Home Uncategorized Buku Sejarah Ini Menjelaskan Alasan Banyak Warga Belanda Suka Ekstasi

Buku Sejarah Ini Menjelaskan Alasan Banyak Warga Belanda Suka Ekstasi

336
0
buku-sejarah-ini-menjelaskan-alasan-banyak-warga-belanda-suka-ekstasi

Ekstasi, alias MDMA, pertama kali ditemukan pada 1912. Diciptakan oleh perusahaan farmasi Jerman Merck KGaA, ekstasi awalnya berfungsi sebagai pengencer darah. Tapi siapa sangka, efek samping obat ini jauh lebih menyenangkan daripada fungsi aslinya.

Ekstasi berperan besar dalam kancah musik house Belanda. Perdagangan narkoba pun berkembang pesat di sana. Negeri Kincir Angin masih menjadi salah satu produsen dan pengekspor MDMA terbesar di dunia, dan telah mengalami peningkatan kekerasan terkait kejahatan terorganisir dalam beberapa tahun terakhir.

Namun, sebagian besar pembahasan tentang ekstasi terlalu fokus pada kejahatannya, sehingga jurnalis Philippus Zandstra dan Wietse Pottjewijd tergerak menulis warisan budaya yang diawali oleh ekstasi. Buku mereka, XTC – a Biography, menelusuri sejarah MDMA dari obat farmasi hingga fondasi kancah rave di Belanda.

Wawancara telah disunting agar lebih ringkas dibaca.

VICE: Apa pentingnya menulis biografi tentang ekstasi?

Wietse: Ini fenomena budaya yang luar biasa, dan belum ada yang menulis tentangnya. Kenapa ekstasi jadi ciri khas Belanda? Kenapa masih sangat populer sekarang? Kami rasa ini penting untuk dibahas.

Kalian berdua menulis tentang penemuan aneh yang berkaitan dengan ekstasi, seperti kondom. Boleh dijelaskan?

Philippus: Sang penemu berusaha menciptakan kondom yang mengandung ekstasi di tempat perkemahan. Dia berpikir seks akan semakin bergairah jika pemakai kondom merasakan sentuhan MDMA pada alat kelamin mereka. Dia tidak tahu ekstasi ilegal di Belanda, jadi tidak dituntut. [Ini terjadi pada 1989, sedangkan MDMA dianggap ilegal pada 1988.]

Sejak kapan konsumsi ekstasi direpresi di Belanda?

Philippus: Industri hospitality secara terang-terangan menolak rave pada era 90-an. Anak muda jarang pergi ke kelab karena lagu yang diputar hanya “Paradise by the Dashboard Light” dan “The Summer of ‘69” [sementara pesta rave memainkan musik house yang tergolong baru waktu itu]. Mereka mengambinghitamkan ekstasi, dan membujuk politikus untuk menolak obat-obatan ini juga. Salah satu ide mereka adalah dengan menciptakan “mahakarya” [lagu “Say No to XTC” oleh C.I.P. yang mengajak orang untuk tidak mengonsumsi narkoba dan pergi ke rave]. Walaupun jelek, lagu itu akan selalu terngiang-ngiang di kepala — tapi lagunya tidak pernah sukses.

Kapan pemerintah Belanda mulai turun tangan?

Philippus: Efek samping ekstasi belum diketahui pada awal kejayaannya. Pemerintah tidak terlalu agresif merazia ekstasi, seperti yang terjadi di Britania Raya. Mereka menekankan pada kesehatan, makanya pil ini bisa diuji secara legal.

Wietse: Represinya terjadi belakangan, setelah negara lain mendesak Belanda untuk melakukan hal serupa pada awal 2000-an. Prancis mengancam akan mengeluarkan Belanda dari Uni Eropa, Bill Clinton mendesak Belanda untuk menerapkan kebijakan yang lebih ketat. Ketika polisi mulai mempelajari [tentang bahaya ekstasi], banyak kasus pembunuhan dikaitkan dengan ekstasi. Tapi, unit anti-ekstasi dibubarkan pada 2004 setelah negara lain puas melihat upaya yang dilakukan Belanda. Ekstasi bangkit lagi sekitar tahun 2010-an.

Bagaimana dengan sekarang?

Wietse: Menteri Kehakiman dan Keamanan Belanda [Ferdinand] Grapperhaus kerap menyinggung penggunaan narkoba di festival dan menekannya dengan kebijakan represif. Dalam hal keselamatan publik dan lingkungan, konsekuensinya jauh lebih terasa sekarang daripada dulu pada 90-an. Kebijakan represif ini menimbulkan masalah limbah kimia. Pemerintah memotong pasokan bahan mentah, seperti PMK (piperonyl methyl ketone), dari Tiongkok. Produsen akhirnya membuat sendiri.

Philippus: Bahan kimia ini dulunya dibuang ke Yangtze [sungai terpanjang di Asia], tapi sekarang mulai mencemari sungai Maas dan Waal serta cagar alam [di Belanda].

Apa sisi positif ekstasi bagi orang Belanda?

Phillippus: Orang Belanda di masa lalu, khususnya laki-laki, jadi semakin PD untuk joget setelah mengonsumsi MDMA. Pada era 80-an, laki-laki hanya menonton perempuan ajojing di bar. Rumornya laki-laki yang mengonsumsi ekstasi tak malu berpelukan dengan teman dan lebih jujur terhadap perasaannya.

Kenapa kalian tidak menulis pengalaman pribadi di buku ini?

Philippus: Pengguna narkoba sering merasa pengalaman mereka sangat keren, padahal sebenarnya membosankan.

Artikel ini pertama kali tayang di VICE Netherlands.