Home Uncategorized Kisah Mafia Beringas dari Napoli yang Bernasib Apes Gara-Gara Doyan Makan

Kisah Mafia Beringas dari Napoli yang Bernasib Apes Gara-Gara Doyan Makan

30
0
kisah-mafia-beringas-dari-napoli-yang-bernasib-apes-gara-gara-doyan-makan

Berada di lantai dua hotel bintang lima Le Touring, terdapat sebuah restoran casual chic yang menghadap pelabuhan di Saint Raphaël, kota pesisir di wilayah Côte d’Azur yang menawan di Prancis tenggara. Para tamu bisa menikmati indahnya pemandangan tepi pantai sambil mencicipi masakan khas Italia yang luar biasa lezatnya. Makanan di restoran bernama Alberto disiapkan langsung oleh Nunzio Palumbo. Banyak orang mengenalnya sebagai koki handal, namun tampaknya mereka tak tahu Palumbo punya reputasi seram di tanah kelahirannya.

Lelaki yang kini berusia 56 sudah delapan tahun lebih menjadi buronan polisi Italia. Bernama asli Antonio Cuozzo Nasti, dia mantan mafia Camorra dari klan Mallardo yang berkuasa di Napoli. “Dia sangat berbahaya dan menghadapi tuduhan pemerasan,” ungkap juru bicara lembaga peradilan Italia kepada Le Monde.

Pada 2012, komplotan Cuozzo Nasti ditangkap usai merampok bank di pinggiran kota Napoli. Hakim memvonisnya hukuman 16 tahun penjara atas tuduhan perampokan, penerimaan barang curian dan kepemilikan senjata ilegal. Dia berhasil kabur ke luar negeri pada 2014, saat menjalani hukuman di pusat rehabilitasi narkoba. Pihak berwenang Italia menyatakan sudah mengetahui keberadaannya, hanya saja mereka butuh kerja sama Prancis untuk menangkapnya. Kesempatan emas pun datang delapan tahun kemudian. Polisi membekuk sang koki pada 3 Mei 2022, setelah sebuah artikel online memuji masakannya.

Cuozzo Nasti bukan penjahat pertama yang memulai kehidupan baru di dunia kuliner. Pasquale Brunese, yang juga anggota mafia Camorra, diciduk polisi saat melayani pelanggan di sebuah restoran pizza dekat pantai Valencia, Spanyol pada 2015. Tujuh tahun sebelumnya, lelaki yang berusia awal 50-an itu dijebloskan ke penjara karena mengedarkan kokain dan heroin. Namun, entah bagaimana ceritanya, dia menghilang tanpa jejak. Usut punya usut, Brunese ternyata pindah ke Spanyol dan menyeriusi profesi pramusaji di sana. Dia lalu membeli pizzeria tempatnya bekerja menggunakan nama palsu. Dia kini dijatuhi hukuman penjara selama sembilan tahun sembilan bulan secara in absentia.

Lalu ada Pasquale Scotti, 63 tahun, yang dipercaya sebagai tangan kanan bos mafia paling tersohor di Italia: Raffaele Cutolo. Dia ditangkap atas kasus pembunuhan pada 1983, tapi kabur di malam Natal tahun 1984 dengan alasan butuh pengobatan untuk tangannya yang terluka.

Dia menjadi warga Recife di timur laut Brasil menggunakan identitas palsu Francisco De Castro Visconti, dan menginvestasikan uangnya dalam bisnis restoran dan toko roti di kota itu. Polisi baru berhasil melacak keberadaannya 31 tahun kemudian. Setelah diekstradisi ke Italia pada 2016, dia menjalani hukuman seumur hidup atas beberapa tuduhan pembunuhan, pemerasan, pencucian uang dan pengedaran narkoba.

David Ruggerio punya kisah yang sedikit berbeda. Buronan asal New York ini sempat menjajal rasanya bertarung di ring tinju sebelum terkenal di kalangan artis Hollywood karena kehebatannya mengolah masakan khas Prancis. Tak puas menjadi koki, lelaki 59 tahun itu tampil dalam program Little Italy With David Ruggerio dan Ruggerio To Go pada dua saluran televisi besar di Amerika Serikat. Masa kejayaan Ruggerio berakhir pada 1998. Dia dituduh melakukan penipuan bank dan menguras lebih dari €160.000 (Rp2,4 miliar).

Selama di tahanan, dia juga mengaku telah melakukan serangkaian kejahatan lainnya, seperti mengedarkan heroin, melakukan pemerasan hingga menjadi rentenir dan bandar taruhan. Namun, pengakuannya yang paling mengejutkan yaitu dia bernama asli Sabatino Antonino Gambino. Dia sepupu bos mafia Carlo Gambino, yang menguasai jaringan kriminal bawah tanah New York sepanjang era 60-an hingga 70-an.

Lelaki keturunan Belanda-Italia Marc Feren Claude Biart juga menggeluti hobi memasak di samping perannya sebagai penyelundup narkoba. Dia mewakili ‘Ndrangheta untuk menyelundupkan kokain dari Italia ke Belanda. Sindikat kejahatan yang paling berpengaruh di Calabria mengendalikan 80 persen dari seluruh perdagangan kokain di Eropa. 

Dia menjalani hidup baru di Amerika Tengah setelah melarikan diri pada 2014. Dia awalnya menetap di Kosta Rika, sebelum akhirnya pindah ke Republik Dominika. Biart mungkin masih bisa menghirup udara bebas seandainya dia tidak cinta mati dengan masakan Italia. Bersama istrinya, dia mengelola kanal YouTube masak-masak. Walaupun wajahnya tidak pernah muncul di video, polisi masih mengenali tatonya. Dia ditangkap pada 2021, lalu diterbangkan kembali ke Milan untuk diproses hukum.

Kisah paling menggelitik dari semua ini jatuh pada penangkapan gembong narkoba yang ditakuti di Meksiko, Servando Gomez Martinez alias La Tuta. Setelah berbulan-bulan bersembunyi di dalam gua, sepak terjang bos kartel Knights Templar terpaksa terhenti pada 2015, gara-gara kue cokelat yang dibeli sang pacar untuk merayakan ulang tahunnya yang ke-49. Tanpa mereka sadari, polisi telah mengawasi lokasi tempat persembunyiannya dan sembilan rumah lainnya. Pesta dadakan itu semakin menguatkan dugaan polisi mengenai keberadaan La Tuta. Polisi menemukan kue cokelat itu di kulkas saat menggeledah rumahnya.

Kerajaan mafia biasanya runtuh karena kesialan atau nasib buruk para anggotanya. Itulah mengapa lucu sekali membayangkan orang-orang ini, yang memiliki reputasi menyeramkan dan amat ditakuti, tertangkap polisi karena kecintaan mereka pada makanan. Mungkin benar adanya, hidangan yang lezat merupakan senjata paling ampuh menaklukkan siapa saja.

Artikel ini pertama kali tayang di VICE France.