Home Uncategorized 10 Pertanyaan yang Sejak Lama Pengin Kalian Ajukan Kepada Penderita Skizofrenia

10 Pertanyaan yang Sejak Lama Pengin Kalian Ajukan Kepada Penderita Skizofrenia

122
0
10-pertanyaan-yang-sejak-lama-pengin-kalian-ajukan-kepada-penderita-skizofrenia

PERINGATAN: ARTIKEL INI MENGANDUNG UNSUR SELF-HARM.

Pada saat itu, Laura* yang masih 18 tahun habis nongkrong bareng teman-teman ketika mendengar bisikan yang menyuruhnya membekap kepala dengan kantong plastik. Suara gaib itu terus mengusiknya hingga dia melakukan perintah mereka.

Laura rupanya mengidap skizofrenia paranoid. Gangguan kejiwaan ini umumnya ditandai dengan gejala halusinasi dan delusi. Laura awalnya bingung bisikan itu berasal dari mana, dan mengapa tambah lama tambah keras suaranya.

“Saya kira ada orang lain di ruangan itu,” kenang perempuan 21 tahun tersebut. “Rasanya kayak saya enggak benar-benar ada di sana.”

Laura menyobek kantong plastik ketika hampir pingsan. Dia meminta pertolongan teman-temannya, yang kemudian membawanya ke rumah sakit.

Dia mengalami lebih dari 20 episode psikotik selama berbulan-bulan berikutnya. Kondisinya membaik setelah dia berobat ke terapis dan meminum obat sesuai gangguan yang diidapnya. Laura pun menjalani program training untuk menjadi karyawan di sebuah perusahaan. Seperti gangguan kejiwaan lainnya, skizofrenia paranoid kerap disalahartikan dalam budaya populer. Itulah sebabnya kami ingin mendengar langsung dari Laura, seperti apa sebenarnya hidup dengan kondisi yang mengaburkan penilaiannya terhadap jati diri dan dunia nyata.

Laura menghadap belakang

Laura menghadap belakang.

VICE: Ada berapa banyak orang yang tinggal dalam pikiranmu?
Laura: Mengidap skizofrenia tak serta-merta membuatmu memiliki kepribadian ganda. Saya masih seperti dulu, hanya saja ada lima suara berbeda yang memenuhi pikiranku. Kalian cenderung menjauhkan diri dari tubuh [ketika memiliki kondisi ini]. Saya dulu sering menyilet paha dengan cutter karena penasaran. Saya cuma kepengin tahu ada berapa lapis lemak di dalam paha, dan seperti apa bentuk urat yang memompa darah.

Apa saja yang dikatakan suara-suara itu?
Dari lima suara, ada suara anak kecil seumuran lima tahun. Dia biasanya membelaku setiap suara-suara lain menghinaku. Lalu ada suara laki-laki penurut. Tiga suara lainnya adalah perempuan. Yang satu sangat dominan, sedangkan sisanya mengikuti apa saja yang suara dominan itu katakan.

Kita bisa menilai psikosis layaknya lampu merah. Hijau berarti suara-suaranya hanya ngobrol biasa. Kuning berarti suaranya mulai menjelek-jelekkan diriku. Merah sudah masuk fase berbahaya karena bisa mengancam nyawa, kayak “cepat sulut tanganmu dengan rokok”.

Apakah kamu takut dengan dirimu sendiri?
Saya pernah hampir bunuh diri karena takut enggak bisa melalui episode psikosis suatu saat nanti, padahal saya merasa enggak memiliki kecenderungan bunuh diri yang tinggi. Beberapa kali saya mencoba mengakhiri hidup ketika kambuh, tapi itu pun enggak benar-benar serius melakukannya. Saya pernah mencampur drug cocktail yang saya tahu enggak mematikan. Pada saat-saat seperti itu, saya sadar apa yang saya lakukan salah, tapi itu juga satu-satunya cara menghentikan suaranya kalau saya tidak bawa obat.

Sejauh ini, saya selalu meminta bantuan orang lain ketika situasinya semakin parah. Ibuku nangis kejer saat tahu saya sering mencoba bunuh diri. Orang depresi biasanya berpikiran takkan ada yang merindukan mereka. Saya enggak akan pernah melupakan reaksi ibu. Saya tak tega membuat ibu sedih.

