Home Uncategorized Begini Perjuanganku Meniti Karir Setelah Dipaksa Ortu Masuk Fakultas Kedokteran

Begini Perjuanganku Meniti Karir Setelah Dipaksa Ortu Masuk Fakultas Kedokteran

128
0
begini-perjuanganku-meniti-karir-setelah-dipaksa-ortu-masuk-fakultas-kedokteran

Lewat kolom baru “Salah Jurusan”, VICE Indonesia meminta alumnus berbagai perguruan tinggi yang tidak sreg dengan kuliahnya membedah keunikan serta stereotipe jurusan masing-masing. Mereka berbagi kebimbangan selama kuliah, realitas dunia kerja, serta bermacam renungan lain, kepada pembaca yang barangkali sedang merasa salah memilih jurusan.

Kolom kali ini berisi pengalaman alumnus jurusan ilmu gizi yang terbebani ekspektasi orang tua. Alumnus jurusan lain yang tertarik berbagi cerita serupa, kirim DM ke Twitter atau Instagram VICE ya.


Apakah kamu percaya pada takdir? Aku iya.

Aku tidak akan berada di tempat ini, saat ini, kalau bukan karena jalan hidup yang sudah digariskan oleh alam semesta. Setiap jengkal kesedihan dan kepahitan, setiap kerja keras dan perjuangan, harus aku tanggung sepanjang perjalanan agar aku bisa sampai di titik ini.

Sebuah titik yang di mana aku bisa berdiri di atas kakiku sendiri. Titik yang membuat kedua orang tuaku akhirnya menaruh respek terhadap pilihanku. Hidupku, sesuatu yang sebelumnya jadi arena gulat antara apa yang mereka kehendaki melawan apa yang aku cita-citakan, sekarang sepenuhnya menjadi milikku.

Aku bekerja sebagai humas di sebuah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang terbilang besar. Sudah bisa aku katakan bahwa aku bangga dengan pencapaian di usia 29 tahun ini, apalagi karena usaha sendiri. Tetapi, aku tidak mau membusungkan dada mengingat agar bisa begini, rute yang harus kulalui itu terjal.

Aku anak tunggal dari orang tua yang, aku yakini, sebetulnya ingin hanya hal-hal terbaik terjadi padaku. Ya, mungkin semua orang tua di dunia begitu—tidak mau anaknya salah jalan. Sayangnya, apa yang mereka anggap terbaik tidak sesuai dengan apa yang aku mau, terutama soal pendidikan.

Ketika SMP, aku menaruh minat pada mata pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn). Suatu hari, guruku memberikan topik panas untuk diperdebatkan di kelas, yaitu soal Ambalat yang jadi sengketa antara pemerintah Indonesia dan Malaysia. Dari sini, aku merasa bahwa cuap-cuap atau public speaking adalah passion. Ini juga yang membuatku mewakili sekolahku ke sejumlah lomba debat.

Pikirku saat itu adalah kelak aku ingin menjadi seorang diplomat atau pengacara. Berbekal kesukaan membaca biografi-biografi orang yang aku anggap hebat, misalnya Bung Karno, aku masih simpan angan-angan itu sampai ke SMA. Waktu itu aku sudah pindah ke Semarang. Setelah berjibaku dengan Fisika dan Kimia saat kelas X, aku ingin mendalami ilmu sosial dan politik ketika penjurusan.

Wali Kelas juga mendukung aku masuk IPS karena melihat nilai-nilaiku lebih bagus di mata pelajaran yang tak melibatkan hitung-hitungan. Namun, aku harus menghela napas panjang karena orang tuaku tidak setuju. Mereka galak soal ini. Mereka bilang sebaiknya masuk IPA karena ini jurusan yang akan membuka pintu ke mana saja. 

Karena tidak mau mengecewakan, aku pun menurut dengan iming-iming bahwa saat kuliah, aku boleh menentukan jurusanku sendiri. Ini yang membuatku bertahan hari demi hari, meski secara akademik aku berjuang mati-matian. Ah, tapi kenyataan yang dijanjikan tidak terjadi. Begitu tiba waktunya melanjutkan ke universitas, rupanya orang tuaku tetap tidak bisa melepaskan kendali mereka.

Ayahku adalah salah satu lulusan terbaik jurusan ekonomi di kampusnya. Prestasinya itu mengantarkannya memperoleh karir cemerlang. Harapan beliau, atau lebih tepatnya kehendak beliau, adalah aku bisa mengekor kesuksesannya. Padahal, aku masih ingin jadi mahasiswa Ilmu Hukum atau Ilmu Hubungan Internasional. Ibuku sendiri tak kalah dalam melarang. Menurutnya, pilihan orang tua pasti yang terbaik.

