Home Uncategorized Klaim Bombastis Film ‘Jejak Khilafah di Nusantara’ Tak Sebanding dengan Isinya

Klaim Bombastis Film ‘Jejak Khilafah di Nusantara’ Tak Sebanding dengan Isinya

134
0
klaim-bombastis-film-‘jejak-khilafah-di-nusantara’-tak-sebanding-dengan-isinya

Film dokumenter Jejak Khilafah di Nusantara yang diblokir pemerintah sudah bermasalah sejak peluncurannya. Bincang-bincang perilisannya yang disiarkan langsung lewat akun YouTube Khilafah Channel, 2 Agustus lalu, diprotes sejarawan spesialis Pangeran Diponegoro, Peter Carey. Namanya dicatut tanpa izin sebagai tamu spesial acara tersebut. Tak cuma itu, Carey juga menganggap gagasan utama film ini bersandar pada khayalan karena tak punya pijakan arsip sejarah. Akan tetapi, ia tak setuju film tersebut dilarang maupun disensor.

Pemblokiran Jejak Khilafah di Nusantara terjadi saat siaran langsung perdana film ini di YouTube Khilafah Channel, 20 Agustus lalu. Tetapi unggahan ulangnya masih bisa diakses di YouTube, salah satunya saya temukan berjudul “FULL‼️ FILM PALING DI CARI : JEJAK KHILAFAH DI NUSANTARA”.

Pencatutan, pernyataan Peter Carey, pemblokiran, hingga afiliasi film ini dengan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) membuat saya penasaran untuk mengeklik tautan “Film Paling Di Cari” tadi. Menonton film sepanjang 52 menit 36 detik itu, tak ada ungkapan yang lebih pas untuk menyebut penderitaan saya selain “risiko pekerjaan”.

Jejak Khilafah di Nusantara dibuka dengan teks yang mengklaim diri sebagai “Sebuah film yanga akan mengupas sejarah Islam di Nusantara bersama para sejarawan”, demikian saya kutip lengkap beserta typo-nya. Teks itu disusul daftar sejarawan yang jadi narasumber. Sejarawan yang disebut pertama adalah Nicko Pandawa, sutradara dokumenter ini. Hmmm.

Film ini tampaknya dikerjakan tiga entitas yang logo ketiganya muncul sebagai pembuka, yakni Khilafah Channel, Komunitas Literasi Islam, dan Mediaumat. Enggak ada embel-embel HTI sama sekali di sini.

Narasi dimulai dari kisah wafatnya Rasulullah Muhammad saw. yang direspons umat Islam di sekelilingnya dengan segera berembuk mencari pengganti beliau. Saking pentingnya mencari khalifah atau pemimpin baru ini, film ini menekankan bahwa urusan pemakaman Rasulullah saja sampai diduakan.

Dari peristiwa Rasulullah wafat, berlanjut ke sejarah berbagai kekhalifahan, berujung pada cerita kekhalifahan Islam terakhir, yakni Kekhalifahan Utsmani yang berdurasi 1.300 tahun. Narasi lalu beralih ke pernyataan deduktif bahwa khilafah bukan hal baru di Nusantara. Buktinya ada pada hubungan antara kesultanan Islam di Nusantara dengan Kekhalifahan Turki Utsmani dan wilayah Arab lainnya sejak abad ketujuh.

Di sinilah inti cerita dimulai: mencari bukti hubungan Kekhalifahan Turki Utsmani dengan kesultanan Islam di Nusantara. Tapi mula-mula kita harus berkenalan dulu dengan suatu “negeri” yang “dikenal sebagai Nusantara”. Sebelum Islam masuk, negeri ini diklaim tengah berada dalam masa kegelapan. Hmmm.

“Kala itu belumlah penduduk di Nusantara mengenal Islam, sementara kehidupan mereka sedang diselimuti oleh kegelapan. Namun, tatkala Islam sedang membara di Timur Tengah, tentu sampailah pengaruhnya sampai ke Nusantara.”

