Home Uncategorized Kiat Menyusun Skripsi Minim Revisi, Menurut Para Dosen Pembimbing

Kiat Menyusun Skripsi Minim Revisi, Menurut Para Dosen Pembimbing

106
0
kiat-menyusun-skripsi-minim-revisi,-menurut-para-dosen-pembimbing

Berkat skripsi, semua sarjana Indonesia pernah jadi atlet halang rintang paling tidak sekali seumur hidup. Proyek penelitian sebagai syarat kelulusan ini sudah legendaris bikin repot mahasiswa medioker. Tak kurang keluhan soalnya ditebarkan di berbagai media. Dari IG story sampai artikel populer, dari akun pengepul meme hingga japri jam 3 pagi. Sisi positifnya (hm…) skripsi jadi blessing in disguise buat penyedia jasa transkrip-tabulasi-triangulasi sampai joki skripsi. Ga, Gilang Jarik Bungkus ga akan masuk poin ini.

Di antara serakan keluhan dan peluang bisnis itu, revisi skripsi adalah bagian yang paling bikin sakit kepala. Setidaknya sampai ada yang buka jasa joki bimbingan. Wajar kami jadi bertanya-tanya dong, ada ga sih tips skripsi tanpa revisi? Atau kalau pertanyaan itu terdengar ngelunjak, setidaknya bisakah skripsi dibikin minim revisi?

Tentunya masalah skripsi—dan  tugas akhir (TA), biar fair—bukan cuma revisi. Untuk mendaftar apa saja rintangan mengerjakan penelitian mandatory ini, kami coba bertanya kepada sejumlah pejuang skripsi dan TA.

1. Enggak tahu apa yang dimau dosen

Erin Dwi Azmi, penyintas TA dari Prodi Desain Komunikasi Visual, Institut Seni Indonesia Yogyakarta idem revisi itu melelahkan, terutama karena problem komunikasi. Ia mengaku sulit paham apa yang diinginkan dosen. “Harus bolak-balik buat tahu apa yang dosen mau, padahal menurutku udah cukup-cukup aja sih,” katanya kepada VICE.

“Bagian penulisan yang cari-cara data dan riset itu kayak ada kurang terus, padahal menurutku udah cukup. Aku udah kasih yang sebelumnya udah dikasih tahu, terus dibilang, ‘Wah, ini masih kurang lengkap. bisa cari lagi lebih dalam,’” katanya lagi.

2. Dosen inkonsisten sama revisiannya sendiri

Nasrulloh Alif Suherman, pejuang skripsi dari Prodi Sejarah Peradaban Islam, Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah sudah mengalami yang namanya gondok sama dosen pembimbing. “Karena pernah saat saya revisi, sesuai dengan permintaan dosen, ternyata malah disalahin lagi. Padahal itu permintaan beliau,” curhat Alif. Tapi karena posisinya lemah, ia tak berani membantah. “Disampaikan dalam doa aja, hiks.”

3. Dosen sibuk dan slow response

“Kalo di masa pandemi gini sulitnya jadi berkali kali lipat sih,” kata Ayu Octavi Anjani, mahasiswa Prodi Jurnalistik, Universitas Padjadjaran soal pedihnya skripsian di tengah pandemi.

“Revisian tatap muka aja udah susah, apalagi ini online semua. Dosen pembimbingku untuk seminar proposal ini kan enggak hanya ngurusin satu orang. Banyak, hampir sembilan orangan diurus. Nah, itu susah banget nentuin waktu buat diskusi. Banyak halangan. Apalagi dosen pembimbing ku ini slow response-nya minta ampun. Sibuknya luar biasa. Revisi satu bab aja bisa sampai berminggu-minggu. Ya, karena enggak bisa tatap muka sih.”

Dari obrolan dengan Ayu, Alif, dan Erin, masalah dosen sibuk dan slow response adalah problem utama mahasiswa pas ngerjain skripsi.

Erin: “Kalau bisa WA-nya dibales, syukur-syukur cepet balesnya, biar ada kepastian.”

