Home Uncategorized Aksi TNI Perangi Separatisme di Papua Barat Seminggu Terakhir Tewaskan 6 Warga...

Aksi TNI Perangi Separatisme di Papua Barat Seminggu Terakhir Tewaskan 6 Warga Sipil

178
0
aksi-tni-perangi-separatisme-di-papua-barat-seminggu-terakhir-tewaskan-6-warga-sipil

Warga Kabupaten Intan Jaya, Provinsi Papua Barat hidup dalam ketakutan sejak ketegangan antara Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) versus TNI berlangsung sepekan terakhir.

Rentetan bentrok memakan korban jiwa. Yang terbaru, pendeta Gereja Kemah Injil Indonesia (GKII) Hitadipa, di Kabupaten Intan Jaya bernama Yeremia Zanambani, ditemukan tewas terbunuh di kandang babi miliknya pada Sabtu (19/9) lalu. Ada dua versi cerita antara masyarakat setempat dan tentara yang bergulir di media.

Aner Maisini, tetangga dekat almarhum, bersaksi tentara terlibat dalam pembunuhan sang pendeta. “Setelah selesai dari honai untuk kasih makan babi dan saat mau balik pulang ke rumah itulah pasukan TNI langsung menembak pendeta hingga meninggal di tempat,” kata Aner saat diwawancarai Jubi

Aner melanjutkan, Yeremia adalah korban tidak bersalah dari operasi penyisiran TNI di Hitadipa setelah insiden dua tentara tewas akibat baku tembak dengan TPNPB, beberapa hari sebelumnya.

Dilansir dari Suara Papua, TNI menuding warga Hitadipa mengambil dua pucuk senjata yang dirampas TPNPB dari TNI. Akibat mencekamnya operasi ini, para jemaat gereja dilaporkan ketakutan dan lari ke hutan, menyebabkan delapan gereja di sekitar lokasi kejadian kosong.

Kepala Penerangan Komando Gabungan Wilayah Pertahanan (Kogabwilhan) III Suriastawa memberi keterangan berbeda. Menurutnya, pembunuhan pendeta disebabkan oleh kelompok kriminal bersenjata (KKB) di Papua.

Militer berdalih ada agenda dari kelompok separatis agar terjadi pelanggaran HAM menjelang sidang umum PBB pada akhir September 2020. Presiden Joko Widodo diagendakan berpidato dalam sidang tersebut.

“Mereka [KKB] sedang mencari momen menarik perhatian di Sidang Umum PBB akhir bulan ini. Harapan mereka kejadian ini jadi bahan di Sidang Umum PBB. Saya tegaskan, ini semua fitnah keji dari KKB,” kata Suriastawa dalam keterangan resminya, dilansir dari CNN Indonesia. Sidang Majelis Umum PBB terdekat akan dilaksanakan pada Rabu minggu, 23 September, secara virtual.

KKB adalah istilah yang kerap dipakai aparat untuk merujuk aktor setiap aksi kekerasan di Papua. Aktivis HAM Veronica Koman mengatakan, istilah ini digunakan negara untuk mengecilkan gerakan pro-kemerdekaan sebagai aksi kriminal semata.

Presiden Persekutuan Gereja-gereja Baptis Papua Pendeta Sokratez Sofyan Yoman mengutuk keras pembunuhan Pendeta Yeremia. Pihaknya mencatat sudah ada dua kasus pembunuhan pendeta oleh aparat sebelum kasus Yeremia. Pertama, pada 16 agustus 2004, saat Pendeta Elisa Tabuni dibunuh anggora Kopassus.

“Pelakunya anggota Kopassus. Lalu, mereka mengatakan pelakunya anggota Goliath Tabuni [panglima TPNPB],” ujar Sokratez kepada Jubi. Kedua, Pendeta Gemin Nirigi yang diduga dibunuh TNI ketika kekerasan Nduga meletus, Desember 2018. Hingga kini keberadaan Nirigi masih misterius.

Operasi penyisiran di Hitadipa dilatarbelakangi oleh terbunuhnya dua anggota TNI, Pratu Dwi Akbar Utomo dan Serka Suhlan. Dwi Akbar tewas setelah terjadi baku tembak antara TNI dengan TPNPB di Hitadipa pada Sabtu (19/9) jam setengah dua siang. Sedangkan Serka gugur setelah ditembak di Bandara Bilorai pada Kamis (17/9).

Lewat surat elektronik kepada Suara Papua, pemimpin TPNPB Egianus Kogoya mengaku bertanggung jawab atas penembakan dua anggota tentara dan penyitaan senjata tentara oleh kelompoknya.

Kapolres Intan Jaya Wayan G. Antara menyatakan status siaga satu diberlakukan di Intan Jaya karena rentetan peristiwa tersebut. Sebelumnya, dua tukang ojek bernama Laode Anas dan Fatur Rahman ditembak di Kampung Mamba pada Senin (14/9).

Keduanya kini dalam keadaan stabil setelah dirawat di RSUD Timika. Lalu pada Kamis, seorang warga sipil bernama Badawi juga dibacok. Dari dugaan polisi, pembunuh warga sipil dan tentara berasal dari kelompok yang sama.

“Dari data didapatkan telah terjadi 46 kasus kekerasan oleh KKB yang dilakukan sampai saat ini, korban meninggal dunia sebanyak 9 orang. Yakni 5 orang warga sipil, 2 anggota TNI, dan 2 anggota Polri. Sedangkan, korban yang mengalami luka sebanyak 23 orang yakni 10 orang warga sipil, 7 anggota TNI, dan 6 anggota Polri,” sebut Kabid Humas Polda Papua Ahmad Musthofa Kamal kepada Detik.

Adu narasi juga bergulir di internet. TNI mengklaim, ada tiga akun KKB Papua yang menyebarkan berita bohong soal keterlibatan TNI pada insiden-insiden tersebut, berupaya menghasut masyarakat dengan berita yang dianggap memutarbalikkan fakta.

Di sisi lain, penyelidik data Benjamin Strick menyebutkan dalam cuitannya, dalam sepekan terakhir Twitter turut dibanjiri akun-akun palsu pro-Indonesia yang menyudutkan perjuangan kemerdekaan Papua Barat. 

Akun-akun palsu dengan foto comotan tersebut memasang foto curian sambil menyebarkan pernyataan-pernyataan yang mendiskreditkan perjuangan kemerdekaan di Papua. Salah satu tema yang turut digemborkan adalah sentimen negatif terhadap pengacara HAM Veronica Koman.