Home Uncategorized Kalian Merasa Mudah Lelah, Depresi dan Cemas? Bisa Jadi Itu Gejala Tiroid

Kalian Merasa Mudah Lelah, Depresi dan Cemas? Bisa Jadi Itu Gejala Tiroid

315
0
kalian-merasa-mudah-lelah,-depresi-dan-cemas?-bisa-jadi-itu-gejala-tiroid

Sembilan tahun lalu, beberapa bulan menjelang Ujian Nasional SMA, aku tiba-tiba menemukan benjolan cukup besar di leher bagian kanan. Aku merasa tidak ada yang aneh sebelumnya, makanya heran sekali kenapa leherku mendadak sakit ketika tidak sengaja tersentuh pada siang itu. Aku langsung memberi tahu ibu, dan setelahnya hari-hariku dipenuhi konsultasi dokter yang melelahkan.

Usai menjalani biopsi, aku didiagnosis menderita hipertiroid. Dokter menyebutkan gejala-gejala yang mungkin dialami penderita gangguan tiroid. Sejak itu, aku menyadari sikap lekas marah dan gampang gelisah ini sulit dihilangkan bukan karena aku tidak mampu mengendalikan emosi. Ketidaksukaanku pada cuaca panas bukanlah perasaan irasional semata. Semua ada alasannya.

Kelenjar tiroid berperan penting dalam mengatur metabolisme tubuh, sehingga kelainan pada kelenjar ini dapat menurunkan kualitas hidup seseorang.

Ketika memperingati Pekan Kesadaran Tiroid Internasional 2017, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan RI dr. Lily Sriwahyuni Sulistyowati, MM menyatakan dalam siaran pers bahwa hasil riset IMS Health 2015 menunjukkan “sebanyak 17 juta masyarakat Indonesia mengalami gangguan tiroid.” Namun, tidak menutup kemungkinan jumlah kasusnya lebih banyak dari perkiraan karena kelainan ini sering kali tidak terdiagnosa. Pada 2017, 49 persen responden perempuan dari seluruh dunia yang mengikuti survei PT Merck Tbk bahkan mengira gaya hiduplah yang membuat mereka sulit tidur dan gampang gelisah.

“Kelenjar tiroid merupakan kelenjar endokrin yang menghasilkan dan mengeluarkan hormon,” terang Profesor Laura Fugazzola selaku Kepala Pusat Tiroid di departemen Gangguan Endokrinologi dan Metabolik Italian Auxology Institute. Hormon T4 dan T3 yang diproduksi kelenjar di bawah leher ini kemudian dikendalikan oleh hormon TSH pada kelenjar pituitari. Hormon-hormon ini berfungsi mengontrol penggunaan energi, suhu tubuh, detak jantung, kekuatan otot, dan banyak lagi lainnya.

Hipotiroid terjadi ketika kelenjar memproduksi hormon tiroid dalam jumlah sedikit. Kondisi ini bisa menyebabkan penderitanya mudah lelah, pusing, mengantuk, depresi, bengkak, rambut rontok dan gampang kedinginan. Sementara itu, hipertiroid merupakan kondisi kelebihan hormon tiroid yang dapat memicu insomnia, jantung berdebar, hiperaktif, gelisah, mudah marah, berat badan turun, dan keringat berlebih. Jika tidak ditangani, gangguan tiroid bisa memengaruhi kesuburan.

Gangguan tiroid jarang terdiagnosis karena gejalanya bisa seremeh mudah lelah. “Ternyata selama ini aku pingsan setelah makan malam atau punya kebiasaan pelor (nempel molor) karena mengidap gangguan tiroid,” tutur Alice yang baru sadar dirinya mengidap hipotiroid setelah memeriksa kesehatan. Itupun karena ibunya habis didiagnosis mengalami gangguan tiroid. Hasil tes Alice menunjukkan kadar hormon dan metabolismenya sangat rendah.

Perempuan lebih rentan terserang gangguan tiroid, terutama setelah mereka menopause. Pengetahuan kita seputar penyakit ini juga masih minim, sama seperti penyakit lainnya yang sering dialami oleh perempuan, seperti endometriosis atau sindrom ovarium polikistik. “Semua perempuan pasti pernah kecapekan, tidak bersemangat dan mengalami rambut rontok,” lanjutnya. “Tapi masyarakat sering menyepelekan gejala-gejala ini sehingga penyakitnya kerap tidak terdeteksi.”