Alif: “Minta tolong respons agak cepat, karena kadang lama balesnya, padahal [dosen lagi] online. Selebihnya saya puas. Lah, kayak testi.”

Ayu: “Tolong, Pak, saya ngebut ingin bimbingan itu biar cepat lulus. Kalau bisa fast responsechat saya jangan di-read doang. Kok kesannya aku yang banyak mau ya? Tapi, gimana lagi, jadi mahasiswa akhir ya gini.”

Untuk menjawab rumusan masalah di atas, kami menghubungi dosen dari tiga kampus berbeda. Mereka adalah Nur Hasyim, dosen Prodi Sosiologi, UIN Walisongo Semarang; Andina Dwifatma, dosen Prodi Komunikasi, Universitas Katolik Atma Jaya Jakarta; dan Santi Pratiwi Tri Utami, dosen Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Negeri Semarang. Ketiganya sudah kenyang makan asam garam membimbing mata kuliah 6 SKS tersebut, kurang curhat di twitter base doang.

VICE: Mungkin tidak sih ada mahasiswa yang skripsinya tanpa revisi sama sekali?

Santi: Menurut saya, kemungkinan amat kecil tanpa revisi sama sekali. Ada mahasiswa bimbingan yang start dengan sangat baik: sangat siap secara teknis (topik, teknik menulis, dsb.), pun secara mental. Namun, dalam prosesnya tetap ada banyak bagian yang perlu direvisi. Paling utama masalah latar belakang.

Dominan mahasiswa bimbingan saya mengambil variabel penelitian yang “Pokoknya aku mau neliti itu”. Subjektif sekali. Begitu harus menyampaikan mengapa topik itu perlu diteliti, mereka kebingungan karena yang menjadi alasan mestinya objektif, berdasar observasi awal/data pembanding/kondisi di lapangan, dsb.

Andina: Enggak mungkin, hahaha.

Skripsi itu kan penelitian ilmiah yang butuh proses, enggak bisa langsung jadi. Dan justru di dalam proses itu peneliti mendapatkan temuan dan fakta baru. Dosen membantu mahasiswa melalui proses itu, melalui revisi.

Itu jawaban ilmiahnya.

Jawaban ga ilmiahnya: wong membedakan “di” yang dipisah sama “di-” yang digabung aja masih sering salah kok. Hahaha.

Nur Hasyim: Saya belum pernah memiliki mahasiswa bimbingan yang mengerjakan skripsi tanpa revisi, namun menurut saya sangat mungkin, dengan syarat tertentu. Syarat ini tentu menurut pandangan subyektif saya.

Saya membagi syaratnya menjadi dua, substantif dan teknis. Syarat substantif meliputi: (1) mahasiswa memiliki kejelasan topik penelitian, semakin spesifik semakin baik. Kejelasan ini akan memandu mahasiswa merumuskan masalah penelitian yang jelas, mengenali siapa yang akan menjadi responden (kuantitatif) atau informan (kualitatif). (2) Kejelasan kerangka teori yang akan digunakan dalam menganalisis data yang akan dikumpulkan.

Kejelasan rumusan masalah penelitian dan subjek penelitian akan memandu mahasiswa menentukan jenis data/informasi yang akan dikumpulkan dan metode pengumpulan datanya.

Syarat kedua syarat teknis, meliputi: (1) Kecakapan mahasiswa menulis misalnya kecakapan mahasiswa menyusun paragraf. Untuk menyusun paragraf yang baik, mahasiswa harus mengikuti selingkung atau pedoman penulisan skripsi secara konsisten. Misalnya gaya referensi, apakah menggunakan catatan kaki atau catatan dalam teks (catatan tubuh). Selanjutnya gaya penulisan referensi atau daftar pustaka.

Hal lain yang menurut saya penting, skripsi harus memiliki novelty atau sumbangan keilmuan yang jelas sehingga bukan pengulangan dari penelitian sebelumnya.

Apa sih kesalahan umum mahasiswa sehingga mereka mesti bolak-balik revisi?

