Home Uncategorized Kasus Penularan Perdana Virus Flu Burung Jenis H10N3 Muncul di Tiongkok

Kasus Penularan Perdana Virus Flu Burung Jenis H10N3 Muncul di Tiongkok

53
0
kasus-penularan-perdana-virus-flu-burung-jenis-h10n3-muncul-di-tiongkok

Otoritas Kesehatan di Provinsi Jiangsu, Tiongkok, menyatakan seorang lelaki menjadi manusia pertama di dunia yang tertular virus flu burung jenis H10N3. Penularan ini tercatat pada 23 April 2021, menimpa pria berusia 41 tahun.

Kementerian Kesehatan Tiongkok menyatakan lelaki itu sudah dilarikan ke rumah sakit, sejak lima hari sebelumnya mengalami gejala pilek dan demam. Setelah dirawat lebih dari dua pekan, kondisinya memburuk. Hasil tes pada 28 Mei lalu menunjukkan bahwa lelaki tersebut ternyata tertular flu burung dari varian yang belum pernah terjadi sebelumnya. Jenis H10N3 sudah dikenal praktisi kedokteran hewan, tapi baru kali ini virus influenza di unggas itu menular ke manusia.

Saat artikel ini dilansir, kondisi pasien pertama H10N3 itu menurut rumah sakit stabil dan siap dipulangkan dalam waktu dekat. Aktivitasnya akan terus dipantau, meski sejauh ini tidak ada tanda-tanda kondisi abnormal di tubuhnya.

Menurut Komisi Kesehatan Tiongkok, H10N3 merupakan jenis flu burung yang lebih ringan dibanding varian lainnya. Pejabat setempat, lewat keterangan tertulis, meminta masyarakat tidak perlu panik, “karena risiko penularan secara massif untuk flu burung jenis ini tidak terlalu tinggi.”

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sudah mendapat laporan dari Tiongkok mengenai kasus penularan H10N3 ini. Sejauh ini belum ditemukan indikasi bila H10N3 bisa menular antar manusia. Pemerintah Tiongkok sendiri tidak mengungkapkan detail, apakah lelaki yang pertama kali tertular bekerja di peternakan unggas.

Karena risikonya sejauh ini minim, WHO tidak sampai merekomendasikan adanya pembatasan kunjungan ke Tiongkok. Pakar virus dari University of Hong Kong, Siddharth Sridhar, menyetujui pendapat para ahli. Sebab, varian baru ini belum terbukti memiliki kemampuan menular dengan cepat ke manusia lain. Meski begitu, Sridhar berharap pemantauan intensif terhadap orang-orang yang dekat dengan pasien perdana terus dilakukan.

“Berbeda dibanding jenis-jenis flu lain, termasuk virus corona, flu burung sulit menular ke manusia. Kasus macam ini lazimnya hanya dialami manusia yang sehari-harinya berurusan dengan unggas dan tidak sadar bila unggas itu sakit,” kata Sridhar saat dihubungi VICE World News.

Meski WHO dan Tiongkok berusaha menenangkan berbagai pihak, Otoritas Hong Kong sudah menerapkan imbauan, agar warganya tidak berkunjung sementara ke pasar hewan dan peternakan di Negeri Tirai Bambu.

Walau tidak sering terjadi kasus flu burung beberapa kali memicu penularan skala besar, dan tetap berpotensi mutasi menjadi lebih ganas. Kasus flu burung terakhir yang sampai menular ke 750 orang terjadi pada 2016-2017 di Tiogkok. Kala itu, flu burung varian H5N7 menular ke para pekerja bidang peternakan. Berdasar catatan WHO, 280 orang meninggal dalam wabah kala itu.

Di Indonesia sendiri flu burung dari jenis H5N1 sempat mewabah dan menghebohkan publik pada 2005, mayoritas menyasar pekerja peternakan unggas dan keluarga mereka. Penularan flu burung ini berhasil ditekan dan nyaris diberantas habis, namun Indonesia sampai sekarang masih dinobatkan sebagai negara dengan korban tewas H5N1 terbanyak sedunia. Sepanjang 2005-2018, jumlah pasien meninggal akibat flu burung H5N1 di Tanah Air mencapai 168 orang.

Follow Viola Zhou di Twitter.