Home Uncategorized Bisakah Kita Menyembuhkan Alergi Makanan Secara Alami?

Bisakah Kita Menyembuhkan Alergi Makanan Secara Alami?

92
0
bisakah-kita-menyembuhkan-alergi-makanan-secara-alami?

Pengguna TikTok emmaeatscarrotss merekam dirinya makan wortel (atau hidangan berbahan wortel seperti kue mangkuk) selama delapan bulan. Dia berharap bisa menyembuhkan “alergi wortel parah” yang dideritanya. Emma, nama pemilik akun itu, memulai misinya pada Juni lalu. Di hari pertama, jantung Emma berdebar kencang dan lidahnya bengkak setelah melahap tiga gram wortel mini. Dia minum Benadryl untuk meredakan reaksi alergi yang muncul. “Kalau kalian kenal saya, tolong jangan mengadu ke ibuku,” katanya dalam bahasa Inggris.

Video Emma disaksikan lebih dari 600.000 pengikut, dan telah ditonton jutaan kali. Dia sekarang bisa makan sampai 20 gram wortel tanpa menunjukkan gejala alergi sama sekali. Dia bilang baru kali ini alerginya tidak kambuh. VICE berusaha menghubungi Emma, tapi dia tidak menanggapi permintaan kami.

Kebanyakan videonya mencantumkan peringatan atau disclaimer agar penonton tidak meniru tindakan Emma. Dia mungkin melakukan ini agar tidak diminta pertanggungjawaban jika ada yang mengalami reaksi parah setelah mengikuti jejaknya. Tak bisa dipungkiri video Emma memberikan sensasi menegangkan, sehingga menarik untuk ditonton. Dia memperlihatkan EpiPen dalam beberapa video, sebagai bukti dia siap menerima konsekuensi terburuk dari aksinya.

Akankah caranya berhasil? Apakah kita benar-benar bisa menyembuhkan alergi tanpa bantuan medis? Pakar mengatakan semua tergantung alerginya, dan sebaiknya tidak dilakukan tanpa pengawasan dokter yang ketat.

Alergi berbeda dari intoleransi makanan. Pakar alergi Mansi Kanuga dari Mayo Clinic berujar, komponen yang bersifat alergen pada makanan (biasanya protein dalam kacang) dapat menimbulkan respons imun atau reaksi alergi. Gejalanya sangat parah, bukan sebatas kembung, mual atau diare yang biasa dirasakan orang dengan intoleransi makanan. Dalam kasus terburuk, reaksi alergi berujung pada kematian.

Pada dasarnya, Emma melakukan imunoterapi oral atau OIT. Hanya saja, dia tidak mendapat pengawasan dari dokter. Dia mengobati dirinya sendiri tanpa tahu itu aman atau tidak. Dokter alergi Ivor Emanuel di San Francisco mengungkapkan, OIT jarang dipraktikkan karena efektivitasnya masih diteliti. Terapi ini membutuhkan banyak observasi dan intervensi medis. Penderita alergi akan mengonsumsi makanan bersifat alergen dengan jumlah yang terus bertambah sampai mereka bisa menoleransinya dalam dosis rendah.

“OIT sering diteliti, tapi tak pernah berhasil,” kata Emanuel. “Studi menemukan desentisasi bersifat sementara, dan tidak diketahui berapa lama terapinya berlangsung. Terapi ini harus dilakukan dalam situasi yang sangat terkendali. Metodenya sulit sehingga hanya segelintir dokter yang bersedia melakukannya.”

Kanaga dan Emanuel berujar OIT umumnya diberikan pada anak-anak yang menderita alergi kacang. Terapi ini dapat mengurangi risiko reaksi alergi parah ketika anak-anak tak sengaja mengonsumsi makanan berbahan kacang.

“Orang tak serta-merta bisa makan selai kacang setelah menjalani imunoterapi oral,” Kanuga menegaskan. Terapi ini hanya untuk mengurangi bahaya makanan pemicu alergi, bukan meningkatkan kemampuan seseorang untuk memakannya dengan bebas.

Emanuel menekankan mengembangkan toleransi terhadap alergi makanan tidak sama dengan mengembangkan toleransi terhadap alergen udara seperti bulu hewan peliharaan. Dia menjelaskan, dalam metode imunoterapi, “kalian secara perlahan memicu alergi sedikit demi sedikit, supaya tidak menimbulkan reaksi besar. Sistem kekebalan lambat laun menjadi toleran terhadapnya.”

Ini bisa dibuktikan pada alergi bulu. Menurutnya, beberapa pasien asma perlahan-lahan menjadi toleran terhadap kucing milik mereka atau pasangan karena sering terpapar bulu kucing.

Namun, Kanuga menerangkan bahwa reaksi alergi makanan jauh lebih kompleks dan jarang diteliti. Gejalanya pun lebih parah dari bersin dan gatal-gatal.

Kanuga dan Emanuel menyarankan agar tidak melakukan terapi tanpa saran dokter alergi dan perawat. Kalian membutuhkan tenaga profesional untuk memantau makanan dan melakukan tindakan ketika muncul reaksi alergi. 

Emma tampaknya menyadari ini. Karena itulah dia meminta penonton untuk tidak mencobanya di rumah. Setelah misinya berjalan hampir 200 hari, dia sudah bisa melahap sampai setengah wortel. Tapi seharusnya, sih, dia berhenti “main dokter-dokteran” dan langsung konsultasi ke ahlinya.

Follow Hannah Smothers di Twitter.