Kekurangan yodium adalah salah satu penyebab utama gangguan tiroid. Tubuh membutuhkan mineral penting ini untuk membuat hormon tiroid. Kasus kekurangan yodium marak terjadi di negara berkembang, termasuk Indonesia.

Hipotiroid terkadang dapat disebabkan oleh pengobatan sebelumnya. Ketika hasil tes menunjukkan nodul yang membesar atau sel abnormal pada kelenjar tiroid, dokter cenderung menyarankan pengangkatan sebagian kelenjar. Akan tetapi, operasi pengangkatan tak jarang semakin mengurangi produksi hormon, yang akhirnya dapat menyebabkan masalah kesehatan lainnya.

Giuditta, 34 tahun, mengangkat kelenjar tiroid kanannya ketika masih berusia 13. Dia mengalami gondok atau pembengkakan kelenjar tiroid. “Ibu melihat ada benjolan kecil naik turun saat aku sedang mengunyah salad,” tuturnya. “Aku buru-buru dibawa ke dokter, padahal belum selesai makan.”

Giada, 27 tahun, menjalani operasi pengangkatan pada usia 21. Sejak itu, dia rutin melakukan pengobatan hipotiroidisme. Gangguan tiroidnya ketahuan ketika dia mengikuti tes gratis dari rumah sakit. “Waktu itu sedang memperingati hari kesadaran tiroid,” katanya. “Ibuku yang mengidap borderline hypochondriac bersikeras periksa ke dokter bersamaku.”

Para dokter yang memeriksanya punya pandangan berbeda terkait operasi, tapi akhirnya Giada memilih operasi bedah. Profesor Laura berujar teknik non-invasif — seperti ablasi termal yang membakar sel abnormal — sudah biasa dilakukan untuk menangani kasus tak parah dewasa ini.

Valerio, 33 tahun, juga mengangkat benjolannya. Gondok bisa disebabkan oleh tumor tiroid, yang biasanya jinak tapi bisa berubah menjadi kanker. Valerio sulit menggerakkan leher dan berbicara setelah operasi. Sedangkan Giada harus siap menerima kalau-kalau pita suaranya rusak pascaoperasi. “Takut banget saat mendengar itu,” kenangnya.

Cerita Giada mengingatkanku pada bapak-bapak yang kutemui di sebuah rumah sakit kanker di Jakarta. Suaranya serak dan tak kunjung pulih, padahal operasinya sudah dilakukan sejak lama. Nyaliku ciut melihat kondisi bapak tua itu. Aku mengurungkan niat operasi karena tidak mau bernasib sama. Aku melakukan segalanya untuk mengecilkan benjolan tanpa obat, dan siapa sangka usahaku membuahkan hasil. Benjolannya terus mengecil setiap kali kontrol tahunan. Belum hilang total, tapi tidak separah dulu. Meskipun begitu, dokter terus menyarankan untuk diangkat.

Gangguan tidak bisa disembuhkan. Pasien bahkan harus minum obat setiap hari seumur hidup mereka. Dosisnya sendiri disesuaikan secara berkala sesuai hasil tes. Valeria, 36 tahun, didiagnosis tiroiditis Hashimoto — salah satu penyebab paling umum dari kelenjar tiroid kurang aktif — saat masih 19 tahun setelah memeriksa intoleransi gluten. Tiroiditis Hashimoto adalah penyakit autoimun yang sistem kekebalan tubuhnya menyerang kelenjar tiroid. Gangguan tiroid belum diketahui sebagai penyakit keturunan, tapi ibu Valeria juga menderita kelainan ini.

Hormon yang berguna mengobati gangguan tiroid bisa sangat memengaruhi metabolisme tubuh pasien, sehingga sering dimanfaatkan untuk menurunkan berat badan. Menurut Profesor Laura, ini dapat membebani jantung — menyebabkan jantung berdebar kencang dan tidak keruan — dan melemahkan tulang, yang bisa menyebabkan osteoporosis.

Pasien harus memperoleh dosis yang tepat. “Kalian akan mengalami takikardia [detak jantung cepat] jika mengonsumsi terlalu banyak hormon,” terang Valeria. “Kalian akan lesu jika kekurangan hormon.”

Giada mengonsumsi hormon dengan dosis tinggi karena masih ada risiko nodulnya membesar lagi. Tapi pada saat bersamaan, Giada merasakan sedikit efek hipertiroid. Dia sulit tidur, jantungnya sering berdebar kencang, dan tangannya gampang keringatan. “Aku kesal sudah ketergantungan obat sejak masih 20 tahun,” keluhnya.

Artikel ini pertama kali tayang di VICE Italia.