Home Uncategorized Inilah Alasan Ilmiah Kamu Susah Mengusir Rasa Sedih

Inilah Alasan Ilmiah Kamu Susah Mengusir Rasa Sedih

32
0
inilah-alasan-ilmiah-kamu-susah-mengusir-rasa-sedih

Manusia pada dasarnya mudah diliputi perasaan negatif. Kebanyakan dari kita cenderung memikirkan hal buruk daripada yang positif, sehingga akhirnya tak jarang orang berlarut-larut dalam kesedihan. Dalam ilmu psikologi, kecenderungan ini dikenal sebagai bias negativitas, yang mana otak lebih memperhatikan peristiwa buruk daripada kenangan indah.

Saya sendiri merasakan itu. Setiap kali mengenang momen penting dalam hidup, entah mengapa saya lebih cepat mengingat pengalaman buruk yang pernah dilalui. Saya belum bisa melupakan pahitnya putus cinta pertamaku, padahal kejadiannya sudah lama sekali.

Terlepas kita menginginkannya atau tidak, akan selalu ada kenangan buruk yang tersimpan dalam memori kita. Ini pasti terjadi dalam hidup. Tapi yang jadi pertanyaan, mengapa hal negatif gampang nyangkut di pikiran kita? Apakah kenestapaan memang lebih kuat daripada perasaan bahagia?

Terapis Mareile Poettering berpengalaman menangani pasien psikosomatik, masalah fisik yang disebabkan faktor psikologis. Saya menghubunginya untuk mencari tahu kenapa kita sulit sekali menyingkirkan rasa sedih, sekaligus bertanya apa yang sebaiknya kita lakukan supaya bisa tetap menikmati hidup di tengah peliknya persoalan hidup.

Perempuan berambut pirang dan mata biru.

Mareile Poettering. Foto milik pribadi.

VICE: Kenapa kita lebih sering sedih daripada bahagia?

Mareile Poettering: Dari pengalamanku sebagai terapis, kebanyakan orang memang merasakan emosi negatif yang lebih kuat daripada perasaan positif. Akan tetapi, kamu tidak bisa menyamaratakan ini. Setiap orang memproses perasaannya secara berbeda-beda.

Mengapa kita bisa seperti itu?

Jika dilihat dari perspektif sosial, kita akan berusaha sekuat tenaga menghindari hal-hal negatif. Duka dan kesedihan terasa lebih menakutkan daripada perasaan senang. Kegembiraan jarang dikaitkan dengan bahaya, sehingga kita juga jarang menyikapi perasaannya. Banyak orang tidak memahami caranya merayakan kebahagiaan.

Kita butuh waktu yang sangat lama menyingkirkan emosi negatif, seperti patah hati. Tapi giliran sedang bahagia, kita hampir tidak pernah memikirkan perasaan senang itu. Apakah kebahagiaan perasaan yang lebih pasif?

Andai saja kita terbiasa menanamkan energi positif dalam hati, kita pasti akan merasakan kegembiraan yang jauh lebih intens. Di sisi lain, kita tidak bisa secara pasif mengatasi masa-masa sulit. Emosi itu akan terus menumpuk dan akhirnya memengaruhi kesehatan tubuh jika dibiarkan begitu saja. Itu bisa menjadi sumber penyakit.

Bagaimana kesedihan memengaruhi kondisi fisik?

Banyak pasien saya yang sakit-sakitan karena tak mampu memproses luapan emosinya. Sindrom patah hati [nyeri dada yang sering dikira serangan jantung], misalnya, dapat dipicu oleh stres atau kesengsaraan berlebihan.

Perasaan sedih tentu tidak dapat dihindari; itulah kenapa saya tak mau menyebutnya negatif atau buruk. Kita memerlukan kesedihan untuk merasakan hal-hal menyenangkan. Perasaan ini memiliki begitu banyak potensial, makanya penting sekali bagi kita untuk mengatasinya. Emosi akan terus berkecamuk apabila terus-terusan dipendam, dan ini bisa menimbulkan efek psikosomatik pada tubuh.

Saat kita hanyut dalam kesedihan, apakah itu artinya kita belum berhasil menyikapinya?

Mengobati patah hati, misalnya, akan terasa lebih sulit jika kamu tidak menyadari akan ada emosi-emosi lain yang muncul selain kesedihan. Kamu juga bisa merasa marah dan malu saat mengalami putus cinta. Ditambah lagi, tidak gampang melupakan orang yang pernah berarti dalam hidupmu.

Masyarakat khususnya memandang rasa malu dan harga diri rendah secara negatif. Karena itulah kita akan melakukan segala cara untuk menghindarinya, padahal perasaan itu pasti muncul dalam diri setiap manusia. Kita sering berkata kepada diri sendiri, bahwa kita hanya merasa sedih karena itu lebih dapat diterima secara sosial. Padahal kenyataannya, rasa sedih jauh lebih kompleks.

Artikel ini pertama kali tayang di VICE Germany.