Home Uncategorized Bigorexia: Obsesi Bentuk Tubuh yang Jarang Dibicarakan Laki-Laki

Bigorexia: Obsesi Bentuk Tubuh yang Jarang Dibicarakan Laki-Laki

138
0
bigorexia:-obsesi-bentuk-tubuh-yang-jarang-dibicarakan-laki-laki

Artikel ini pertama kali tayang di VICE Italy.

Beberapa waktu lalu, saya membaca tulisan aktor Matthew McGorry pada situs Medium. Menurutku, itu adalah artikel diet terbaik yang pernah saya baca sejauh ini.

Dalam esai tersebut, pemeran sipir penjara di serial Orange Is the New Black buka-bukaan tentang perjuangannya melawan gangguan makan. Dia ditakut-takuti tidak akan mendapat peran utama setelah berat badannya naik. “Saya selama ini berpikir badan ‘chubby’ sangatlah buruk. Lelaki ‘seharusnya’ bertubuh kekar dan kuat,” tulisnya.

Kisah McGorry mengingatkan kita, gangguan makan tak hanya dialami oleh perempuan.

“Lima hingga 10 persen pengidap anoreksia di Italia — dan 10 persen penderita bulimia — adalah laki-laki,” ujar ahli diet Viviana Valtucci. Temuan Hudson dkk. yang dijelaskan dalam studi berjudul “Eating Disorders in Men: Underdiagnosed, Undertreated and Misunderstood” pada 2015 bahkan menunjukkan 25 persen penderita anoreksia dan bulimia adalah laki-laki. Kurangnya penelitian tentang gangguan makan di Indonesia membuat kita tidak bisa mengetahui angka pasti laki-laki yang mengalami masalah kejiwaan ini. “‘Binge eating’ tidak membedakan jenis kelamin. Lalu ada juga bigorexia, obsesi memiliki tubuh berotot yang pada umumnya menyerang laki-laki.”

Layaknya anoreksia, bigorexia berkaitan dengan gangguan dismorfik tubuh — obsesi yang berlebihan terhadap penampilan. Sementara penderita anoreksia memiliki kecenderungan menurunkan berat badan sampai kurus, pengidap bigorexia (dismorfia otot) kecanduan untuk membentuk otot karena merasa badannya kurang kekar. Pelayanan Kesehatan Nasional Inggris (NHS) menjelaskan orang-orang yang mengidap gangguan dismorfik tubuh rentan depresi, menyiksa diri, dan bunuh diri.

Tren diet dan kebugaran menjual obsesi akan bentuk tubuh ideal. Tujuan pribadi yang tampak sehat tak jarang menyembunyikan aspirasi kecantikan atau ketampanan yang tidak realistis. Contoh kecilnya seperti mencapai persentase lemak tubuh tertentu. Lelaki yang mendambakan tubuh ideal biasanya akan diet paleo atau keto karena terlihat lebih “macho”, meskipun sebenarnya diet jenis ini tidak membawa manfaat dan dapat membahayakan kesehatan dalam jangka panjang — terutama bila digabung dengan steroid anabolik.

“Maskulinitas toksik menciptakan konsep tubuh ideal yang mustahil dicapai,” terang Giuseppe Magistrale, psikolog dari Centro Pugliese per i Disturbi Alimentari (Pusat Gangguan Makan Puglian) yang punya pengalaman pribadi dengan gangguan dismorfik tubuh.

Bagi Magistrale di masa lalu, komunitas binaraga dan angkat beban “memberikan semacam kekuatan dan perlindungan kepadaku. Saya membagi segalanya menjadi ‘tubuh yang bagus’ dan ‘tidak bagus’. Kami terobsesi dengan berat badan dan persentase lemak.”

Dia menceritakan “pernah ada lelaki yang menulis begini di forum kebugaran, ‘Saya kayaknya baru mau ngajak cewek kencan kalau lenganku sudah mencapai 44 centimeter.’ Semuanya berputar di sekitar penampilan tubuh.”

