Home Uncategorized Biaya Wisuda Daring yang Mahal Diprotes Mahasiswa di Beberapa Daerah

Biaya Wisuda Daring yang Mahal Diprotes Mahasiswa di Beberapa Daerah

11
0
biaya-wisuda-daring-yang-mahal-diprotes-mahasiswa-di-beberapa-daerah

Mahasiswa calon sarjana Universitas Wiraraja (Unija), Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, murka setelah diminta membayar Rp750 ribu sebagai syarat mengikuti wisuda virtual kampusnya. Kemurkaan dipicu kampus yang tidak transparan memberi informasi uang tersebut akan digunakan untuk apa saja.

Merasa tak ada justifikasi memadai terkait uang tersebut, mahasiswa menganggap nominal yang dipatok kampus terlalu tinggi sementara seremoni tersebut digelar daring. Saking tidak terimanya, beberapa calon sarjana berdemonstrasi di depan Gedung Rektorat Unija. Protes ditandai dengan aksi pembakaran toga.

“Kami menilai biaya itu terlalu mahal dan memberatkan calon sarjana. Apalagi ekonomi masyarakat saat pandemi ini serba tidak menentu. Andaikan transparan [uang Rp750 ribu untuk apa saja], kami para calon sarjana bisa terima. Ini tidak transparan untuk apa saja,” kata Koordinator aksi Junaidi kepada Kompas. Junaidi sendiri membuka kemungkinan dilakukannya aksi mogok bayar serentak dari calon sarjana disertai demonstrasi besar-besaran pada 30 November, hari di mana prosesi wisuda rencana digelar.

Wakil Rektor III Unija Mujib Jannan mengklaim biaya wisuda disesuaikan dengan kebutuhan penyelenggaraan. Pihak kampus juga mengaku telah memberi diskon Rp50 ribu karena sebelumnya biaya wisuda dipasang Rp800 ribu. “Kalau ada yang protes itu biasa. Tapi, keputusan rektor bahwa wisuda akan tetap digelar meskipun ada mahasiswa yang menolak soal biaya. Tahun depan masih ada wisuda lagi. Silakan yang protes ikut tahun depan saja,” kata Mujib. 

Permasalahan kampus lawan mahasiswa gara-gara biaya wisuda terjadi pula di Universitas Puangrimaggalatung (Unprima), Sulawesi Selatan. Agustus lalu, para calon sarjana melakukan unjuk rasa setelah mendapati harus membayar Rp1,8 juta untuk seremoni pelepasan daring. Sebagian mahasiswa merasa fasilitas yang didapat saat wisuda virtual sangatlah minim sehingga biaya jadi tidak masuk akal. Selain itu, pengelolaan anggaran juga dianggap tidak transparan.

“Pembayaran untuk wisuda sangat mahal, tapi minim fasilitas. Apalagi kita akan wisuda online. Kebijakan wisuda online kami minta ditinjau ulang. Kami juga minta pengelola transparan dalam mengelola anggaran wisuda,” kata orator aksi Murannim, dilansir dari Sindonews.

Menanggapi unjuk rasa mahasiswa, Wakil Rektor I Hasbi Abbasi mengatakan biaya wisuda yang biasanya selalu naik tiap tahun tahun ini tetap. Mirip sikap rektorat Unija, Hasbi menyatakan ongkos biaya wisuda standar lazimnya sebesar Rp2 juta, tapi kali ini disubsidi Rp200 ribu. “Banyak hal yang perlu dikerjakan, wisuda online itu tidak segampang yang dibayangkan cuma duduk depan hape saja,” kata Abbas.

Protes terhadap biaya wisuda yang dianggap kelewatan enggak cuma dilakukan mahasiswa. Di Universitas Komputer Indonesia (UNIKOM), Bandung, seorang perempuan marah-marah dalam sebuah video viral karena meski sudah membayar wisuda anaknya sebesar Rp3,7 juta, tapi hanya mendapat toga sebagai oleh-oleh acara. Dalam video tersebut, ia meminta Unikom mengembalikan uang pembayaran.

Menanggapi protes wali mahasiswa tersebut, Direktur Humas dan Protokoler Unikom Desayu Eka Surya menjelaskan, uang Rp3,7 juta bukan cuma dibayarkan untuk toga. Namun, total nominal tersebut adalah akumulasi dari biaya bimbingan, sidang proposall, dan sidang skripsi. “Ada proses pembimbingan, sidang proposal, sidang komprehensif, sidang skripsi, perpustakaan, dan lain-lain,” kata Desayu. Wah, baru tahu kalau bimbingan skripsi ada harganya toh….

Sebagai institusi yang menaungi isu-isu perguruan tinggi, Kemendikbud menarik diri dari polemik tersebut. Nizam, selaku Dirjen Pendidikan Tinggi Kemdikbud menyatakan wisuda tidak wajib.

Artinya, kalau keberatan membayar, mahasiswa tidak perlu memaksakan diri. “Tidak harus ikut wisuda. Wisuda pada dasarnya hanya formalitas seremonial. Tidak wajib,” kata Nizam dilansir Detik.

Sayangnya Pak Nizam, wisuda itu sebenarnya kebutuhan orang tua. Selain itu kami kan pengin juga bisa mengunggah foto wisudaan dengan caption “welcome to the real world” 🙁