Home Uncategorized Beginilah Penorama Kota yang Rutin Bersuhu Minus dan Diselimuti Salju Sampai 9...

Beginilah Penorama Kota yang Rutin Bersuhu Minus dan Diselimuti Salju Sampai 9 Bulan

98
0
beginilah-penorama-kota-yang-rutin-bersuhu-minus-dan-diselimuti-salju-sampai-9-bulan

Udachny–jika diterjemahkan harfiah berarti “bahagia”–adalah kota pertambangan kecil di kawasan timur laut Rusia. Kota ini dibangun pada era Uni Soviet, setelah cadangan berlian dalam jumlah besar ditemukan insinyur Moskow pada dekade 1960-an.

Memasuki dekade 90-an, Udachny bisa dibilang salah satu kota produsen berlian terbesar dunia, produksi batu mulia itu mencapai 12 juta ton per tahun. Berkat keberadaan tambang, yang mengundang para pekerja menetap di sana, sekarang Udachny punya 12 ribu penduduk.

Masalahnya cuma satu: sejujurnya, kota ini tidak layak dihuni manusia. Musim dingin di Udachny bisa berlangsung lebih dari setengah tahun, bahkan rutin mencapai 9 bulan. Hal itu diakibatkan letak geografisnya yang mendapat pengaruh iklim subartik lantaran dekat Kutub Utara.

Suhu mencapai minus belasan derajat celcius adalah keseharian warga kota tersebut. Hari disebut hangat, bila suhu sekitar 1 derajat celcius. “Musim Panas” macam itu cuma berlangsung tiga bulan dalam setahun. Selebihnya salju kembali menguasai kota Udachny.

Karena situasi kota Udachny yang unik, fotografer Hanne Van Assche asal Belgia tertarik berkunjung ke sana. Dia ingin mendokumentasikan keseharian warga kota yang akrab dengan musim dingin berbulan-bulan.

Van Assche pertama kali mendengar soal Udachny dari pedagang berlian di Antwerp, Belgia, kota kelahirannya. Antwerp adalah sentra perdagangan serta pengrajin berlian dunia sejak Abad 15, yang belakangan rutin mendapat pasokan batu mulia mentah dari Udachny.

8.jpg

A PALM TREE MADE FROM CAR TYRES.

Sebelum berkunjung ke Udachny, Van Assche menyempatkan belajar bahasa Rusia terlebih dulu. Dia juga membeli banyak baju dingin dan rajin berolahraga, karena mendapat kabar kota itu sempat mengalami suhu minus 43 derajat celcius.

Setibanya di Udachny, menurut Van Assche, beberapa penduduk curiga pada gerak-geriknya yang memotret segala hal. Tapi lambat laun dia mulai dikenal dan penduduk akhirnya membuka diri. “Aku tidak kenal siapapun di kota itu awalnya,” kata Van Assche. “Tapi berkat kemampuan berbahasa Rusia alakadarnya, penduduk mengizinkanku memotret mereka.”

Van Assche menghabiskan lebih dari tiga bulan memotret berbagai sudut Udachny. Selama kurun tersebut, dia akhirnya menemukan sisi lain Udachny yang tidak terkait salju dan suasana muram. Ada banyak hal yang berwarna dari Udachny, baik dari lanskap maupun manusianya.

“Bisa dibilang, sekarang aku kenal nyaris seluruh penduduk kota tersebut.”

Simak foto-foto menakjubkan yang diperoleh Van Assche dari kota yang mengalami musim salju hingga 9 bulan lamanya di Rusia:

3.jpg

Sebuah monumen pahatan es sosok Lenin, pendiri Uni Soviet
20.jpg

Bocah-bocah setempat bermain di atas pipa gas kawasan industri
1.jpg

Pemandangan kawasan pinggiran Udachny dari udara
10.jpg

Mobil di salah satu ruas jalan Udachny terjebak tumpukan salju
4.jpg

Lena, 11 tahun, adalah atlet ice skating lokal. Dia bermimpi kelak bisa berkompetisi di kancah internasional
14.jpg

Banyak bangunan di Udachny dicat dengan warna-warna pastel yang terkesan hangat
13.jpg

Di Udachny banyak juga toko oleh-oleh menjual berlian
17.jpg

Dia adalah Ilona, salah satu peduduk Udachny. Meski cuaca ekstrem dingin, perempuan di kota ini selalu tampil modis.
11boek.jpg

Saat tidak bersalju ini kondisi Udachny pada malam hari
6.jpg

Ini pertambangan berlian di Udachny saat difoto dari udara
16.jpg
23.jpg

Pasangan di atas adalah orang tua Tatyana, subyek seri foto ini. Sang ayah pilot jet tempur yang memakai baju dinas saat pulang kampung.
24.jpg
12.jpg

Adelina menghadiri upacara wisuda SMA. Anak-anak muda Udachny yang bisa kuliah pasti akan merantau ke Moskow atau St Petersburg
22.jpg

Mayoritas apartemen penduduk di Udachny memang berwarna-warni seperti ini

Simak karya-karya lain dari Hanne Van Assche di akun Instagram pribadinya

Artikel ini pertama kali tayang di VICE Belgia