Home People Who Inspire Rafael Djumantara: Karena Padi itu Suci, Tiada yang Ilahi Selain Bertani

Rafael Djumantara: Karena Padi itu Suci, Tiada yang Ilahi Selain Bertani

357
0
SHARE

Basodara berkesempatan untuk ngobrol singkat dan padat makna bersama Rafael Djumantara, salah seorang pegiat di bidang pertanian. Sebelum wawancara dimulai, Rafael, panggilan akrabnya, meminta Basodara untuk membaca sekilas tentang dirinya.

I’m only human. Lived in Tangerang, but somehow left parts of my heart somewhere else. I’m just another human being, just like you. Just like you.

You come into this world and your point of view is narrow. If you’re lucky, it’s safe and loving place. As you grow, your view of the world broadens and you struggle to find your place within it. If you’re strong, you’ll learn to survive it.

Over time you may not decipher the mysteries of the universe, but you can make your peace with that and find strength in what you know to be true. If you’re wise enough to approach this seeming impasse with humility, you may even find a sustained happiness.

Then one day you meet a girl (or a boy, or something, or anything), and she throws a wrench in the gears. She takes away your understanding of the world you live in. She takes away your belief of what you knew to be true. Such thing is bound to bring you low.

So you search for the things that brought you happiness in the past. Perhaps, the things that comforted you with their sense of function and order. You hope that over time. Over time. Because or else, it would be disaster.

The disasters are all about continuity, about finding ways of enduring in the face of hopelessness; what we do deals in the need to find ways of telling truth in a postmodern world of rumbling emotional chaos. My life are about both; about getting on with things as they are, bearing the unbearable and giving a true account of it.

So this is my life.

I speak only of myself since I don’t wish to convince, I have no right to drag others into my river, I oblige no one to follow me because everybody should live his/her life in his/her own way.

But if you wish to grab some beers with me, let me tell you a secret, a tale, a story, about several bittersweet moments I called life.

Halo, Rafael! Bisa perkenalkan diri ke pembaca Basodaracom?

Halo, Basodaracom! Nama saya Rafael Djumantara. Lahir di Bogor 24 tahun silam, dari ibu berdarah Sabu dan ayah berdarah Sunda. Saya tumbuh dan besar di Tangerang dan sekarang bekerja di Jakarta.

 

Lagi sibuk apa nih sekarang?

Malam ketika saya diwawancara Ayu (salah satu kontributor Basodaracom–red.), saya habis lembur ngerjain laporan kerja, habis kunjungan kerja dari Kupang beberapa minggu lalu. Tahu, ‘kan, hidup di Jakarta emang keras euy. Sekalian curcol ya, hahaha.

 

Hahaha. Ngomong-ngomong, Rafael ini kerjanya di bidang pertanian, ‘kan?

Iya dong. Kuliah dan kerja nyemplung ke pertanian. Kepalang basah hahaha. Dari awal SNMPTN pas lulus SMA, saya sih asal milih aja jurusan dan kampus yang deket rumah. Ya udah deh, kecemplung. Sama sekali tidak kepikiran bakal sampai jadi kayak sekarang. Malahan sampai sekarang sudah kepalang basah, hahaha. Cita-cita dalam skala besar sih belum ada, tapi minimal bisa bantu-bantu ibu berkebun di pekarangan rumah lah.

 

Wah, ternyata ya. Berarti kunjungan kerja ke Kupang itu ada sangkut-pautnya dengan pertanian di sana?

Ada banget. Jadi di sana ada tim, anak buah saya, mereka terjun langsung ke lapangan untuk pengembangan pertanian di beberapa wilayah, dari Kabupaten Kupang, Timor Tengah Selatan (TTS), Timor Tengah Utara (TTU), Malaka, hingga Belu. Jadi, kemarin saya datang buat kontrol kerjaan mereka di lapangan, apakah sudah sesuai target dan prosedur dari perusahaan atau tidak, ada kendala apa, dan bagaimana solusinya. Oh ya, pertanian di sini di bagian benih, dari padi hingga hortikultura (sayuran) dan beberapa produk obat serta pestisida. Kemarin saya baru sampai ke SoE saja, sayang sekali belum sampai ke Atambua dan Malaka karena keterbatasan waktu dan sarana. Di Pulau Timor, saya penasaran sama Wini, denger-denger itu dekat perbatasan dan pantainya bagus.