Waduh, batin saya, dokumenter sejarah kok membuat jembatan kesimpulan bermodal kata “tentu”.

Lalu muncul Salman Iskandar. Predikatnya: penulis, editor buku Api Sejarah. Ia mengutip Buya Hamka yang pernah menyanggah teori bahwa Islam masuk ke Indonesia pada abad ke-12 hingga 15 lewat pedagang Islam dari Gujarat.

Narasi pindah ke kisah hubungan diplomatik dan komersial antara kekhalifahan Islam dengan kerajaan-kerajaan Asia, termasuk kisah kedatangan utusan Khalifah Utsman bin Affan ke Tiongkok pada 651 M. Saya sempat terdistraksi dengan cuplikan yang isinya masjid melulu, mirip acara On the Spot. Untung saya bisa segera mengendalikan diri.

“Hubungan khilafah dengan dunia Timur terus berlanjut sampai di mana khilafah beralih kepemimpinannya, di bawah otoritas Bani Umayyah,” tutur sang narator. “Dan di ujung paling barat wilayah Nusantara, terdapat pulau besar yang kala itu dikenal oleh bangsa Arab sebagai Sribuza, pelafalan mereka untuk menyebut Kerajaan Sriwijaya.

“Pelabuhan-pelabuhan di Kerajaan Sriwijaya senantiasa menjadi titik transit setiap kapal yang hendak melanjutkan perjalanannya. Tentu penguasa Sriwijaya akan menyadari keberadaan pelayar-pelayar muslim yang singgah di wilayah kekuasaannya.”

Waduh, ada kata tentu lagi.

Raja Sriwijaya Sri Indramarwan dua kali bersurat dengan khalifah Umar bin Abdul Aziz. Fakta sejarah ini lumayan asyik jika enggak diikuti dengan kesimpulan, “Maka, di bawah kepemimpinan sang Khalifah Umar bin Abdul Aziz, khilafah menyebarkan rahmatan lil‘alamin ke segala penjuru dunia, termasuk Nusantara.” Hmmm, terasa hiperbolis mengingat orang Aborigin semasa itu tak pernah kedatangan pendakwah Islam.

Pada tahun 1258 M, pusat kekhalifahan di Damaskus (sekarang Suriah) diserang orang-orang Mongol, lanjut narator. Saya bayangkan, kalau saja ditambahkan fakta ekspansi pasukan berkuda itu punya motif ngehe karena mereka lagi bosen aja, mungkin film ini jadi punya cita rasa humoris. Tapi rupanya sisi humoris film ini bukan di situ, melainkan pada kisah selanjutnya tentang kedatangan keturunan trah Abbasiyah yang mengungsi ke Aceh. Di bagian ini, muncullah sang sutradara Nicko Pandawa sebagai narasumber. Titelnya: sejarawan, Komunitas Literasi Islam.

Secara umum saya tak bisa menikmati film ini karena alurnya datar dan sejak awal sudah terasa janggal. Saya berharap ada temuan baru atau setidaknya narasumber peneliti arsip primer, namun semua nihil. Sampai akhir, film hanya menarasikan ulang sejarah lama yang disimplifikasi dengan gaya cerita ala buku sejarah SMA: sejarah dianggap satu dan baku. Menceritakan ulang sinopsisnya tak lagi menarik. Daripada itu, saya akan sorot saja sejumlah kecil kejanggalan lain yang saya temukan.