Kapan waktu yang tepat memberi tahu pacar kalau kamu mengidap skizofrenia?
Saya cukup terbuka soal ini, kecuali di kantor. Meski begitu, saya enggak langsung memberi tahu orang saat itu juga. Biasanya saya memulai pembicaraan dengan mengaku depresi. Kalau mereka mengalihkan topik, itu artinya mereka takkan mau mendengar cerita saya tentang skizofrenia.

Seberapa sulit menjalin hubungan denganmu?
Kayaknya enggak terlalu sulit untuk pacarku. Saya sangat komunikatif, dan pacar cepat menyadari setiap saya kambuh. Saya akan berbicara kekanak-kanakan atau bersifat apatis.

Laura menggenggam lukisan [kiri], dan Laura menyembunyikan wajah dengan kedua telapak tangannya [kanan]

Laura menggenggam lukisan [kiri], dan Laura menyembunyikan wajah dengan kedua telapak tangannya [kanan].

Bagaimana dengan teman-temanmu? Apakah kondisi ini membuat mereka ketakutan?
Enggak. Mereka tahu di mana saya meletakkan obat dan enggak akan meninggalkan saya sendirian [ketika mengalami psikosis]. Saat sedang bersamaku, mereka enggak akan berbisik supaya saya enggak bingung dan mengira bisikan itu datang dari pikiran. Saya menjauhi orang-orang yang mengatakan suaranya enggak nyata ketika saya kambuh. Bagiku, suara-suara itu beneran ada. Lagi pula, saya lupa gimana caranya menggunakan akal sehat setiap pikiran dipenuhi delusi dan halusinasi.

Seperti apa pengalaman halusinasi terburukmu?
Saya sering merasa semut merayap di sekujur tubuh. Saya sangat takut semut, jadi pengalaman itu benar-benar mengerikan. Terkadang saya enggak bisa membedakan semut yang merayap di kaki sungguhan atau cuma khayalan.

Apakah kamu sulit ditebak?
Enggak sama sekali. Saya masih bisa berkomunikasi dengan orang di dunia nyata ketika mulai kambuh. Saya enggak menutup diri sepenuhnya. Saya akan memberi tahu teman setiap ada bisikan yang memaksaku untuk menyakiti diri sendiri. Suaranya sering kali penuh emosi. Rasanya lebih sakit hati dikatain payah sama suara-suara itu daripada dihina orang sungguhan.

Apa hal terburuk yang pernah kamu lakukan selama kambuh?
Membungkus kepala dengan kantong plastik. Saya belum mau mati, tapi suara-suara di kepala memaksaku untuk mengakhiri hidup. Saya tak mampu membela diri saat itu. Saya kira akan ada hal yang lebih buruk jika saya menolak perintahnya. Untung saja, saya masih bisa menyadarkan diri.

Seberapa takut kamu mengalami gejala psikotik lain?
Sangat takut. Saya sekarang “cuma” depresi, tapi gejalanya bisa bertambah buruk kapan saja. Psikosis bisa muncul baik ketika kamu sedang tertekan maupun saat kamu kelewat bahagia. Saya pernah kambuh setelah menerima SIM. Untuk pekerjaan saat ini, saya harus bisa bekerja di bawah tekanan dan saya takut enggak sanggup melakukannya suatu saat nanti.

Jika saya mengalami breakdown, saya akan izin enggak masuk kerja dan menyesuaikan dosis obat. Saya memberi tahu atasan kenapa enggak bisa masuk hari itu. Kebanyakan orang enggak memahami kalau fisik yang sehat belum tentu kondisi mentalnya juga sehat. Psikiater bilang saya bisa bekerja tanpa masalah, tapi saya yakin rekan kerja akan bersikap hati-hati di depan saya [jika mereka tahu yang sebenarnya].

Yang saya takuti adalah suatu saat nanti obat tak lagi mampu meredakan gejalanya. Saya takut enggak ada lagi yang bisa mengobatiku.

*Nama narasumber telah diubah untuk melindungi privasinya.

Artikel ini pertama kali tayang di VICE Germany.