Home Uncategorized Aku Delapan Tahun Kecanduan Minum Soda, Begini Caraku Mengatasinya

Aku Delapan Tahun Kecanduan Minum Soda, Begini Caraku Mengatasinya

221
0
aku-delapan-tahun-kecanduan-minum-soda,-begini-caraku-mengatasinya

Aku berusaha keras melanjutkan tulisan ini, tapi pikiranku terus melayang ke arah enam kaleng diet soda yang disimpan dalam tas. Seolah-olah kaleng itu minta untuk diambil.

Sudah beberapa hari aku mencoba menghindarinya, tapi hari ini aku tak lagi punya kekuatan menjauhi stok diet soda milikku. Akhirnya aku mengambil satu kaleng, membukanya lalu menuangkan cairan manis berbuih ke dalam gelas berisi es. Air liur hampir menetes dan tangan gemetaran penuh semangat begitu mendengar suara desis gelembung soda yang naik ke atas permukaan.

Ya, aku ketagihan diet soda. Atau lebih tepatnya: ketergantungan.

Kalian mungkin mendengus tak percaya saat membacanya. Memangnya bisa kecanduan diet soda?

Bisa. Aku mengalaminya sendiri sejak delapan tahun lalu.

Aku berada di tahun kedua kuliah saat itu. Tak seperti anak-anak seumuran lainnya, aku tak pernah tertarik mencicipi alkohol, rokok dan narkoba. Aku paham betul betapa buruknya pengaruh zat-zat terlarang itu terhadap kehidupan pemakai. Banyak keluarga hancur karenanya. Aku kesal setiap bajuku bau rokok. Jadi di saat teman kuliah asyik merokok dan minum-minum, aku sudah merasa puas dengan sekaleng minuman berkarbonasi dingin — menyeruputnya sambil diam-diam merendahkan mereka yang mencoba sesuatu yang lebih berbahaya dan bikin nagih.

2012 juga menjadi tahun pertamaku berkonsultasi dengan dokter gizi. Berat badanku terus naik gara-gara pola makan buruk. Merasa banyak pakaian sudah tidak muat, aku langsung atur jadwal dan meminta bantuan dokter gizi yang melemparkan tatapan kasihan kepadaku. “Kamu lebih cantik kalau kurusan,” katanya. Aku mengangguk setuju, tak menyadari kata-kata itu bisa menjadi beban di kemudian hari. Setelah bercerita panjang lebar apa saja yang aku konsumsi selama ini—termasuk soft drink—sang dokter menganjurkan sesuatu yang kedengarannya tidak berbahaya, tapi terbukti menghancurkan hidupku dalam jangka panjang. “Ganti jadi diet soda,” begitu nasihatnya. “Seleramu masih bisa terpenuhi tanpa menumpuk kalori ekstra.”

Sudah khawatir akan disuruh berhenti total, perasaan lega menyelimuti hatiku begitu mendengar sarannya. “Asyik, aku masih bisa minum soda! Yang penting nol kalori!” pikirku. Tahun demi tahun berlalu, ketergantunganku semakin memburuk. Aku bisa kebangun dari tidur cuma untuk minum diet soda. Aku akan menenggak sampai tenggorokan sakit. Ke mana-mana harus ada stok diet soda dalam tasku. Setiap jam, teman di sekelilingku akan mendengar letupan yang keluar dari kaleng soda, diikuti tegukan melepas dahaga.

Semakin meningkat toleransiku terhadap diet soda, semakin besar pula kebutuhan akan minuman berkarbonasi. Dari yang tadinya bisa mengonsumsi enam kaleng sehari pada 2017, bertambah jadi tujuh kaleng sehari pada 2019. Tahun ini, aku bisa minum sampai sembilan kaleng setiap hari.

Duniaku kacau-balau begitu lockdown diterapkan. Aku bingung mesti melakukan apa agar persediaan diet soda tidak habis selama swakarantina. Aku mencarinya di aplikasi pesan antar, berharap ada yang mau mengantarkan soda ke rumahku. Aku memaksa warung dekat rumah untuk menjualnya. Aku diam-diam mengunjungi supermarket terdekat dengan harapan ada yang jual. Penjaga toko menatap heran ketika aku menumpuk peti demi peti ke dalam kantong belanjaan. Aku sering membaca artikel tentang pencandu alkohol yang kelimpungan karena susah beli minuman keras. Beberapa bahkan sampai bunuh diri karena tidak bisa memenuhi hasrat, sedangkan lainnya putus asa dan menenggak hand sanitiser. “Orang-orang bodoh!” aku mengumpat. “Emangnya tidak bisa mengendalikan diri?” Aku mengesampingkan kenyataan bahwa aku juga ketergantungan zat kimia seperti mereka. Tidak, aku bukan membandingkan ketergantungan alkohol dengan diet soda. Aku sadar penuh efek negatif alkoholisme. Aku cuma mengekspos diriku sendiri yang tidak peduli dan kurang paham soal ini.

