Home Uncategorized Keyakinan Manusia Jadi-Jadian Lazim di Indonesia, Penyebab Buaya Makassar Dikafani

Keyakinan Manusia Jadi-Jadian Lazim di Indonesia, Penyebab Buaya Makassar Dikafani

127
0
keyakinan-manusia-jadi-jadian-lazim-di-indonesia,-penyebab-buaya-makassar-dikafani

Warga Tello Baru memutuskan menyelamatkan seekor buaya dari Sungai Tallo, Makassar, Sulawesi Selatan, dan membawanya ke pemukiman warga. Muliadi, pemilik rumah yang tempat buaya itu mengungsi, meyakini buaya tersebut keturunan manusia dan bagian dari keluarganya.

Warga sekitar rumah ikut “menyambut” kedatangan sang buaya dengan menyesaki rumah Muliadi. Pantauan Detik menyebut dua warga sampai memainkan gendang di depan pintu rumah saat buaya datang.

Buaya tersebut dinamai Halimah dan dianggap saudara kembar seseorang. Halimah pertama dilihat warga pada Selasa (11/10) lalu, sekitar jam 10 malam waktu setempat. Setelah didiamkan, keesokan harinya si buaya viral sebab beberapa pengendara yang melintas mengambil foto dan menyebarkannya di media sosial.

“Lalu buaya tersebut dibawa kembali ke salah satu rumah warga di Jalan Paccinang 5 milik Muliadi untuk dipertemukan dengan orang yang mengaku keluarga dari buaya tersebut,” kata Bhabinkamtibmas Tello Baru Bripka Muhammad Kazim kepada Detik.

Kazim sempat meminta warga mengurung buaya dalam sangkar, namun permintaan tersebut ditolak karena warga percaya buaya tersebut keturunan manusia. “Untuk menghargai dan menghormati kepercayaan mereka, sehingga saya tidak melakukan upaya paksa,” katanya lagi. di rumah Muliadi, Halimah dibungkus kafan sebagai bentuk penghormatan.

Masyarakat Sulawesi Selatan memang diberitakan akrab dengan keyakinan buaya sebagai jelmaan manusia. Historia menuliskan beberapa kasus serupa ditemukan di Kabupaten Luwu, Kabupaten Luwu Timur, dan Kabupaten Pinrang. Sejarawan Universitas Negeri Makassar Taufik Ahmad menjelaskan, masyarakat Bugis dan Makassar memang menjadikan buaya bagian dari kehidupan manusia.

Di Kabupaten Bone, buaya dikenal sebagai To ri Salo, diterjemahkan kasar menjadi “manusia penghuni sungai”. Sedangkan di Kabupaten Luwu, buaya disebut Ampu Salu alias sang penguasa sungai. Warga Luwu pun menyebut buaya menggunakan kata “nenek”.

Kepada Historia, Taufik menilai pandangan ini muncul sebagai cara manusia melindungi sungai. Dalam sejarahnya, masyarakat Sulawesi Selatan tidak dibenarkan buang air di sungai dan menangkap ikan dengan racun.

Ternyata, kepercayaan buaya sebagai jelmaan manusia di Indonesia bukan cuma milik Sulawesi Selatan. Fenomena serupa pernah dilaporkan terjadi di Desa Kayeli, Kabupaten Buru Maluku, tahun lalu. Samiasa (67) dilaporkan histeris kala melihat seekor buaya mati ditombak warga. Pasalnya, ia merasa buaya tersebut adalah jelmaan saudara kembar cucunya yang sudah meninggal dunia. “Betul, hari Kamis di Desa Kayeli ditemukan seekor buaya oleh masyarakat. Setelah itu ada seorang warga mengaku buaya itu jelmaan dari cucunya,” ujar Paur Humas Polres Buru Dede Syamsi Rifai kepada Suara.

Di Jambi malah lebih mencengangkan lagi. Mari berkenalan dengan Nur Hasanah, seekor buaya jadi-jadian. Seorang warga yang merasa buaya tersebut kembaran anaknya kemudian mengangkatnya sebagai anak dan mengurusnya dengan memberi makan ayam panggang setiap malam Jumat dan malam Senin.

Nur Hasanah juga diberi kamar dan kasur sendiri layaknya manusia. Saat diberitakan pada 2018, Nur Hasanah sudah berusia 26 tahun. Berita mencengangkannya: Nur Hasanah sudah memiliki seorang suami. Bukan buaya, melainkan seekor ular. Sang suami disebut-sebut berprofesi sebagai guru agama di “alam”-nya. Selama hidup, sang buaya disebut tidak pernah melukai siapa pun.

Sejarawan Andi Achdian menggarisbawahi kepercayaan ini jangan dilihat dalam kacamata rasional dan irasional, atau benar dan tidak benar. Dari segi sejarah, kepercayaan semacam ini bukan hal baru. Banyak kepercayaan gaib tentang manusia berubah binatang yang hampir merata di seluruh kebudayaan nusantara.

“Kepercayaan serupa terjadi juga di Sumatera, Jawa, dan sebagainya. Orang berubah jadi harimau dan buaya. Ada penjelasan antropologis mengatakan tidak ada garis batas yang tegas antara manusia dan bukan manusia di alam kosmologi kita. Ada makhluk yang tadinya binatang berubah jadi manusia. Kepercayaan begini cukup umum di wilayah Asia Tenggara,” kata Andi kepada VICE.

Menurut Andi, kepercayaan ini bisa dibandingkan dengan anggapan bahwa hutan ada penjaganya, ada kekuatan gaib, dalam keris, sampai ide tentang Nyi Roro Kidul.

“Ben Anderson bilang kekuasaan di wilayah kita itu konkret. Berbeda dengan Barat yang melihat kekuasaan secara rasional, abstrak, dan diwujudkan dalam undang-undang. Di kita, kekuasaan ditunjukkan melalui benda-benda pusaka, makhluk gaib, sesajen. Itu umum,” tambah Andi.

Andi lantas meminta siapa pun belajar konteks kepercayaan agar tidak serta-merta menghakimi kebudayaan dan kepercayaan yang sudah lama ada di masyarakat.