Home Uncategorized Diet Puasa Berseling Tidak Sesehat yang Dibayangkan Orang

Diet Puasa Berseling Tidak Sesehat yang Dibayangkan Orang

136
0
diet-puasa-berseling-tidak-sesehat-yang-dibayangkan-orang

Tren diet sehat yang bermunculan dewasa ini sangat membingungkan. Dulu banyak minum dipercaya ampuh mengobati segala macam hal, tapi sekarang kita tidak boleh keseringan minum. Nge-jus yang katanya bagus untuk detoks ternyata bisa merugikan kesehatan. Jangan lupa juga dengan diet keto yang rutin dikecam pakar.

Sekarang pola diet yang sedang booming adalah “intermitten fasting” atau diet puasa berseling. Saking populernya, intermittent fasting sampai menjadi istilah diet yang paling banyak dicari di Google tahun lalu.

Tidak ada pantangan makanan sama sekali untuk diet ini, karena yang ditekankan adalah waktu makan orang yang menjalaninya. Selain disebut-sebut memiliki efek samping paling kecil, intermitten fasting diyakini mampu meningkatkan fungsi metabolisme, mencegah penyakit tertentu dan memperpanjang umur.

Namun, klaim tersebut pun telah dibantah dalam studi yang diterbitkan di JAMA Internal Medicine.

Para peneliti melakukan uji klinis acak pada 116 responden untuk melihat apakah diet puasa ini benar-benar lebih sehat. Peserta yang diklasifikan sebagai obesitas dan kelebihan berat badan dibagi ke dalam dua kelompok, yakni kelompok yang menjalani diet puasa dan kelompok yang makan tiga kali sehari. Pola makan mereka diamati selama tiga bulan.

Peneliti memprediksi kelompok dengan intermitten fasting akan mengalami penurunan berat badan yang lebih besar daripada kelompok lainnya. Namun, mereka tidak menemukan penurunan berat badan yang signifikan setelah membandingkan hasilnya. Selain itu, tidak ada perbedaan insulin lemak, massa puasa, gula darah atau lipid darah antara kedua kelompok.

Berat badan peserta yang menjalani diet puasa turun sekitar 1,5 kg, tetapi yang hilang justru massa bebas lemak termasuk otot. Jadi sama sekali bukan lemak. Biasanya sekitar 20-30 persen berat yang turun berupa massa bebas lemak, tapi studi ini menunjukkan massa bebas lemak yang hilang dalam intermitten fasting mencapai 65 persen.

Para peneliti, yang salah satunya sudah tujuh tahun diet puasa, sangat tidak menyangka akan melihat hasil seperti ini. Bukan hanya penurunan beratnya tidak signifikan, membatasi waktu makan rupanya memiliki efek samping bagi tubuh yaitu hilangnya otot tanpa lemak.

“Membatasi waktu makan tak banyak menurunkan berat badan [hanya .2 pon per minggu dengan rata-rata selama 12 minggu],” Ethan Weiss, ahli jantung dari University of California, memberi tahu Inverse. “Tidak ada manfaat metabolik lain. Lebih mengkhawatirkannya lagi diet ini justru menghilangkan massa bebas lemak.”

Follow Varsha di Instagram.