Teman dan keluargaku berulang kali menyarankan agar aku mengurangi konsumsinya, karena mereka selalu melihatku menenteng diet soda. Aku membela diri dengan ngomong, “Kamu saja merokok 10 batang sehari! Apa bedanya?” atau “Yang penting aku tidak pernah sampai pingsan setiap main.” Aku emosi dan menjauhi mereka, menuduh kalau mereka cuma ingin mengendalikan hidupku. Aku terus melakukan pembelaan, mengklaim diet soda tidak berbahaya seperti zat-zat terlarang lainnya. Namun di balik semua penyangkalan itu, aku pun mulai meragukan diri sendiri.

Kondisi kesehatan makin memburuk, padahal aku telah memperbaiki pola makan. Aku sering merasa nyeri persendian, sakit kepala, pusing dan pandangan kabur. Semua gejala ini mengganggu aktivitasku sehari-hari. Aku juga sudah muak memastikan selalu ada stok dalam tas atau persediaannya tidak pernah menipis.

Pengeluaranku membengkak. Jika perhitunganku benar, aku mengeluarkan sekitar Rs 80.000 (Rp15,7 juta) untuk beli diet soda sepanjang 2019. Aku tak lagi menikmati minumannya. Yang kurasakan sekarang ialah capek dengan ketergantungan ini. Di sisi lain, aku takut tidak bisa minum diet soda lagi. Memang tidak masuk akal, tapi rasanya seperti ada yang hilang jika kalian berhenti mengonsumsi sesuatu yang sudah tahunan dilakukan. Aku khawatir tidak bisa menahan diri. Bisakah aku berhenti minum? Akankah hidupku lebih damai setelahnya? Akankah kepalaku dipenuhi pertanyaan-pertanyaan bagaimana menghentikannya? Bagaimana kalau ada yang menawarkan soda? Rasanya seperti tahanan, tapi dalam kasus ini diet soda yang membelenggu diriku.

Aku menyadari ketergantungan diet soda adalah masalah serius setelah melihat hasil tes kesehatan bulan lalu. Aku punya kolesterol tinggi, ginjal tidak berfungsi dengan baik, hati dan jantung bermasalah, dan persendian meradang. Aku melirik kaleng diet soda yang ada di atas meja. Benda ini telah merusak tubuhku, dan aku membiarkannya terjadi.

Penelitian menunjukkan pemanis buatan aspartam dan kafein dalam minuman soda—baik yang reguler maupun diet—bisa membuat kita ketagihan. Sementara beberapa berteori kecenderungan terhadap perilaku adiktif adalah sifat genetik, lainnya mengatakan meningkatnya toleransi akan membuat sistem penghargaan otak menginginkan lebih.

Msora-Kasago, ahli gizi terdaftar di Academy of Nutrition and Dietetics, menuturkan pemanis buatan dalam soda dapat memicu reseptor rasa dan memberikan harapan palsu kepada sistem penghargaan otak. Akibatnya, bagian otak yang mengatur kesenangan akan terstimulasi berlebihan, menyebabkan kalian ingin minum soda lagi dan lagi. Ahli gizi Brooke Alpert menerangkan diet soda dapat menumpulkan indra pengecap terhadap makanan manis alami seperti buah-buahan. “Pemanis buatan memicu insulin yang dapat menaikkan berat badan,” ujar Alpert.

Dulu aku yakin diet soda takkan membahayakan tubuh karena “nol kalori”. Aku senang berat badan tidak naik lagi, tapi aku juga tidak pernah mempertimbangkan risiko mengonsumsi soda jangka panjang. Soft drink diyakini dapat menyebabkan diabetes dan penyakit jantung. Selain itu, minuman berkarbonasi bisa meningkatkan risiko gagal ginjal kronis. Produsen diet soda bahkan menghadapi tuntutan hukum karena label “diet” tersebut “menyesatkan dan melanggar hukum”.

Aku memutuskan untuk mengurangi konsumsi diet soda setelah melihat hasil tes tadi. Usahaku cuma bertahan dua hari. Pada akhirnya, aku nekat berhenti total. Hasilnya sama saja, cuma tahan dua hari. Tapi aku belum putus asa. Aku sudah tidak minum diet soda beberapa hari ini, dan menggantinya dengan air mineral dan limun buatan sendiri. Aku takut tidak berjalan sesuai harapan, makanya aku menceritakan pengalaman ketergantungan kepada semua kenalan. Aku menulis artikel ini supaya aku bisa lebih bertanggung jawab pada diri sendiri. Sejauh ini cukup membantu.

Kalau dipikir-pikir lagi, aku rasa bisa kecanduan karena memiliki kecenderungan rendah diri, mudah cemas dan mengalami stres. Aku merasa harus kurus, harus tenang, harus santai. Aku tidak bisa menjadi diri sendiri. Aku tak pernah berusaha mencari tahu dari mana ketegangan ini berasal, dan apa yang bisa aku lakukan untuk mengatasinya dengan sehat. Yang aku tahu, aku butuh diet soda demi kepuasan instan.

Namun kini, aku serius ingin lepas dari ketergantungan. Aku mencobanya setiap hari. Aku senang sudah agak mendingan sekarang, tapi perasaan takutnya masih ada. Aku menulis ini sebagai cara memahami pikiranku yang acakadut.

Nasib es soda yang aku deskripsikan di awal cerita akan berakhir di toilet.

Artikel ini pertama kali tayang di VICE India.