Home Uncategorized Anabul Bisa Diajak Ngobrol, Riil atau Akal-Akalan Saja?

Anabul Bisa Diajak Ngobrol, Riil atau Akal-Akalan Saja?

22
0
anabul-bisa-diajak-ngobrol,-riil-atau-akal-akalan-saja?

Suara robot tiba-tiba menyela cerita narasumber, Karlijn Koning, saat mengobrol santai denganku di kediamannya. “Keluar! Sekarang!” demikian bunyi suara itu.

Kami seketika menoleh ke arah datangnya suara. Ternyata, Silke, anjing peliharaan Karlijn, baru saja memencet dua tombol yang mengeluarkan perintah tersebut. Anjing campuran border collie itu lalu menaruh frisbee di depannya, dan menjulurkan lidah sambil mengibaskan ekor.

“Tunggu sebentar ya, Silke!” kata perempuan 31 tahun itu berseru. 

Saya terperangah menyaksikan interaksi keduanya, yang langsung disambut tawa kecil Karlijn. “Saya sudah biasa ngobrol begini sama Silke,” tuturnya padaku. 

Hari itu, kami memang janjian bertemu untuk membicarakan kebiasaan unik anjing berbulu hitam satu ini. Ketika kami berbincang-bincang di ruang tamu, saya melihat karpet busa warna-warni yang dihiasi puluhan tombol di atasnya. Tombol itu akan mengeluarkan perintah berbeda-beda saat dipencet.

Anjing hitam berbaring di samping perempuan yang duduk di lantai. Di depannya ada karet busa berisi puluhan tombol

Karlijn Koning bersama anjing peliharaannya, Silke.

Pemandangan ini mungkin tidak asing bagi kamu yang hobi menonton video tingkah laku hewan yang menggemaskan. Contohnya, anjing pomsky yang “mengerti” kata kasar, atau kucing gembul yang minta dikasih snack dengan menekan bel.

Banyak pemilik percaya anak bulu dapat diajak ngobrol karena mengerti ucapan mereka. Silke dan anjing pomsky yang tenar di TikTok pun bukan satu-satunya hewan peliharaan yang dapat mengomunikasikan kebutuhan lewat trik pencet tombol. 

Hampir empat tahun lalu, anjing betina bernama Stella menyita perhatian di internet berkat kecerdasannya mengutarakan keinginan dan perasaan kepada sang tuan. Pemiliknya, Christina Hunger, sengaja menyediakan tombol perintah agar ia lebih mudah mengerti apa yang sedang dibutuhkan anabul. “Sejak awal memelihara Stella [pada 2018], saya memperhatikan anjing ini punya kemiripan dengan balita yang belum lancar bicara,” tulis Hunger di situs blognya.

Sebagai ahli patologi wicara, Hunger sudah berpengalaman melatih anak yang mengalami kelambatan bicara. Ia membantu pasien menyampaikan sesuatu pakai teknologi Augmentative and Alternative Communication (AAC). “Saya penasaran, kira-kira Stella bisa pakai alat ini juga tidak ya?” lanjutnya. Hunger telaten melatih anjing peliharaannya. Menurutnya, Stella kini mengerti 45 kata dan bisa menggabungkannya menjadi kalimat sederhana.

Video viral inilah yang mendorong terlaksananya eksperimen serupa pada 2020. Federico Rossano, psikolog komparatif di Universitas California, San Diego, yang tadinya skeptis terhadap kecerdasan Stella, berubah pikiran setelah ditawari meneliti perilaku luar biasa ini oleh alumnus di kampusnya. Ia terpilih karena bidang penelitiannya mendalami perilaku dan fungsi mental anak-anak hingga binatang, seperti kera, kambing dan serigala.

Namun, lulusan S3 linguistik itu tak langsung menyanggupi. Rossano baru setuju memimpin eksperimen yang diprakarsai FluentPet, perusahaan yang menjual tombol perintah untuk hewan peliharaan, setelah mengetahui ukuran sampelnya cukup besar. Perlu diketahui, alumnus yang mengajak Rossano adalah CEO FluentPet.

Besar risikonya menerima tawaran ini, apalagi dunia linguistik masih terpecah belah menanggapi isu seputar binatang mengerti bahasa manusia. Akan tetapi, di saat sebagian besar penelitiannya terhambat pandemi, eksperimen FluentPet menawarkan pendekatan yang menarik. Para peneliti mengamati tingkah laku binatang yang diikutsertakan melalui siaran langsung, kunjungan ke rumah pemilik, survei dan wawancara yang dilakukan pemilik, hingga penggunaan alat machine learning.

