Home Uncategorized Cewek Ini Konsisten Unggah Foto Eskalator Mati untuk Protes Fasum Rusak

Cewek Ini Konsisten Unggah Foto Eskalator Mati untuk Protes Fasum Rusak

208
0

Inilah potret eskalator paling terkenal di X belakangan. Frasa “Ada tapi Tak Berguna” cocok disematkan padanya.

Kisah eskalator ini beredar di X sejak Oktober 2023. Bermula dari seorang pengguna KRL yang keki berat mendapati salah satu eskalator di Stasiun Bekasi selalu tak beroperasi.

Pengguna ini lantas ngetwit janji pribadinya untuk motret eskalator tersebut tiap datang ke stasiun dan mempostingnya. Aksi ini akan ia ulang sampai eskalator Stasiun Bekasi kembali menyala.

Hingga semalam (23/1), unggahan eskalator mati Stasiun Bekasi sudah menginjak hari ke-93.

Mega adalah cewek 26 tahun di balik akun @pernebangroket. Kepada VICE, ia bercerita sudah memperhatikan eskalator mati di Stasiun Bekasi sejak September. Di bulan itu ia mulai rutin naik KRL untuk ngantor sebagai social media specialist di Jakarta Barat. Sebelumnya, Mega bekerja di Bekasi, kota domisilinya.

“Aku kan merhatiin tuh, hari ini kok mati? Terus beberapa minggu aku menggunakan KRL lagi, kok masih mati? Akhirnya aku mikir, mungkin kalau aku lapor, biasanya kan ditanggepin sama pihak KRL,” kata cewek yang sampai diberi gelar Duta Eskalator Rusak Stasiun oleh @txtdaribekasi.

“Sekali-dua kali [lapor lewat X], di-reply. Terus makin ke sini mungkin adminnya juga capek kali ya nanggepin aku tiap hari. Ya itu pemicunya.”

Setiap hari Mega tiba di Stasiun Bekasi pukul 07.00 pagi. Ia akan mengambil jurusan Manggarai, lalu berganti kereta dan turun di Mangga Besar. KRL menjadi moda transportasi favorit Mega karena tarifnya cuma Rp3.500-Rp5.000, jauh lebih murah daripada naik taksi. Naik motor? Ia merasa terlalu berbahaya. Selain karena jarak yang jauh, Mega selalu pulang kantor di malam hari.

Pada hari libur, ketika hendak main ke Jakarta, KRL tetap pilihan terbaik. 

“Aku tiap hari naik kereta, kan capek ya naik tangga tuh. Walaupun ada lift, kita memprioritaskan orang yang lebih membutuhkan. Kenapa sih eskalator juga enggak nyala-nyala? Kita kan juga butuh, ini kan fasilitas publik, ini kan hak kita gitu,” ujarnya.

Mega lalu iseng mengunggah foto pertama agar dibalas oleh admin Commuter Line. Postingan itu viral dan dijejali komentar warganet yang mengeluhkan hal serupa.

“Netizen banyak yang punya keluhan yang sama kayak aku. Selama ini mereka tuh merhatiin juga kayak, ‘Ini tuh udah setahun tahu, Kak,’ ‘Ini tuh dari Lebaran tahu, Kak.’ Gitu.”

Twit Mega yang viral hingga hari ini belum berhasil membuat eskalator Stasiun Bekasi dibenahi. Walau begitu ia berhasil mengartikulasikan ketidakpuasan pengguna fasilitas umum lainnya. Kalau dilihat dari balasan-balasan yang ia terima sih, pengelola fasum perlu mencamkan ini: warga tuh mantau fasum rusak lho, dan mereka tidak baik-baik saja.

Ketidapuasan yang dirasakan berjamaah membuat keluhan Mega di media sosial menjalar cepat. Netizen lain ikut menggandakan aksi serupa, rutin mengunggah fasum rusak di media sosial. 

Ikhsan (31), pemilik akun @pinisirin, memutuskan ikut jejak Mega juga karena komplainnya tak diseriusi.

“Sebelumnya beberapa kali komplain ke mereka [petugas di stasiun] untuk perbaikan fasilitas juga cuma dijawab template,” kata Ikhsan kepada VICE. Seminggu sejak ia melihat twit Mega, Ikhsan pun membuat seri twit memprotes eskalator rusak di Stasiun Palmerah.

Ikhsan melihat twit foto Mega sebagai suara yang mendesak perubahan. “Selama ini di Indonesia kan biasanya bakal ada tindakan setelah viral. Kebetulan saya mengalami kejadian yang sama di Stasiun Palmerah ini, jadi ya mencoba keberuntungan aja, barangkali dengan cara ini dari pihak KAI atau KRL-nya mau mendengar,” tutur Ikhsan.