Andina: (1) Kesalahan bahasa. Percaya atau enggak, mahasiswa itu nulis SPOK aja susah bener. Kebanyakan menulis seperti orang ngomong, jadi sangat tidak efektif. Ada yang satu paragraf aja satu kalimat, padahal hampir 10 baris. Bayangkan! Dan aku tipe dosen yang males memeriksa draf yang dari segi bahasa aja enggak beres. Biasanya aku balikin lagi, suruh rewrite.

(2) Kerangka berpikir enggak “lurus”. Judulnya ini, latar belakangnya itu, rumusan masalahnya anu. Beda-beda. Aku merasa mahasiswa itu jarang yang posisi paradigmanya jelas.

(3) Minim analisis. Mahasiswa itu cenderung ga mau nulis yang “buruk-buruk” tentang subjek penelitiannya. Jadi maunya melaporkan yang baik-baik aja: hipotesis terbukti, terdapat korelasi positif, kinerja sudah baik, dst. Agak susah diminta kritis. Kalau kayak gitu biasanya kubalikin lagi sampai mereka dapat temuan yang menarik, layak untuk ditulis

Nur Hasyim: Yang paling dominan adalah mahasiswa tidak memiliki kemampuan menulis yang baik; tidak cakap menyusun paragraf padahal skripsi tersusun dari paragraf-paragraf. Masalah lainnya tentu kemampuan mengutip secara benar agar terhindar dari plagiasi.

Ada tidak sih patokan ideal di semester berapa mahasiswa mesti sudah tahu mau meneliti apa?

Andina: Semester 7, biar semester 8 tinggal eksekusi. Tapi saranku, dari mulai semester 4 (saat mata kuliah mulai spesifik, karena mata kuliah wajib dan dasar-dasar sudah dilahap habis), mahasiswa sudah mulai memikirkan tema apa yang jadi ketertarikan mereka dan fenomena apa yang layak diteliti.

Nur Hasyim: Ketika mahasiswa mendapatkan mata kuliah Metodologi Penelitian. Karena saat itu mahasiswa dituntut menemukan tema-tema penelitian. Namun, semakin dini mahasiswa menemukan kajian penelitian yang diminati, semakin baik karena mahasiswa sudah bisa memilih informasi apa yang akan dikonsumsi sejak awal.

Terkait dengan teori, sebaiknya mahasiswa menguasai teori di bidang kajiannya sejak awal kuliah karena mata kuliah pengantar adalah fondasi bagai mahasiswa untuk menguasai teori-teori di bidang ilmunya. Dalam membangun kerangka teori, mahasiswa harus mengenali dengan baik tokohnya, tradisi keilmuannya (mazhab), konsep-konsep kuncinya, dan asumsi-asumsi teori itu yang akan dikonfirmasi dengan data di lapangan.

Bagaimana tips agar skripsi lancar jaya dan minim revisi?

Andina: (1) Kembangkan kebiasaan membaca, dari semester satu. Please! Hanya dengan terbiasa membaca, orang bisa menulis dengan baik. Tolong donasikan satu jam saja dari jatah scrolling IG kalian untuk membaca. Ga harus buku, bisa juga artikel di internet. Awalnya pendek, lama-lama panjang. Sekalian memperpanjang attention span yang direduksi habis-habisan oleh medsos.

(2) Perkuat kerangka berpikir. Minimal bisa menjawab dua hal: (a) apa sih yang mau kuteliti, dan (b) untuk menjawab pertanyaan itu aku harus ngapain? Dan poin (a) itu harus bisa diringkas dalam satu kalimat tanya pendek. Karena dua pertanyaan ini meng-cover bab 1 (pendahuluan) dan bab 3 (metodologi)

Udah sih itu aja. Yang lain-lain seperti belajar parafrase teori, analisis, tabulasi data, bisa dipelajari sambil jalan. Sambil duduk juga boleh #krik.

Santi: Selain kesiapan diri terkait teknis dan mental tadi, mahasiswa perlu menemukan pemodelan skripsi yang tepat pula.