Tujuan utama penelitiannya yaitu membuktikan apakah hewan peliharaan benar-benar mengerti bahasa manusia saat memencet tombol, atau sebatas mengetahui apa yang akan terjadi jika suatu tombol dipencet.

“Benarkah hewan peliharaan bisa belajar sampai mengerti, atau asal pencet saja? Atau jangan-jangan perilaku ini menirukan reaksi pemilik? Banyak sekali data yang harus kami olah untuk menemukan jawabannya,” terang Rossano. 

Agar hasilnya tidak timpang, eksperimen ini mendapat masukan berbagai pihak, dari para ahli yang pro sampai yang meragukan kemungkinan binatang mengerti bahasa manusia. Total hewan peliharaan yang diikutsertakan sudah melebihi 10.000 ekor, dan saat ini, peserta aktifnya mencapai 2.000 ekor dari 27 negara. Silke salah satunya.

Kembali di rumah Karlijn, perempuan itu yakin anjingnya tahu arti perintah yang muncul setelah tombol dipencet. “Silke paling suka memencet tombol ‘makanan’, ‘air’ dan ‘eek’,” tuturnya. “Dia bakal memencetnya berulang kali kalau sedang butuh banget.”

Menariknya lagi, menurut Karlijn, Silke sangat cerdik memainkan tombol. “Enggak jarang dia mencet tombol ‘eek’, padahal sebenarnya minta diajak jalan-jalan. Silke tahu saya langsung mengajaknya keluar kalau tombol itu dipencet,” katanya, lantas terkekeh.

Tak semua tombol punya Karlijn bersifat perintah. Ada juga yang berfungsi mengekspresikan perasaan Silke, seperti marah, bahagia, sibuk dan tenang. “Saya belum tahu pasti apa maksudnya saat Silke memencet tombol ‘sibuk’. Entah dia merasa terganggu suara bising, atau memencetnya karena dia sedang sibuk,” lanjutnya. “Tebakanku Silke kadang memencet tombol untuk mendeskripsikan apa yang dilihatnya.”

Anjing hitam mengendus tombol di atas karpet busa warna-warni

Silke hendak memencet tombol di atas karpet busa.

Tak sedikit peneliti menilai interaksi semacam itu hanyalah bentuk proyeksi perilaku manusia pada binatang. Dengan kata lain, pemilik bisa saja menerka-nerka arti tindakan hewan peliharaan mereka, dan mengira tebakannya benar ketika anabul terlihat senang mereka melakukan sesuatu.

Sampai saat ini pun, belum ada penelitian yang membuktikan komunikasi antara hewan dan manusia dapat tercipta tanpa merugikan binatang yang diajak berinteraksi layaknya makhluk yang memiliki akal. Contoh paling nyata terjadi di era 70-an.

Pada 1973, Herbert Terrace, peneliti yang mengambil pendekatan strukturalisme, menyerahkan bayi simpanse kepada keluarga yang tinggal di Manhattan, New York, agar dirawat oleh mereka. Binatang yang diberi nama Nim Chimpsky bahkan diajarkan Bahasa Isyarat Amerika supaya dapat berinteraksi layaknya anak manusia.

Proyek Nim, demikian namanya, tidak berjalan sesuai yang diinginkan. Nim beneran bisa menggunakan bahasa isyarat, tapi cuma untuk mendapatkan hadiah dari manusia yang merawatnya. Para peneliti gagal membuktikan hewan percobaan mereka mengerti konsep bahasa manusia. 

Malah ada anggota tim Terrace yang dituduh memaksa Nim bertindak seperti manusia sungguhan. Tuduhan yang paling sering dilontarkan yaitu mereka membuat Nim bisa ngeganja.

Keluarga yang merawat simpanse itu akhirnya angkat tangan. Nim diserahkan ke orang lain, namun tidak ada satu pun yang sanggup menangani sifat simpanse yang makin lama makin agresif. 

Proyek Nim disetop empat tahun kemudian. Lantas bagaimana nasib Nim? Simpanse itu menunjukkan tanda-tanda depresi, dan dikurung untuk mendapatkan perawatan medis hingga mati pada 2000.