Walaupun pengalamannya terdengar ekstrem bagi sebagian orang, Magistrale menyebutkan ada beberapa tanda yang dapat diperhatikan laki-laki sejak dini. “Pasti ada yang salah dengan diri saya jika komitmen mengubah bentuk tubuh mulai menyita seluruh waktuku, atau saya mulai mengabaikan hubungan [dengan orang lain] dan mengembangkan perilaku kompulsif,” jelasnya. “Masalahnya bukan pada kebugaran itu sendiri, melainkan cara kita memandang latihan kebugaran sebagai solusi dari segala masalah. Saya berusaha menyingkirkan perasaan malu yang sebenarnya takkan pernah bisa hilang.”

Ditambah lagi lelaki cenderung ogah meminta bantuan. “Kalaupun pergi terapi, mereka melakukannya untuk masalah lain. Obsesi terhadap tubuh bugar baru muncul kemudian hari,” Magistrale melanjutkan.

Valtucci mengamini bahwa lelaki tidak memiliki “panutan” untuk mencintai bentuk tubuh mereka secara apa adanya seperti perempuan. “Pada akhirnya, mereka [lelaki] menderita dalam diam. Bantuan sering kali baru datang dari ibu dan pasangan yang mengkhawatirkan keadaannya.”

Ini benar adanya. Jika dulu konten #fitspo di Instagram membuatku merasa buruk karena jarang nge-gym, feed saya kini penuh dengan konten inspiratif seperti proses sembuh dari gangguan makan, anti-fobia gemuk dan feminisme interseksional. Tapi sebagian besar postingan ini dibuat oleh perempuan.

Belum banyak lelaki yang menyebarkan pentingnya body positivity. Selebgram Riccardo Onorato (@guyoverboard), misalnya, mendorong laki-laki untuk lebih terbuka membicarakan masalah-masalah seperti pola makan, tubuh dan emosi setelah menyadari konsep ini sangat relevan dengan dirinya. Onorato terinspirasi oleh beberapa blogger perempuan yang mengkampanyekan body positivity pada saat dia membuat blog fesyen laki-laki delapan tahun lalu. Ketika itu, dia kesulitan mencari pakaian dengan ukuran tubuhnya.

“Saya ingin para laki-laki sadar kalau mereka tak perlu takut menunjukkan sisi lemahnya, dan meragukan tubuh atau diri sendiri. Itu takkan mengurangi kejantanannya,” tutur Onorato.

Menurutnya, orientasi seksual juga berperan dalam masalah “kejantanan” ini. Dia berpendapat lelaki gay kesulitan melepaskan status yang muncul ketika ingin mencapai tubuh maskulin yang sempurna. “Dunia ini masih sangat homofobik, sehingga mereka belum bisa merasa bebas dan aman sebagai laki-laki,” Onorato berujar. National Eating Disorder Association di Amerika Serikat menunjukkan 42 persen lelaki yang mengalami gangguan makan berlebihan berorientasi seksual gay, meskipun jumlah mereka hanya lima persen dari populasi.

Sebagai mantan penderita gangguan makan, saya sadar masyarakat terlalu mengatur tubuh perempuan. Tak hanya dijadikan sebagai objek seksual, perempuan cenderung dinilai dari kecantikannya semata. Perempuan tidak boleh melakukan ini-itu, wajib mengoptimalkan diri, dan secara fisik menempati ruang yang lebih terbatas.

Akan tetapi, saya mengakui kita semua — tidak peduli jenis kelaminnya — telah menjadi korban tren diet.

“Kita harus membongkar privilese dan diskriminasi terlebih dulu untuk mengakhiri budaya diet,” kata Onorato. “Kisah kesehatan dan kebugaran yang diikuti lelaki berasal dari serangkaian keyakinan yang meninggikan bentuk tubuh tertentu. Semua orang yang gagal memenuhi budaya ideal ini akan merasa tertindas.”