Home Uncategorized Dokter Muda di Surabaya Bunuh Diri, Diduga karena Bullying Senior Saat Residensi

Dokter Muda di Surabaya Bunuh Diri, Diduga karena Bullying Senior Saat Residensi

150
0
dokter-muda-di-surabaya-bunuh-diri,-diduga-karena-bullying-senior-saat-residensi

Mahasiswa Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Bedah Plastik Universitas Airlangga berinisial ABC (28) bunuh diri pada Sabtu (29/8) pekan lalu.

Keluarga menemukan mendiang roboh setelah meminum cairan pembersih lantai. Korban sempat dibawa ke RSUD Dr. Soetomo Surabaya, namun nyawanya tak tertolong. Keluarga meyakini, dia bunuh diri karena tak kuat dirundung seniornya sesama dokter.

Dugaan itu muncul karena mendiang baru tiga hari memulai stase, sebutan untuk praktik magang dokter muda bedah plastik RSUD dr. Soetomo. Kerabat korban sampai meminta menteri kesehatan memeriksa kegiatan praktik PPDS bedah plastik di RS tersebut, karena diduga ada dokter senior yang kerap merundung juniornya.

“Harus diaudit karena bedah plastik Surabaya senang bullying residen yang junior, mungkin penyebabnya [bunuh diri] juga bullying. Kalau PPDS itu aset negara, Pak Menkes mudah-mudahan merespons kasus beginian. Suasana bedah plastik di Surabaya tidak sehat sekali. Anak saya, perempuan, 2,5 tahun [menjalani PPDS] memutuskan mengundurkan diri. Semoga mereka diaudit dan ada perubahan dalam sistem pendidikan terhadap nasib PPDS,” kata kerabat mendiang yang tak disebutkan namanya kepada Liputan Indonesia.

“Kami kaget atas kejadian dr. Albertus meninggal dunia, sementara infonya karena bunuh diri dengan minum Vixal. Dugaan awal penyebabnya di-bully seniornya,” kata kerabat lain, dilansir Jatim Times.

Pihak Unair dan RSUD dr. Soetomo masih bungkam soal kasus ini. Rektor Unair Moh. Nasih mengatakan belum bisa bercerita panjang lebar karena yang paham detail kasus adalah rumah sakit. Ia mengaku, Unair belum dikirimi laporan apa pun.

“[Kami] masih mendalami [penyebab kematian], dan saya belum dapat laporan dari kawan-kawan FK dan RSUD dr. Soetomo. Tunggu kabar dan informasi lebih detailnya, karena saya belum ada laporan secara pasti. Penyebab kematiannya apa, kami tidak tahu itu kan urusan rumah sakti. Yang jelas yang bersangkutan baru tiga hari praktik di rumah sakit. Tunggu proses yang ada,” kata Nasir dilansir Medcom.

Pihak rumah sakit memberi respons lebih tertutup kepada wartawan. Direktur Pendidikan Profesi dan Penelitian RSUD dr. Soetomo Cita Rosita Sigit meminta wartawan menunggu kabar terbaru langsung dari direktur utama dan Ketua Promosi Kesehatan Rumah Sakit. Sementara, sang Dirut Joni Wahyunadi mengatakan, ada kode etik kedokteran yang membuat informasi kasus ini hanya boleh disampaikan keluarga.

“Pasien punya hak dilindungi, sedangkan rumah sakit melindungi segala macam bentuk informasi pasien. Kami tidak akan memberikan klarifikasi apa pun terkait pasien-pasien di rumah sakit. Kita menghormati pihak keluarga yang sedang berkabung,” kata Kepala Humas RSUD dr. Soetomo Pesta Parulian kepada Kumparan.

Kementerian dan Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) mengaku belum bisa bertindak lebih lanjut meski sudah mendengar kabar kasus ini dari media. Direktur Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kemdikbud Aris Junaidi mengaku pihaknya sedang menunggu laporan resmi dari Unair sebelum ikut campur.

Mengingat ada dugaan isu perundungan di sini, Aris juga menyampaikan bahwa Kemendikbud tengah menggodok permendikbud baru yang di dalamnya mengatur soal kekerasan seksual dan perundungan. “Termasuk bullying, sedang disiapkan regulasinya. Sehingga nanti bisa digunakan sebagai pedoman semua perguruan tinggi,” tutur Aris.

Perundungan kepada dokter dan tenaga kesehatan muda di Tanah Air beberapa kali mencuat dalam diskusi pengguna media sosial. Umumnya pelaku adalah dokter senior atau pemangku otoritas di instansi setempat. Bullying yang dilakukan berkisar dari kekerasan verbal sampai diperintah membelikan makanan dan minuman mahal untuk dokter konsulen (pembimbing).

Menurut penelitian Journal of American Medical Association yang dirilis pada 2015, dari 17 ribu dokter residen di seluruh dunia yang diteliti sepanjang 1963-2015, sebanyak 29 persen di antaranya mengalami depresi. Sedangkan dalam penelitian 2016 di jurnal yang sama, sebanyak 27 persen dari 129 ribu mahasiswa kedokteran 47 negara depresi. Sebelas persen di antaranya bahkan terpikir untuk bunuh diri.

Di Indonesia, penelitian Putri dan Soedibyo pada 2011 pernah merekam, 23 persen dari 117 orang dokter residen Program Pendidikan Dokter Spesialis Ilmu Kesehatan Anak FKUI-RSCM mengalami depresi. Sebagian besar responden mengatakan depresi mereka berhubungan dengan program studi. Di antara penyebabnya adalah tuntutan berat harus bekerja hingga 80 jam seminggu.


Jika kalian mengenal seseorang yang sedang tertarik atau memiliki gagasan bunuh diri, luangkan waktu sejenak membantu mereka. Arahkan kawan atau saudara kalian itu agar curhat dan konsultasi pada pakar lebih lanjut. Salah satunya adalah menghubungi hotline 021-500-454 dari Kementerian Kesehatan untuk konsultasi kesehatan jiwa. Lembaga lain yang bisa dihubungi adalah LSM ‘Jangan Bunuh Diri’ yang bisa diajak ngobrol melalui nomor telepon (021 0696 9293) atau hubungi lewat surel janganbunuhdiri@yahoo.com.

Banyak sekali kawan-kawan kita yang berjuang menghadapi depresi dan pikiran-pikiran kalut setiap hari.

Percayalah, kalian tidak sendirian.