Pada periode tahun yang sama, ada gorila betina bernama Koko yang juga dilatih berbicara menggunakan bahasa isyarat. Tim proyek ini dituding hanya menunjukkan data-data yang mendukung teori hewan bisa berkomunikasi dengan manusia. 

Kedua eksperimen tersebut menunjukkan, pendapat yang kontra tampak ada benarnya. Walau bisa diajari trik, binatang tidak memiliki kapasitas mental yang memadai untuk memahami bentuk komunikasi manusia yang kompleks.

Anjing hitam berdiri di atas karpet busa

Silke berdiri di atas karpet busa.

Dalam eksperimen FluentPet, Rossano menggunakan teori Hockett-Ascher tentang 13 ciri khas bahasa manusia sebagai landasan penelitiannya. Salah satu aspek yang diamati menunjukkan kemampuan menciptakan kata baru. 

Rossano mengambil contoh anjing yang memencet tombol “squeaky” (bunyi decit/suara nyaring) dan “mobil” tiap ada ambulans lewat. Aspek produktivitas ini tampaknya bisa dilihat pada tingkah laku Silke. Berdasarkan pengakuan Karlijn, anjingnya pernah sekali memencet “air” dan “batu” supaya dikasih es batu. Ia yakin Silke mempelajari kata ini karena sering dikasih es batu ketika sakit gigi.

Rossano juga mengamati kemampuan hewan mendeskripsikan sesuatu yang tidak ada di dekatnya. Hingga saat ini, cuma manusia yang bisa melakukannya. Setidaknya itulah yang dipercayai ilmuwan sampai muncul video kucing tabby Billi. Dalam video tersebut, kucing abu-abu terlihat menginjak tombol “marah” dua kali karena pemiliknya tidak ada di dekat Billi.

“Kucing itu memencet tombol berulang kali,” kata Rossano. “Tindakan ini menimbulkan pertanyaan: apakah kucing itu asal pencet atau sudah tahu maksudnya apa?”

Rossano tidak menepis kritik terhadap penelitiannya, dan paham kenapa ada yang beranggapan hewan peliharaan hanya meniru perilaku pemilik tanpa mengerti maksudnya. “Hanya saja, mereka yang mengkritik eksperimen kami belum pernah melihat data yang kami kumpulkan,” imbuhnya. “Mereka bisa saja berubah pikiran jika melakukan apa yang kami lakukan selama bertahun-tahun, yaitu mengamati perilaku 10.000 ekor anjing.”

Terlepas benar tidaknya hewan bisa berkomunikasi dengan manusia, Rossano memperhatikan adanya upaya anabul menyampaikan sesuatu pada pemilik. Ia pernah menonton video anjing memencet tombol “tolong” ketika kawannya tidak bisa keluar dari kolong sofa. Ada juga video yang memperlihatkan anjing memencet tombol “perut” dan “ouch” berulang kali sebelum muntah. (Mayoritas anjing yang diikutsertakan dalam eksperimen ini, karena kucing lebih sulit dilatih.)

“Perilaku semacam ini sangat menarik,” ujar Rossano. “Pertama, [anabul tampaknya] mengerti apa yang terjadi di sekitar mereka; kedua, anabul bisa menyampaikannya pada pemilik; ketiga, anabul peduli.”

Jika terbukti, hasil eksperimen ini dapat memberikan implikasi yang sangat besar terhadap hubungan manusia dengan binatang. Tombol-tombol ini juga bisa meringankan tugas dokter hewan ketika memeriksa binatang yang sedang sakit. Dan siapa tahu saja, kita bisa tahu seperti apa perasaan ayam sebelum disembelih.

Bagi Karlijn pribadi, dia senang bisa “mengobrol” dengan anjingnya, apalagi di saat gejala depresinya kambuh. Sejumlah penelitian menunjukkan anjing dapat merasakan emosi negatif pemiliknya, dan punya keinginan menyemangati pemilik saat sedang sedih. Karlijn percaya anabulnya sering melakukan ini. 

Dalam unggahan Instagram, Silke terlihat menekan tombol “Want (Mau)”, “Good Job! (Hebat!)” dan “Karlijn” secara berurutan. Perempuan itu selalu memuji Silke dengan “Good job!” dalam keadaan ceria. Terlihat dalam video itu, Silke mengibaskan ekor seraya meletakkan cakarnya di bahu sang pemilik. 

“Tindakan ini sangat berarti bagiku,” demikian bunyi caption videonya.

Artikel ini pertama kali tayang di VICE Netherlands.