Home Uncategorized ‘Dicap Mengotori Kesucian’: Kisah Para Perempuan yang Diasingkan Selama Menstruasi

‘Dicap Mengotori Kesucian’: Kisah Para Perempuan yang Diasingkan Selama Menstruasi

58
0
‘dicap-mengotori-kesucian’:-kisah-para-perempuan-yang-diasingkan-selama-menstruasi

Seniman India Poulomi Basu punya misi besar saat memutuskan untuk memulai proyek Blood Speaks pada 2013. Dia ingin menunjukkan kepada dunia, tradisi kuno Chhaupadi yang pernah tumbuh kembang di sejumlah wilayah Nepal dan India.

Di lingkungan masyarakat yang mempraktikkan budaya ini, perempuan dipaksa tinggal di gubuk atau kandang ternak yang tak layak huni setiap bulannya. Mereka diasingkan karena menstruasi. Darah mereka dianggap dapat mengotori kesucian komunitas.

Hasil jepretan Basu yang menyayat hati kini tampil dalam festival fotografi Photo 2022 yang digelar bulan ini di Melbourne, Australia.

Dipraktikkan sejak berabad-abad lalu, tradisi Hindu ini berawal dari takhayul dan kerap dikaitkan dengan kisah guru Vishvarupa yang dibunuh raja para dewa Indra. Dikutuk, dewa Indra berusaha meringankan dosa dengan membagikannya pada empat elemen: sungai, pohon, tanah dan perempuan. Darah menstruasi menjadi pengampunan dosa — perempuan haid dicap tak tersentuh dan setiap kontak dengan mereka dianggap tak suci.

Blood Speaks awalnya merupakan proyek riset Basu bersama badan amal WaterAid, tapi akhirnya bertransformasi menjadi kampanye visual tentang kekerasan dan diskriminasi yang menimpa perempuan Asia Selatan. Proyek ini mengangkat isunya ke tingkat global.

Basu pribadi secara tidak langsung mengalami seperti apa rasanya diasingkan selama menstruasi. “Saya beragama Hindu. Saat muda dulu, saya tidak boleh mendatangi perayaan dan tempat-tempat tertentu selama menstruasi,” ungkapnya. “Saya mengetahui versi lebih ringan dari bentuk kekerasan ini dan misogini yang telah dinormalisasi.”

“Tapi tidak seekstrem para perempuan yang diperlakukan bak binatang, serta mereka yang diperkosa dan dibunuh. Terkadang mereka dianiaya hingga tewas.”

Basu menjelajahi desa-desa di Nepal dan India untuk mengabadikan kondisi mengenaskan yang dialami perempuan setiap datang bulan. Karya fotonya mengajak kita menyaksikan jerat patriarki yang membelenggu banyak korban. 

Seniman yang merangkap sebagai aktivis ini sering mendapati dirinya dipantau oleh para tetua selama mengambil foto. Para tetua perempuan juga turun tangan dalam praktik pengasingan tersebut.

“Ini bentuk ekstrem kekerasan pengasingan menstruasi, yang memiliki konsekuensi fisik, emosional dan psikologis,” terang Basu. “Bagi saya, proyek ini mengekspos perjuangan hidup perempuan, yang proses transisinya ke masa dewasa dipandang sebagai ancaman karena seksualitas perempuan amat ditakuti.”

“Perempuan sering kali tidak memiliki outlet. Mereka harus diajak berbicara agar mereka memahami kalau itu keputusannya. Banyak orang yang memantau di sekitar mereka, seperti ibu mertua dan suami. Kamu harus mendapat izin mereka untuk bertemu para perempuan itu.”

“Mereka merampas kedaulatan perempuan.”

Karya foto Poulomi Basu dalam acara Photo22 di Melbourne, Australia.

Karya foto Poulomi Basu dalam acara Photo22 di Melbourne, Australia.

Meski Chhaupadi telah ditetapkan sebagai tindak pidana pada 2018, Basu mengungkapkan tradisi pengasingan masih dilanggengkan di sejumlah daerah pedesaan. Dia menyinggung berita tentang perempuan bernama Parvati yang tewas bersama bayinya di gubuk sempit pada 2019, setahun setelah praktiknya dikriminalisasi. Mereka tak kuat bertahan di tengah musim dingin yang amat menusuk. Kematian Parvati menunjukkan masih adanya penindasan terhadap perempuan dengan alasan melestarikan budaya, meski kali ini dalam bentuk tradisi lain seperti Festival Rishi Panchami di Nepal.

“Memang sudah banyak yang berubah. Tapi kenyataannya, di kota-kota seperti Kathmandu, terutama dengan adanya Festival Rishi Panchami, perempuan masih harus menyucikan diri di Sungai Bagmati supaya mereka tidak bereinkarnasi sebagai pelacur,” Basu menjelaskan.

“Ini hari libur nasional bagi perempuan, tapi sangat terasa kesan misogini dalam perayaannya. Ini sulit dipercaya dan telah mendarah daging [dalam budaya India].”

Basu belum bisa melupakan perempuan yang berani menentang Chhaupadi di usianya yang baru 16 tahun. Dia menolak diasingkan ke sebuah gubuk, tapi keputusan itu membuatnya menerima ancaman akan dibunuh. Basu akhirnya mengajak dia bergabung dengan organisasi masyarakat yang memberinya ruang untuk bersuara. Di situasi seperti ini, dia menemukan reaksi berantai.

“Saya memperhatikan saat satu perempuan menceritakan pengalamannya, semakin banyak yang ikut bercerita,” tuturnya. “Seolah-olah ‘kami ingin cerita saat sudah siap bercerita’.”

“Saya menganggap mereka sebagai penyintas, bukan korban. Mereka punya outlet untuk mengungkapkan penderitaannya.”

Menurut Basu, dengan diberikannya ruang kepada para penyintas, ini bisa meningkatkan kualitas hidup perempuan di seluruh aspek kehidupan masyarakat.

“Outlet ini berhubungan dengan hak perempuan memperoleh pendidikan, yang nantinya berdampak pada keadilan lingkungan dan keputusan lain yang dibuat oleh masyarakat,” ujarnya.

Selain itu, Basu menyebut pentingnya edukasi dini pada anak laki-laki guna mengakhiri tradisi misoginis tersebut.

“Saya pikir waktu terbaik mengedukasi laki-laki yaitu sejak mereka masih remaja, agar mereka tidak menjadi pelaku kekerasan di masa depan,” katanya.

Pameran Blood Speaks menyediakan pengalaman virtual reality (VR) untuk menyelami kisah tiga perempuan yang diasingkan setiap menstruasi demi “menjaga kesucian” komunitas.

Basu berharap proyek ini dapat memberantas praktik pengasingan perempuan menstruasi hingga ke akarnya, sambil sekaligus memberi ruang bagi mereka yang dibungkam suaranya selama berabad-abad.

BLOOD-SPEAKS_002.JPG
BLOOD-SPEAKS_003.JPG
BLOOD-SPEAKS_004.JPG
BLOOD-SPEAKS_005.JPG

Follow Julie Fenwick di Twitter dan Instagram.