Pengguna Stasiun Palmerah lebih beruntung dari kolega mereka di Bekasi. Hari ini (24/1) eskalator yang diprotes sudah beroperasi kembali.

Dan ini respons Mega 🤣

Viralnya eskalator ini akan mengingatkan pada buku Tindakan-tindakan Kecil Perlawanan. Buku ini mengompilasi kisah perlawanan terkesan sepele dari rakyat jelata di yang terbukti berdampak di berbagai belahan dunia. Salah satu cerita paling populer, aksi mogok seks selama seminggu dari para istri di Kenya sukses menekan konflik yang sudah dua tahun berlangsung antara perdana menteri dan presiden setempat.    

Berikut obrolan lengkap VICE dengan Mega perihal protesnya dan rencana memperingati 100 hari eskalator Stasiun Bekasi mati (jika masih enggak diperbaiki juga).


VICE: Dengan konsisten ngetwit gini, harapannya biar direspons akun Commuter Line?

Mega: Iya, betul. Enggak cuma direspons sih, tapi dibenerin juga lah.

Emang biasanya kudu viral dulu ya baru diberesin….

Iya, tapi ini udah viral, tetep enggak bener-bener sih.

Dapet respons apa aja dari netizen?

Ada yang laporan fasum rusak terus nge-tag aku. Aku kayak, “Kenapa lu nge-tag gua???”

Sejauh ini pernah ada respons serius dari pihak Commuter Line?

Waktu itu pernah dibenerin. Jadi day 40 deh kalau enggak salah, dibenerin, tapi itu eskalator yang lain, kan sempet mati juga tuh. Di Twitter rame, “Weee, twitnya akhirnya berhasil. Finally.” Gitu-gitu. Aku mikirnya, mungkin abis ini kali ya [eskalator yang selalu difoto] akan dibenerin. Ternyata enggak.

(Tambahan redaksi: Pada 21 November tahun lalu, Dirjen Perkeretaapian Kemenhub mengatakan pada media, perbaikan eskalator Stasiun Bekasi lama karena suku cadangnya impor dan pengerjaannya menunggu lelang proyek. Tapi ia janji eskalator bakal beres seminggu lagi. Janji itu terpenuhi, tapi untuk eskalator di sisi yang lain 😅.    

Pada 28 November, waktu ditanya kenapa satu eskalator lagi masih mati, pejabat DJKA Kemenhub menyebut “sedikit rumit perbaikannya” dan “bertahap ya”. The rest is history….)

Mana aja sih eskalator yang mati?

Pintu Stasiun Bekasi tuh ada arah Jalan Perjuangan sama arah Jalan Juanda. Yang [selalu] mati ini eskalator turun arah Jalan Perjuangan.

Ada sejumlah netizen yang curhat masalah serupa di twit kamu. Pernah enggak sih kalian tektokan untuk bikin gerakan protes fasum rusak?

Ada satu user, dia tuh suka iseng cosplay jadi railmin [admin KAI]. Jadi kalau aku ngetwit, dia ngebales pakai template-nya si railmin. Akhirnya kita DM-DM-an. Ada rencana nanti pas day 100 mau ada gerakan gitu. Kita mau nabur bunga lah, yang mau pengajian lah, yang mau naroh karangan bunga lah.

Rencana ada sih, donatur juga udah ada. Tapi aku masih bingung nge-handle-nya gimana. Untuk lebih lanjutnya belum tahu sih jadi apa enggaknya.

Apa sih dampak paling merepotkan yang kamu rasakan dengan matinya eskalator ini? 

Kalau lagi ngejar waktu. Kadang aku juga suka kesiangan. Kalau eskalatornya jalan, kita sambil lari kan bisa menghemat waktu. Kalau kita naik tangga, udah habis tenaga, habis waktu juga. Belum lagi nanti sampai peron, kita bertarung lagi, ngabisin energi lagi. Lebih capek. Terus kemarin sempet kaki aku pincang [karena cedera], berat banget sih [harus pakai tangga]. Beberapa kali juga aku lihat ibu-ibu lansia kesusahan.

Kapan hari kan ada yang usul tuh supaya foto-foto eskalatormu dikolase terus dikirimkan ke ARTJOG biar dipamerkan sebagai karya seni. Idenya menarik enggak?

Menarik banget. Cuma aku enggak paham step-nya tuh kayak gimana. Mungkin kalau ada yang nge-reach out aku, ada yang serius gitu buat ngewujudinnya, aku mau banget, hahaha.

Minggu-minggu ini para capres lagi aktif banget keliling bikin forum buat ngumpulin aspirasi masyarakat. Kak Mega kepikiran enggak buat dateng dan nyampein isu fasum rusak?

So far belum ada kepikiran. Mungkin kalau nanti ada kesempatan, banyak teman-teman netizen memiliki suara dan keluhan yang sama, mungkin mau kali, bareng teman-teman yang memiliki keluhan yang sama.