 

Menurut Rafael, apa yang menarik dari pertanian di NTT, khususnya tempat-tempat yang sudah didatangi?

Sejauh ini, yang saya lihat di Kabupaten Kupang dan TTS, untuk musim-musim kemarau, cuaca benar-benar panas dan gersang. Hal ini tentu jadi faktor utama dari pertanian di Kabupaten Kupang yang mayoritas masih mengandalkan tadah hujan, belum semua wilayah mendapat suplai air yang cukup. Saya dengar Bendungan Raknamo akan mulai beroperasi, semoga saja bisa mencukupi pengairan pertanian di Kupang. Keunggulan yang saya lihat dibandingkan di Banten, tempat tinggal saya, di NTT justru lebih maju dan cepat alih teknologinya. Misalnya kelompok-kelompok tani sudah beradaptasi menggunakan gerandong/mesin panen, suatu hal yang tidak saya sangka, karena di Jawa pun penggunaan alat tersebut belum banyak dan merata. Dan saya salut dengan rasa kekeluargaan di antara petani-petani, dalam artian mereka tanam serempak dan panen juga dalam waktu serempak. Hal ini bisa mempersulit penyebaran hama dan penyakit di lahan mereka. Dan ya, khususnya untuk jagung dan padi, NTT punya potensi yang teramat besar. Saya dengar di Manggarai terutama. Semoga bisa ditugaskan ke sana. Hehehe.

 

Tadi katanya ke sana untuk kontrol kerjaan di lapangan dan pertanian yang menjadi fokus itu di bagian benih, padi sampai sayuran. Benihnya ini didatangkan dari daerah lain atau memang menggunakan benih lokal di Timor?

Oh… Sementra masih dari Jawa. Karena jujur saja untuk varietas lokal di Timor secara kualitas masih belum bisa bersaing dengan varietas lain yang biasa ditanam di Jawa. Misalkan saja benih padi, dari zaman dulu sampai sekarang sepertinya satu nusantara ini untuk padi mayoritas masih pakai benih varietas Ciherang yang berasal dari Jawa. Adapun yang lain, seperti padi Inpari, itu juga dari Jawa. Sudah sampai Inpari 32 atau berapa ya, saya lupa. Intinya sudah sekian generiasi itu varietas benih. Kebayang, ‘kan, berapa lama hal-hal seperti itu mengakar di benak petani dari generasi ke generasi. Hehehe.

 

Oh, begitu. Kalau dari kunjungan kemarin ke NTT, apakah ada peningkatan dalam perkembangan pertanian di Timor dibanding kunjungan yang sebelumnya?

Dalam konteks kerja, ini kunjungan kedua saya. Sebelumnya, saya pergi di bulan April lalu. Peningkatan jelas ada, walaupun kecil. Di situlah dibutuhkan fokus dari penyuluh-penyuluh di instansi pemerintah di bidang pertanian. Ini kendala yang saya maksud. Beberapa dinas terkait yang saya kunjungi belum sepenuhnya optimal dalam bekerja. Sebut saja oknum, tapi ya… Saya kira butuh perubahan mindset secara menyeluruh, baik di pusat maupun di daerah.

 

Secara keseluruhan, apa potensi pertanian di NTT menurut Rafael?

Dari yang saya lihat sih, padi di Manggarai (Flores), bawang merah di Rote dan Sumba. Bawang ini malah bisa diekspor ke Timor Leste lho lewat jalur darat, dekat pula. Kebetulan kemarin pas saya datang, Pak Menteri Pertanian, Amran Sulaiman, juga datang ke Malaka untuk membahas ekspor bawang ke Timor Leste. Untuk jagung, saya kira sudah merata menyebar di seluruh NTT. Seperti yang kita tahu, fokus pertanian dari pemerintah pusat di era Jokowi ‘kan Upsus Pajale atau Upaya Khusus untuk Padi, Jagung, dan Kedelai, di mana bantuan dan dana digelontorkan besar-besaran lewat APBN. Bahkan untuk pengawasannya di daerah ‘kan dibantu oleh TNI lho. Sayang sekali kalau hal ini tidak dimaksimalkan oleh pemerintah daerah.

 

Apa saran, masukan, atau pesan dari Rafael untuk teman-teman muda yang sedang berkecimpung di dunia pertanian?

