Home Uncategorized Dear Cowok, Kapan Terakhir Kali Kalian Menangis?

Dear Cowok, Kapan Terakhir Kali Kalian Menangis?

100
0
dear-cowok,-kapan-terakhir-kali-kalian-menangis?

Laki-laki hanyalah manusia biasa yang punya perasaan. Mereka juga bisa sedih dan galau, cuma jarang meluapkan emosi melalui tangisan. Sejak kecil mereka diajarkan untuk menjadi makhluk yang kuat. Katanya lelaki sejati tidak boleh cengeng.

Namun, terlalu sering memendam semuanya sendiri juga tidak bagus. Cowok akan merasa terisolasi, sehingga akhirnya kesehatan mental menjadi taruhan. Berbagai penelitian bahkan telah membuktikan dukungan emosional yang besar dari keluarga dan teman dapat mencegah bunuh diri pada laki-laki.

VICE ingin lebih memahami cara laki-laki mencurahkan perasaan mereka, dan alasan mereka jarang menangis. Kami menanyakannya kepada sejumlah orang yang kami temui di jalanan.

Ash (28), Ben (28), Abdullah (28), Daniel (28)

Empat orang cowok

Kiri ke kanan: Ash, Ben, Abdullah, dan Daniel.

VICE: Masih ingat kapan terakhir kali kamu menangis?

Ash: Kalau tidak salah saat kakek meninggal satu setengah tahun lalu. Saya dekat dengan kakek, tapi tempat tinggalnya jauh dari rumahku. Saya sedih melihat kakek menderita tumor ganas yang tidak bisa diobati.

Daniel: Setelah anjingku mati. Saya awalnya tidak menangis, tapi air mata mengalir begitu saja keesokan harinya.

Ben: Saya menangis bahagia ketika putriku lahir belum lama ini.

Apakah harus ada waktu tertentu untuk boleh menangis?

Ash: Tidak ada. Saya tidak menahan diri, tapi hampir tidak pernah berada dalam situasi harus menangis. Perempuan menangis karena berbagai alasan, sedangkan laki-laki baru menangis ketika ada peristiwa besar yang terjadi.

Kamu tidak pernah menangis saat tertekan?

Ash: Saya jarang merasakan itu. Kalaupun saya sedang sedih, saya tidak pernah menangisinya. Saya mencoba untuk tetap berpikiran positif dengan makan atau main Xbox. Saya lebih sering menceritakan masalah kepada teman daripada sama keluarga.

Menurutmu, apa yang membuat laki-laki jarang menumpahkan emosinya?

Abdullah: Cowok terlalu gengsi memperlihatkan perasaan mereka. Seharusnya kebiasaan ini diubah.

Akankah kebiasaannya berubah?

Abdullah: Ya, seiring berjalannya waktu. Kita sudah bisa melihatnya sekarang. Komunitas LGBTQ jauh lebih terbuka soal perasaan mereka. Suatu saat nanti, laki-laki takkan malu menangis dan berpegangan tangan, serta bisa mengomunikasikan perasaannya dengan baik.

Tijmen (18), Daan (18)

Dua orang cowok.

Kiri ke kanan: Tijmen dan Daan.

Kapan kamu menangis terakhir kalinya?

Tijmen: Sekitar dua minggu lalu. Sekolah menelepon ayah untuk memberi tahu saya gagal mendapat gelar. Kami sadar ini akan terjadi karena mata kuliahnya sangat berat dan tidak sesuai dengan kemampuanku, tapi air mata tetap mengalir ketika tahu semuanya telah berakhir. Kerja kerasku dan uang hasil jerih payah ayah terbuang sia-sia.

Daan: Saya menelepon ibu beberapa minggu lalu. Awalnya kami ngobrol biasa, tapi lama-lama saya curhat ibu memperlakukan berbeda dari saudara yang lain. Kami bisa membicarakannya dengan baik, tapi pembicaraannya semakin lama semakin emosional. Saya hanya menangis sebentar. Ibu mengapresiasi kejujuranku saat itu.

Bisakah kamu memberi tahu teman tentang perasaanmu?

