Home Uncategorized Kesimpulan Riset: Pakai Stoking Bikin Masker Lebih Erat Terpasang di Wajah

Kesimpulan Riset: Pakai Stoking Bikin Masker Lebih Erat Terpasang di Wajah

83
0
kesimpulan-riset:-pakai-stoking-bikin-masker-lebih-erat-terpasang-di-wajah

Baru-baru ini, saya menemukan selfie pakai bando yang dilipat dan diikat hingga menjadi “masker”. Fotonya diambil kira-kira dua tahun lalu, setelah COVID-19 dinyatakan pandemi dan stok masker bedah menipis di seluruh dunia. Saya tak menyangka trik ini bisa viral dulu, tapi yah… mau bagaimana lagi? Kita berusaha sebisa mungkin melindungi diri.

Para peneliti di Universitas Cambridge kini menemukan cara terbaik agar masker menutup wajah lebih rapat. Temuan-temuan mereka selama percobaan, yang dimulai pada 2020, dijabarkan dalam studi peer-review yang diterbitkan pekan ini di jurnal PLoS ONE.

Seperti yang kita ketahui, kebanyakan penutup wajah masih meninggalkan ruang atau celah untuk udara masuk. Itulah sebabnya peneliti mencoba tujuh metode supaya masker tidak kendur dan lebih melindungi kita dari virus. Bermodalkan masker bedah dan KN95, berikut trik-trik yang dipraktikkan peneliti:

  • Pakai masker seperti biasa
  • Merekatkan plester di sekitar masker
  • Menambah kain kasa di dalam masker
  • Melapisi atau mengikat masker dengan kain kasa
  • Membuat simpul pada tali masker
  • Mengikat bagian depan masker dengan karet
  • Melapisi masker dengan stoking

Mereka lalu mengukur konsentrasi partikel di dalam dan sekitar masker. Hasilnya menunjukkan keenam metode ini jauh lebih baik daripada memakai masker biasa. Namun, ada satu cara yang dianggap paling efektif, yakni melapisi masker dengan stoking. Bahan stoking yang kencang mampu menjaga masker tetap di tempat.

Tujuh cara agar masker lebih pas di wajah

Tujuh cara agar masker lebih pas di wajah

Sayang sekali, ada efek kurang nyaman bagi si pemakai masker. “Stoking menciptakan rasa yang sangat tidak nyaman, serta membuat orang sulit berbicara dan menghalangi mata,” tulis peneliti.

“Kenyamanan menjadi masalah besar bagi sebagian besar percobaan,” terang Eugenia O’Kelly selaku peneliti utama dalam siaran pers. “Mengikat masker pakai karet, misalnya, cenderung memberi tekanan yang menyakitkan pada bagian telinga dan wajah, sampai-sampai menghambat sirkulasi ke telinga.

Terkadang kita harus terbiasa dengan cara yang tidak nyaman selama itu efektif memberi perlindungan tambahan dalam situasi berisiko tinggi. Tapi memang, sulit untuk mempraktikkan metode-metode ini sehari-hari.”

Hmm… Mungkin kalau stokingnya dilengkapi masker beraroma vagina, orang-orang akan lebih tertarik memakainya?