pada umumnya.”

Sepulangnya dari Ternate, buku puisi pertama Mario yang berjudul Poetae Verba diterbitkan tahun 2011. Menyusul buku puisi kedua, Memoria, yang terbit tahun 2013, dan saat ini, Mario sedang mempersiapkan kumpulan puisi ketiganya yang berjudul Ekaristi, yang direncanakan akan terbit pertengahan tahun 2014 ini. Puisi-puisi Mario memiliki ciri khas tersendiri, karena dia mengeksplorasi imaji biblikal yang bersumber dari Alkitab, juga dengan menggarap sejumlah tema lokalitas yang dia peroleh dari ayah, ibu dan keluarga besarnya.

Dari sekian banyak pencapaian-pencapaian Mario, pencapaian awal yang baginya merupakan monumental dalam perjalanan kepenulisannya adalah lolos sebagai salah satu peserta Temu Sastrawan Indonesia IV di Ternate pada tahun 2011. Tiga puisi miliknya dimuat di buku bunga rampai festival tersebut yang mengangkat tema religius. Selain itu, sejumlah puisinya yang juga dimuat di Harian Kompas dan Koran Tempo adalah juga sebuah pencapaian yang membuatnya semakin dikenal. Pada tahun 2013, saya juga diundang dalam Festival Makassar International Writers Festival dan Ubud Writers and Readers Festival yang diselenggarakan di Makassar dan Ubud. Mario juga diundang ke Bienal Sastra Salihara di tahun yang sama, berkat puisi-puisi yang ditulisnya. “Semua yang saya capai, mungkin merupakan buah dari ketekunan saya membaca, ketekunan menjalin hubungan baik dan menjaganya dalam hidup berkomunitas, juga memelihara hubungan baik dengan orang-orang yang saya temui selama festival, serta menentukan apa yang ingin saya sampaikan melalui tulisan-tulisan saya,” begitu kata Mario.

Penghargaan yang Mario terima karena menulis puisi adalah undangan untuk menghadiri festival-festival sastra, seperti Temu Sastrawan Indonesia IV 2011 Ternate, Pertemuan Penyair Nusantara VI 2012 Jambi, Temu I Sastrawan NTT 2013, Ubud Writers and Readers Festival 2013, Makassar International Writers Festival 2013, Bienal Sastra Salihara 2013 dan Temu Sastra Mitra Praja Utama 2013 Banten. Selain itu, Pada awal tahun 2014, buku kumpulan puisinya, Memoria, dipilih sebagai salah satu dari empat buku sastra yang direkomendasikan 2013 oleh Majalah Tempo.

Ketika ditanya mengenai penulis yang paling berpengaruh baginya, Mario menjawab, “Saya membaca karya banyak penulis, jadi saya tidak tahu siapa yang paling berpengaruh. Kahlil Gibran saya kenal sejak duduk di bangku SMPK St. Theresia. Belakangan saya juga intens membaca karya-karya para penyair Indonesia seperti Hasan Aspahani, Sapardi Djoko Damono, Goenawan Mohamad, Joko Pinurbo, dan sejumlah nama lain. untuk penyair dunia, saya menyukai Walt Whitman. Di Seminari, saya juga mengenal banyak nama-nama prosais, baik nasional maupun dunia, seperti dari Sutan Takdir, Ahmad Tohari, Puthut EA, Seno Gumira Ajidarma, Agus Noor, Indra Tranggono, Ayu Utami, F. Rahardi, Nawal El-Saadawi, Kawabata Yasunari, Eiji Yoshikawa, Shakespeare, dan sejumlah nama lain.”

Akhirnya, Mario berpesan, “Jadilah pembaca yang kritis dan teliti. Penulis yang baik adalah pembaca yang baik. Jadikan sejumlah bahan bacaan yang dianggap baik sebagai acuan untuk menulis, menulislah, dan jangan pernah takut salah.”

Ini dia bincang-bincang santai kami dengan Mario.

Coba gambarkan diri Mario dalam sebuah kalimat.

Pendiam yang lebih suka menulis untuk menyampaikan sesuatu.

Hal menakjubkan yang pernah terjadi dalam hidup?

Belum ada.

Apa yang biasanya Mario lakukan untuk menghabiskan waktu luang?

Menulis, membaca, dan mendengarkan musik. Saya bahkan bisa mendengarkan musik selama berjam-jam tanpa melakukan hal lain. Saya menyukai Coldplay, Noah (sejak masih bernama Peterpan), Alter Bridge, Daughtry, dan David Cook.

Pengalaman paling menegangkan di hidup Mario yang pernah dialami?

Belum ada.

Pernah dengar basodara.com sebelumnya? Kalo iya, pendapat Mario tentang web ini?

Pernah. Saya kebetulan dijerumuskan Ayu (salah satu kontributor Basodara.com—red.) lewat mention-nya di akun Twitter. Basodara.com adalah salah satu contoh semangat baik yang dimiliki anak-anak muda NTT. Tulisan-tulisannya tentang kondisi alam hingga tokoh-tokoh inspiratif dikemas dengan bahasa yang mudah dicerna.

Masukan untuk basodara.com?

Semoga semangat yang baik ini bisa tetap dipertahankan! 🙂

Pesan dan kesan?

Pesan: Semoga Basodara.com bisa tetap jadi cahaya untuk anak-anak muda NTT. Terima kasih untuk perhatian teman-teman yang ditunjukkan dalam web ini.

Kesan: Saya bahagia! Terima kasih untuk momen ini. Hahaha.

 

Terima kasih banyak Mario untuk inspirasinya. Basodara, seperti kata Mario, jadilah pembaca yang kritis dan teliti, karena penulis yang baik adalah pembaca yang baik. Jangan lupa ya!

Berikan komentar anda disini..