Kemarin sebetulnya di acara pameran di Pemkab Kupang, Oelamasi, saya ‘kan ketemu petani-petani yang berkunjung ke booth/stand kami. Nah, yang saya lihat adalah sepertinya umumnya permasalahan di bidang pertanian. Bidang ini identik dengan pekerjaan kotor-kotoran dengan tanah, lekat pula dengan kemiskinan. Betul, itu hal yang tak bisa saya sangkal. Jadi, apa maksud saya? Pendidikan. Putra-putri daerah NTT yang sedang mengenyam pendidikan di Jawa, ingatlah kampung halaman kalian. Indonesia bukan hanya Jakarta, bukan hanya Jawa. Selama ini konsep yang dilakukan pemerintah ‘kan memboyong putra-putri daerah untuk datang ke Jakarta dan diberikan pelatihan/seminar selama beberapa hari. Saya sangat tidak setuju. Setelah mereka kembali ke daerah, mana gaungnya? Belum tentu ada. Ompong. Logika ini yang harus kita balik. Mereka, orang-orang jenius dari pusatlah yang harus datang ke daerah. Lihat dan rasakan sendiri seperti apa kesusahan buruh tani yang diupah Rp 25.000/hari. Bahkan uang segitu tidak cukup buat ongkang-ongkang kaki ala aktivis-aktivis yang diskusi sambil menyesap segelas kopi di gerai kopi mahal di ibukota. Aktivis-aktivis itu, mereka para blablabla, pro-rakyat, pro-petani, apalah namanya, harus berani dan mau turun ke daerah. Karena ya, talk is cheap. Everybody knows. Hehehe. Sorry sounds bitter, but I’m honest.

 

Baiklah, Rafael. Ada kutipan khusus darimu tentang pertanian?

Ada. Tapi bikinan sendiri. hehehe. ‘Karena padi itu suci, tiada yang ilahi selain bertani.’

 

Mantap! Nah, sekarang pertanyaan yang lebih ringan dan harus dijawab dengan cepat. Siap?

Siap!

 

Gambarkan dirimu dalam dua kalimat.

A day without sun. A night without stars.

 

Dua orang yang paling berpengaruh dalam hidupmu?

Ibu dan almarhum ayah.

 

Dua tempat di NTT yang paling ingin kamu kunjungi?

Ruteng dan Labuan Bajo! Anyone would accompany me? 😀

 

Dua makanan/minuman khas NTT yang kamu rindukan?

Moke dan jelaslah, se’i babi!

 

Dua hal paling membanggakan dalam hidupmu?

Waktu saya wisuda dan ibu ada di samping saya. Waktu saya bisa berdiri tegar pas pemakaman ayah saya.

 

Dua buku yang sedang/sudah selesai kamu baca dalam satu bulan terakhir?

‘Beauty & Sadness’ oleh Yasunari Kawabata dan ‘The Varieties of Scientific Experience’ oleh Carl Sagan.

 

Lima daftar lagu yang sedang kamu dengarkan akhir-akhir ini?

  1. Cigarettes After Sex – Flash
  2. Desire – Under Your Spell
  3. Lana Del Rey – Born to Die
  4. Senartogok – Maka Berbicaralah Zarathustra
  5. Fazerdaze – Shoulders

 

Kesan dan pesan untuk web Basodaracom, dong.

Updatenya lebih sering, terutama di bagian wawancara begini. Siapa tahu saya nemu jodoh, cieeee hahaha. Tampilan sudah bagus, tapi kalau dibuka dari mobile masih agak susah, coba diperbaiki. Seperti beberapa proyekan website komunitas yang dijalankan sama beberapa teman saya, pesan saya simpel: jangan cepat bosan dan jangan cepat bubar. Fight for your passion on it! Vivre sans temps mort. YOLO!

 

Terima kasih telah meluangkan waktu untuk bincang-bincang singkatnya, Rafael! Selamat melanjutkan pekerjaan!

Makasi untuk waktu dan kesempatannya, Basodaracom!

 

 

Nah, Basodara, demikian ngobrol-ngobrol singkat kami dengan Rafael. Kalau kamu tertarik untuk berinteraksi dengannya, Rafael bisa dikontak di:

Instagram : towardnothingness

Surat elektronik: rafaeldjumantara@gmail.com

 

Semoga bincang-bincang singkat ini bisa menginspirasi kita semua ya! Apakah ada sahabat Basodara yang tertarik dengan bidang pertanian? 🙂

Berikan komentar anda disini..