  1. Dikisahkan kesultanan Islam di India punya hubungan diplomatik dengan kekhalifahan Islam berpusat di Kairo, Mesir. Di saat yang sama, kesultanan India turut punya hubungan dengan Kerajaan Samudera Pasai. Relasi ini membuat Nicko bikin kesimpulan tak langsung, “Nah, di sini kita bisa menduga kuat bahwasanya Samudera Pasai itu juga berbaiat kepada khalifah Abbasiyah.” Logika ini mengganggu sekali. Apalagi narasi narator selanjutnya serasa bikin ingin jatuh dari kursi. “Seluruh sultan di dunia Islam menyatakan baiatnya kepada khilafah Abasiyyah”. Lho, dari “menduga” kok melompat ke pernyataan pasti?
  1. Pendirian Kesultanan Demak dibingkai sebagai pertempuran Islam vs kafir yang berakhir dengan kemenangan kaum Muslim. Raden Patah dikisahkan menghancurkan pemberontak yang menumbangkan ayahnya, Raja Majapahit Brawijaya V. Padahal kisah pendirian Demak punya banyak versi. Raden Patah dianggap sebagai pendiri daulah Islam pertama di Jawa yang mem-futuhat Jawa menjadi darul Islam.
  1. Selain sutradara yang nebeng jadi narasumber, konsultan skrip sekaligus humas film ini, Septian A.W. turut diwawancarai. Ia diberi predikat “sejarawan, penulis buku Sejarah Komite Khilafah_”. Septian menuturkan hafalan standar anak SMP tentang motif _gold, glory, gospel pedagang Eropa datang ke Nusantara. Jika hal sestandar ini perlu dituturkan narasumber, kesimpulan penting lain malah sekadar disampaikan narator.

Di luar hal teknis penceritaan yang bisa saya temukan sendiri, saya mencoba mencari telaah yang lebih substansial film ini dari orang lain. Namun, respons pakar Islam-Jawa Irfan Afifi tampak sama kecewanya. Menurutnya, pembingkaian Jejak Khilafah di Nusantara pada kesultanan Islam di Jawa sebagai tundukan atau vasal Kekhalifahan Utsmani adalah sesuatu yang fatal.

“Sebenarnya secara film enggak ada yang baru infonya, dari mulai kisah utusan Khalifah Utsman ke China, terus surat dari Sriwijaya ke Khalifah Umar bin Abdul Aziz, itu data yang sudah ada sejak dulu. Orang yang belajar Islamisasi sudah dengar semua,” terangnya kepada VICE Indonesia. “Cuma ini kan terkait framing. Jadi Pasai, Aceh, Demak, dia [film ini] anggap berbaiat ke Turki Utsmani. Kan fatal itu.”

Irfan menjelaskan, adanya hubungan antara kerajaan Islam Nusantara dengan Turki bukan bukti ketundukan. Mereka hanya berjejaring dan bersolidaritas. “Enggak bisa dipahami dan enggak ada bukti kita adalah vasal Turki Utsmani. Orang sini juga enggak ada yang merasa sebagai bawahan Turki Utsmani. [Hubungan itu] cuma solidaritas antara sesama negara Islam, bukan vasal, dan itu dibuktikan dengan orang sini enggak merasa begitu [tunduk pada Turki].”

Kata Irfan, kita memang bisa menemukan pengaruh Turki Utsmani di dunia Jawa-Islam. Ia mencontohkan gelar basha dalam pasukan Pangeran Diponegoro yang dipinjam dari kata Persia pasha. Namun, alih-alih bukti tunduk, ini karena kerajaan Islam-Jawa memandang Kekhalifahan Utsmani sebagai sosok ideal yang direplika konsep-konsep kebesarannya.

“Bahwa ada relasi saling hubung, memberi bantuan, saling berkunjung, memberi hadiah, dari dulu sudah ada. Ini hubungan diplomatik sesama Muslim yang juga berdasarkan kepentingan. Kalau enggak ada kepentingan, ya enggak dilakukan juga. Misal ketika Sultan Agung menyerang Batavia, enggak ada yang bantu,” tutur Irfan.

Ia menegaskan, penonton harus bisa membedakan istilah khilafah di masa lalu dengan khilafah yang diusung HTI, mengingat film ini sepertinya berhubungan dengan organisasi tersebut. “Kata khalifah itu umum di Islam. Ini yang bermasalah kan. Konsep khalifah di HTI ini beda. Khilafah di Islam itu penguasa Islam, yang itu enggak harus bermakna sebagai sistem pemerintahan tertentu seperti di HTI,” tutupnya.