Barangkali kedua jurusan itu dianggap kurang elit, sehingga izin itu tak kunjung datang. Aku sempat menawarkan diri masuk ke jurusan Ilmu Perikanan, tapi dilarang. Mengingat usiaku yang masih remaja, kebingungan itu sangat wajar. Apalagi karena dihadapkan dengan orang tua. Kalau tidak patuh, dari mana aku bisa menghidupi diri sendiri?

Secara acak dan sepihak, ayahku memutuskan aku harus mengambil jurusan Ilmu Gizi di salah satu universitas di Semarang, yang termasuk bagian dari Fakultas Kedokteran. Meski terkesan keren, aku jelas tidak bahagia. Daripada tidak kuliah, ya sebaiknya aku iyakan saja. Nanti ketika lulus, aku bisa memilih pekerjaanku sendiri. Sebelum itu, aku harus bertemu lagi dengan subyek-subyek yang aku benci, mulai dari Fisika sampai anatomi tubuh manusia. 

Selama empat tahun kuliah, aku memendam kesedihanku sendiri karena aku tak banyak teman. Ini adalah periode traumatik, bahkan masih membekas sampai sekarang. Motivasiku hanya satu: segera menyudahi fase sulit ini. Kokohnya tembok yang dibangun orang tuaku untuk membentengiku juga membuatku terpaksa diam-diam ikut organisasi paduan suara.

Ini adalah pelarianku dari stres perkuliahan. Walau sembunyi-sembunyi, aku ternyata tidak cukup buruk. Aku jadi ketua paduan suara jurusan. Aku percaya kalau sampai ayah dan ibuku tahu aku aktif di kegiatan ini, mereka pasti tidak akan memberikan lampu hijau. Tetapi, mereka harus tahu bahwa ketika sudah waktunya, aku tidak bisa lagi mengorbankan apa yang aku mau.

Empat tahun berlalu dan gelar sudah di tangan. Aku tetap pada keyakinan bahwa aku tidak ingin menjadi ahli gizi. Ini bukan duniaku. Ini bukan passion-ku. Sebelum wisuda pun aku sudah bertekad mencari pekerjaan. Apa saja. Rupanya, semesta membukakan jalan yang sama sekali bertolak belakang dengan perkuliahan.

Aku diterima sebagai wartawan di sebuah media online ternama di Indonesia. Padahal, pengalaman menulisku sangat terbatas. Ya, apa boleh buat, kan aku sudah bertekad untuk meniti karir tanpa intervensi orang tua, jadi aku harus menjalani. Awalnya tentu semua serba terpaksa. Salah satu liputan pertamaku adalah soal kecelakaan pesawat Air Asia QZ8501 pada Desember 2014. 

Aku masih ingat bagaimana sulitnya menulis berita di tengah pencarian mayat dengan menumpang kapal Basarnas. Redaktur di kantor menghubungiku dan marah-marah karena aku salah tulis. Aku juga pernah harus ke Rumah Sakit Koja, Jakarta Utara, untuk meliput soal rumor seorang kakek bertelur. Posisiku waktu itu di Depok. Biaya ojek ke sana pun harus aku tanggung sendiri.

Sampai di lokasi, redaktur memaksaku tinggal sampai diusir oleh pihak rumah sakit demi mendapatkan berita. Tekanan demi tekanan ini membuatku ingat kata ibuku saat aku sampaikan kabar aku melamar kerja sebagai wartawan di Jakarta. Menurutnya, profesi ini bak buruh kasar dengan gaji seadanya. “Duh! Gue sanggup enggak nih?” pikirku waktu itu. Kos Rp700 ribu di Tebet jadi saksi perjuanganku.

Kalau sudah jalannya, siapa bisa mengelak? Aku mendapatkan kesempatan untuk menginjakkan kaki di Istana Kepresidenan sekaligus bertemu penghuninya. Dengan kerja sebagai buruh berita juga aku bisa ke Nepal untuk meliput gempa atas undangan dari Menteri Luar Negeri Retno Marsudi. Akhirnya, setelah lima tahun bersama dua media online berbeda, aku meninggalkan industri media.

Aku tidak menyesal atau menyalahkan orangtuaku atas kehendak-kehendak mereka yang haram untuk dibantah. Kalau aku tidak patuh, ceritaku pasti akan lain. Jadi, aku tetap merasa perlu berterima kasih dan bersyukur.

Namun, satu hal yang ingin aku katakan kepada para orang tua di luar sana: jangan menganggap anak sebagai investasi. Beri mereka kebebasan untuk menentukan pilihan. Toh ketika tak lagi berada di ruang kelas dan ijazah sudah didapat, mereka sendiri yang akan bertarung di tengah kerasnya dunia kerja.