Home Culture Mengenal Semana Santa, Tradisi Paskah di Larantuka

Mengenal Semana Santa, Tradisi Paskah di Larantuka

856
0
SHARE

Pulau Flores tidak hanya dikenal dengan keindahan alamnya, tapi juga dengan wisata religi yang terasa sayang untuk dilewatkan. Semana Santa adalah salah satunya. Tradisi keagamaan yang sudah diwariskan sejak ratusan tahun silam. Setiap tahun, sekitar satu minggu menjelang perayaan paskah, umat Katolik di Larantuka melaksanakan tradisi ini. tidak jarang pula para peziarah dari berbagai kota di Indonesia bahkan hingga manca negara datang untuk menyaksikan sekaligus mengikuti prosesi ini.

Semana Santa berasal darti kata semana (pekan) dan santa (suci), yang artinya adalah pekan suci. Selama satu pekan menjelang paskah, diadakan beberapa ritus keagamaan yang dimulai dari Rabu Abu, Kamis Putih, Jumat Agung, Sabtu Suci hingga Perayaan Paskah.

Rabu Trewa

Rabu Abu, atau yang disebut Rabu trewa dalam Bahasa setempat adalah prosesi dimana para umat berkumpul di kapel dan melaksanakan ibadah mengenang peristiwa pengkhianatan Yudas Iskariot yang menyebabkan ditangkapnya Yesus di Taman Getsemani.

Prosesi Rabu Trewa di Larantuka memang sangat terasa gema dan khidmatnya. Rabu Trewa dimulai sejak pagi hari, yaitu pelaksanaan ibadah yang sudah diatur secara baku dan dilaksanakan secara turun temurun oleh suku – suku yang ada. Ada beberapa suku yang berperan penting dalam pelaksanaan Semana Santa, antara lain suku Kabelen, Suku Lewai, Suku Raja Ama Koten (Diaz Viera Da Godinho), Suku Kea Alyandu, Suku Ama Kelen De Rosary, Suku Maran, Suku Sau Diaz, Suku Riberu Da Gomes, Suku Lamuri, Suku Mulowato, Suku Lewerang dan suku Kapitan Jentera.

Pada malam harinya, seluruh kota Larantuka terdengar gaduh di mana-mana dengan memukul drum, menarik seng di jalan-jalan dan sebagainya sebagai tanda untuk mengingatkan akan gaduhnya prajurit dan serdadu memasuki Taman Getzemani menangkap dan menyeret Yesus.

Kamis Putih

Pada Kamis Putih dalam pelaksanaan Semana Santa, dilakukan pemasangan turo (pagar lilin) di sepanjang rute prosesi. Upacara dilakukan dalam keadaan hening, dimana seluruh kota Larantuka mengalami kebisuan karena segala aktiitas dihentikan dan bunyi – bunyian ditiadakan. Selain itu, pada kamis siang juga diadakan upacara “muda tuan,” yaitu upacara pembukaan peti yang telah ditutup selama satu tahun. Peti ini dibukan oleh petugas khusus yang sudah diangkat melalui sumpah. Patung Tuan Ma adalah patung Bunda Maria, sedangkan Tuan Ana adalah patung Yesus Kristus. Patung Tuan Ma dimandikan dan dibalut dengan pakaian berkabung berupa sehelai mantel beludru hitam, ungu atau biru. Setelah itu, umat diberi kesempatan untuk berdoa, menyembah, bersujud memohon berkat dan rahmat.

Jumat Agung

Ini adalah puncak dari pelaksanaan Semana Santa, sebab pada hari ini dilaksanakan prosesi arak – arakan mengelilingi kota Larantuka. Prosesi arak – arakan ini adalah untuk mengenang proses pelaksanaan penyaliban Yesus Kristus, yang dimulai dengan penyiksaan dan pemanggulan salib menuju Bukit Golgota. Tuan Ana menggambarkan Yesus yang sedang mengalami penderitaan memikul salib, sedangkan Tuan Ma menggambarkan Bunda Maria yang sedang berduka melihat Putranya memanggul beban dosa umat.

Dalam arak – arakan ini, ada delapan perhentian agung (armada) yang menjadi titik pemberhentian umat. Kedelapan armia tersebut adalah :

  1. Armida suku Mulawato (Pantai Besar) di Kelurahan Lohayong dan Pohon Sirih.
  2. Armida umat Sarotari di Pohon Sirih dan Balela, yang berpelindung Amu Tuan Meninu (Tuan Bayi Anak).
  3. Armida Suku Amakelen dan ama Hurint Balela di Kapela St. Philipus Balela
  4. Armida Suku Kapitan Jentera dengan pelindung Amu Tuan Trewa (Tuan Terbelenggu).
  5. Armida Suku Riberu da Gomes di depan Kapela Tuan Ma.
  6. Armida suku Sau/Diaz di Kapela Benteng Daud/Pohon Sirih dengan pelindung St. Antonius dari Padua.
  7. Armida keluarga Raja Diaz Viera de Godinho di Armida Kuce di depan istana Raja Larantuka
  8. Armida suku Amaleken Lewonama di Kapela Tuan Ana. Di Armida ini, prosesi berarak kembali menuju Gereja Katedral sebagai akhir dan pusat dari prosesi Jumat Agung. Di armida ini juga Yesus diturunkan dari Salib dan diletakkan pada pangkuan Bunda Maria. Di sini akhir dari sengsara Yesus, dimana seluruh umat dihantar Yesus masuk ke dalam Gereja Reinha Rosari Larantuka.

Setelah puncak acara pada jumat agung dilakukan, pada hari berikutnya yaitu sabtu suci tidak ada kegiatan yang terlalu istimewa untuk dilakukan. Pada hari ini semua patung diarak kembali ke rumahnya masing-masing. Sesuai tradisi sebelum patung Tuan Ma dan Tuan Ana masuk ke rumah mereka, semua patung kudus lainnya sudah harus masuk rumah kediamannya masing-masing kecuali patung Tuan Menino yang masih berada dalam perjalanan di selat Gonsalu. Setelah pengembalian semua patung ke rumah mereka, semua umat mulai bersiap-siap untuk mengikuti perayaan Ekaristi Malam Paskah sebagai sumber dan puncak iman.

Larantuka dikenal dengan nama kota Reinha Rosari, yang dalam Bahasa Portugis berarti Kota Ratu, Kota Maria. Kota ini memiliki pengaruh Protugis yang kuat sekaligus kental, serta merupakan salah satu tempat berkembangnya agama Katolik di Indonesia. Semana Santa adalah tradisi yang diwariskan oleh bangsa Portugis. Ritual keagamaan yang terakulturasi dengan budaya setempat akhirnya menjadi tradisi yang terus menerus dilaksanakan oleh masyarakat Larantuka selama kurang lebih lima abad ini.

 

#Basodara punya komentar?, silahkan disampaikan langsung di kolom komentar di bawah ini 🙂

Berikan komentar anda disini..