Tijmen: Bisa saja, tapi itu jarang terjadi. Saya ketemu teman untuk bersenang-senang. Tidak masalah kalau mau curhat, tapi habis itu akan: “Sekarang waktunya melupakan semua itu dengan minum-minum.”

Terus kamu menangis ke mana?

Daan: Saat sendirian, atau ke pacar. Tapi ini jarang terjadi. Saya lebih sering menyembunyikan perasaan.

Apakah kamu memiliki tempat yang aman untuk menangis?

Daan: Saya tidak mau bikin orang lain pusing dengan masalah pribadiku. Saya ingin menyelesaikannya sendiri, dan tidak pernah menempatkan diri pada situasi harus membutuhkan bantuan orang lain.

Jeremy (24)

Jeremy di sebuah jalan di Belanda.

Jeremy.

Kapan terakhir kali kamu menangis?

Ketika saya berpisah dengan keluarga di Singapura dua tahun lalu. Saya merantau ke Melbourne, Australia untuk kuliah. Saya tak kuasa membendung air mata ketika mengucapkan selamat tinggal di bandara, tapi baru menangis saat saya sudah sendirian.

Kenapa kamu begitu?

Mungkin sudah jadi kebiasaan orang Asia untuk tidak menunjukkan perasaan di hadapan orang tua. Banyak temanku yang bersembunyi ketika ingin menangis. Saya akan melakukan itu saat sedih supaya bisa mengendalikan emosi, atau bercerita kepada teman yang tidak akan mengkhianatiku.

Kenapa kamu berpikiran seperti itu?

Saya tidak pernah melihat ayah menangis, bahkan saat upacara pemakaman sekali pun. Mungkin karena itu alasannya saya jarang menangis.

Apa yang akan terjadi pada generasi berikutnya?

Saya rasa orang-orang akan semakin menerima sisi rapuh mereka, dan generasi berikutnya akan lebih terbuka dengan konsep laki-laki menangis. Kita belum sampai ke titik itu. Beberapa temanku lebih jujur tentang perasaannya kepada orang asing, atau mencari bantuan di internet ketimbang ngobrol dengan orang yang sudah mereka kenal. Mereka membutuhkan ruang aman, seseorang yang takkan menghakimi mereka.

Ajay (22)

Ajay

Ajay.

Kapan kamu menangis terakhir kalinya?

Kira-kira enam bulan lalu saat main ke rumah ayah di New York. Ayah tinggal bersama adik perempuanku. Keluarga kami sedang dilanda masalah saat itu, jadi saya harus pulang kampung. Saya tidak tega meninggalkan adik sendirian di sana. Saya merasa bersalah tidak bisa mengurusnya karena jarak yang terlalu jauh.

Apakah kamu bisa menangis kapan saja kamu mau?

Bisa, cuma saya selalu menahannya saat bersama keluarga. Sewaktu mereka mengantarkanku ke bandara, kami hanya tinggal menunggu seseorang untuk menangis. Sebagai kakak, saya tidak mau menangis duluan karena yang lain pasti akan ikutan juga.

Apakah kamu merasa ada stigma seputar laki-laki menangis?

Tentu saja ada, tapi saya yakin ini sudah mulai berubah. Tingginya tingkat bunuh diri di kalangan laki-laki [lebih tinggi daripada perempuan] menunjukkan ada yang salah di sini. Masalah ini bisa dihindari jika laki-laki mau lebih terbuka tentang emosinya.

Menurut kamu, apakah kita membutuhkan lebih banyak ruang aman untuk mengekspresikan emosi?

Ya. Hanya saja saya rasa setiap orang punya ruang amannya sendiri. Saya pribadi lebih mudah bercerita dengan teman saat kami di dalam mobil. Laki-laki tidak malu menunjukkan sisi emosional mereka di depan orang kepercayaan mereka, tapi caranya tak melulu dengan menangis. Jika kita ingin mematahkan stigma cowok tidak boleh menangis, maka kita perlu menunjukkan kenapa itu penting dilakukan. Laki-laki perlu diajarkan memahami perasaan mereka sendiri sejak kecil.

Artikel ini pertama kali tayang di VICE Netherlands pada 2019.