Biasanya mereka sibuk nguprek skripsi kakak tingkat yang sudah ada, kemudian dijadikan pemodelan dan disalin apa adanya, tapi lupa bahwa yang dijadikan pemodelan belum tentu tepat 100 persen dengan topik yang diangkatnya.

Oh ya, komunikasi dengan dosbing juga perlu amat dijaga. Tipe dosbing beda-beda. Mengenali tipe komunikasi yang paling disukai atau yang sudah ditetapkan dosbing bisa jadi memberi pengaruh kelancaran juga.

Seperti apa tipe mahasiswa yang sering bikin gedek dosen pembimbing?

Andina: Yang Senin diberi revisi, Selasa sudah kirim balik, tapi naskahnya masih begitu-begitu aja alias ga banyak yang berubah. Dan tetep: yang ga bisa bedakan “di” digabung sama “di” dipisah, huhuhuhu….

Nur Hasyim: Mahasiswa yang tidak menindaklanjuti hasil bimbingan dan menyerahkan skripsi yang katanya direvisi, namun tidak ada perubahan. Dan tentu saja ketika menemukan mahasiswa melakukan plagiasi

Santi: Kalau buat saya yang tipe “ngilang”. Bimbingan sekali, selanjutnya tiga bulan lenyap. Begitu dioprak-oprak di WAG langsung muncul, mulai bimbingan lagi, selanjutnya ngilang lagi, eh tapi medsosnya aktif terus.

Sebenarnya (dia) mampu, tapi berlama-lama. Identifikasi awal: skripsi bukan prioritas banget karena lebih doyan aktivitas organisasi, sengaja santai lulusnya nanti-nanti saja, atau ada pula yang memang problem pribadi/keluarga.

Ada mahasiswa yang ngeluh skripsi macet karena (1) dosen jarang membalas pesan atau sulit diajak bertemu, dan (2) sesuatu yang sudah direvisi, di kemudian hari malah disalahkan lagi. Boleh minta tips mahasiswa harus ngapain di situasi kayak gitu?

Nur Hasyim: (1) Mahasiswa jangan ragu untuk mengingatkan karena kadang dosen agendanya menumpuk. Ingat, pilih waktu yang tepat dan bahasa yang baik. (2) Lakukan bimbingan dengan menggunakan soft file dengan memanfaatkan fitur track changes sehingga catatan bimbingan terus terekam.

Andina: (1) Ini nasib sial sih kalau ketemu dosen kayak gini. Tapi FYI aja, aku jarang menemukan situasi membimbing yang ideal. Di prodiku aja, satu dosen rata-rata membimbing BELASAN mahasiswa.

Saran: ingatkan dosen secara berkala, lewat pesan singkat yang sopan, pada hari dan jam kerja. Kadang dosen itu beneran lupa, bukan sengaja nyuekin atau benci sama mahasiswa. Tapi, misalkan kalian dicuekin karena dosen punya sentimen pribadi, ya mendingan ganti.

(2) Sesi bimbingan direkam, dengan seizin dosen. Bikin juga pointers di tiap akhir bimbingan. Lalu, kalau dosen “berubah arah mata angin” begitu, tinggal tunjukkan bukti dan diskusikan bagaimana baiknya.

Santi: Menurut saya (1) sampaikan langsung/diskusi dengan dosbing mengenai orientasi/ target lulusnya dengan baik. (2) Bawa berkas sebelumnya, bila perlu saat bimbingan diawali dengan menyampaikan poin-poin yang pada bimbingan sebelumnya diminta untuk direvisi.

Memang butuh kemampuan berkomunikasi untuk “menggiring” dosbing agar hanya fokus pada materi bimbingan hari itu.

Satu kata tentang bimbingan.

Andina: Menghibur.

Nur Hasyim: CAPEK. Hahaha. Kecuali ketika ketemu mahasiswa yang cekatan banget, pinter, dan tahu persis yang dimaui pembimbing, itu (saya akan) semangat banget.

Santi: Menemani 🙂