Home Uncategorized Memahami Serba-Serbi NFT yang Makin Dilirik Investor Hingga Seniman di Indonesia

Memahami Serba-Serbi NFT yang Makin Dilirik Investor Hingga Seniman di Indonesia

83
0
memahami-serba-serbi-nft-yang-makin-dilirik-investor-hingga-seniman-di-indonesia

Siapa sangka, cuitan di Twitter bisa dijadikan aset dan dihargai Rp16,16 miliar, seperti cuitan CEO mobil listrik Tesla dan roket SpaceX Elon Musk. Hal yang sama juga dirasakan oleh CEO dari platform Twitter itu sendiri, Jack Dorsey. Cuitan pertama di platform miliknya berhasil dilelang setara Rp3,8 miliar.

Pastinya muncul pertanyaan, kok bisa? Semua itu terjadi berkat NFT alias Non Fungible Token yang berada dalam lingkup kriptografi, yang juga memayungi Bitcoin. Belum lama ini, pengguna internet Indonesia makin sering terpapar ekosistem NFT, atau seni kripto secara spesifik. 

Ranah NFT pun tidak hanya terbatas di cuitan Twitter, namun juga karya digital, seperti karya Grimes, istri Elon Musk yang merupakan seorang musisi. Melalui NFT, karyanya dihargai sekitar Rp82,9 miliar. Meme digital yang viral milik Chris Torres, “Nyan Cat” juga diberondol seharga Rp6,6 miliar melalui NFT. Sama halnya dengan meme populer “Bad Luck Brian” yang terjual seharga Rp520 juta.

Kilas balik awal mula NFT naik daun ditandai oleh fenomena naiknya nilai CryptoPunks, sebuah platform untuk mengoleksi aneka gambar sebagai aset digital. Juga kehadiran game digital CryptoKitties yang memungkinkan kepemilikan kucing secara digital melalui Ethereum, sebuah sistem jaringan dalam blockchain yang memiliki mata uangnya sendiri, yaitu Ether. 

Kini, model bisnis NFT tidak hanya ramai diperbincangkan oleh para tech-savvy dari negara-negara barat, melainkan juga sudah mulai terdengar ke dalam negeri. Beberapa pemain lokal mulai terjun ke dalam ekosistem ini, meski ruang lingkupnya masih terbatas di dalam lingkup seni kripto (crypto art).

“Ngomongin soal NFT, enggak cuma sebatas soal crypto art aja. Crypto art itu cuma salah satu produk yang tercipta dari NFT, yang dibangun di atas smart contract di jaringan Ethereum. NFT itu sebuah ekosistem yang memungkinkan ekonomi yang desentral dan demokratis,” papar Mario, penggiat NFT asal Jakarta. Dia sudah menggeluti NFT mulai dua tahun lalu, dan berurusan dengan crypto art sejak 2015.

Untuk mendapatkan konteks yang lebih lengkap, VICE ngobrol-ngobrol dengan Mario, yang mengelola sindikasi seniman kripto di medsos, mengenai ekosistem NFT secara menyeluruh.

VICE: Hai, Mario! Belum lama ini crypto art ramai diperbincangkan di dunia maya. Tapi sebenernya apa sih crypto art itu?
Mario:
Crypto art itu sebenernya salah satu produk yang tercipta dari NFT, yang dibangun di atas smart contract di jaringan Ethereum. Tapi NFT sendiri itu sebuah ekosistem yang konteksnya luas banget. Menariknya adalah, NFT memungkinkan pembangunan ekonomi melalui komunitas-komunitas, semuanya secara desentral.

Sebelum masuk ke NFT secara luas, mengenai seni kripto ini sendiri, apa perbedaannya dibandingkan dengan seni konvensional selain dari medium yang digunakan?
NFT itu pada dasarnya adalah proof of provenance, semacam sertifikasi kepemilikan. Jadi nanti akan ada namanya key address untuk pengganti tanda tangan kita. Meski benda-benda yang kita beli itu berbentuk digital, itu nanti akan mendapat semacam cap dari si key address. Misalnya nih ada sebuah karya fisik yang dijual sebagai NFT. Nanti NFT-nya dibeli, karya fisiknya dikirim. Nah bentuk sertifikasinya itu nggak bisa dirubah karena natur dikotomi blockchain yang memang nggak bisa mengubah atau menambah data. Data selamanya berada di internet. Itu poin plusnya.

Katakan ada sebuah lukisan fisik, kemudian di-scan resolusi tinggi, kemudian datanya disimpan di blockchain. Kemudian bentuk fisiknya dijual juga beserta dengan chip untuk menunjukkan sertifikatnya ini asli atau enggak. Karya fisiknya terkirim, kemudian suatu hari terjadi kebakaran. Lukisannya hancur, padahal mungkin harganya menyentuh miliaran. Nah data yang sudah disimpan tadi itu digunakan untuk mereplikasi tapi dengan catatan bahwa smart contract-nya memang menunjukkan bahwa karya tersebut hasil replikasi. Smart contract itu bisa menceritakan nilai historis sebuah karya tanpa disentuh siapapun sehingga keabsahan dan nilainya tetap terjaga. 

Kalau enggak di NFT, misalnya kita beli art prints. Gimana kalau ada yang mereplikasi karya tersebut, atau ada orang-orang yang klik kanan terus save karya kita, kemudian dijual lagi. Kreator aslinya dapet gak? Tentu enggak. Di NFT meniadakan kasus-kasus demikian. Kita pasti tahu kreator orisinil sebuah karya. Selain itu, royaltinya juga terjamin.

Lalu apakah jika lingkupnya diperluas di luar seni kripto juga dapat bermanfaat sebagai bukti keabsahan suatu barang?
Untuk produk-produk lain juga bisa. Fungsi dasarnya tetep sertifikasi kepemilikan itu tadi. Jadi misalnya mau buktiin kepemilikan rumah. Katakanlah ada 3 orang mau mencicil sebuah rumah. Masing-masing punya nilai setoran yang berbeda-beda dan jumlahnya tidak pasti juga setiap bulannya. Cicilan tetap jalan, kemudian smart contract ini akan mencatat kepemilikannya. Bahkan 3 orang ini sebenernya nggak perlu saling kenal atau saling ketemu juga bisa. Sistem NFT itu trustless, tapi semuanya datanya tercatat dan enggak bisa disentuh atau dimanipulasi. Presentase kepemilikannya nanti akan tergantung dengan jumlah kontribusi masing-masing orang. Akan diatur di dalam sebuah DAO (Decentralized Autonomous Organization) yaitu sistem yang terdapat pada program komputer. DAO ini punya seperangkat aturan yang telah diprogram sebelumnya. Kalau misalkan ada suatu tindakan baru yang ingin dilakukan, dibutuhkan persetujuan dari mayoritas, sistemnya nanti voting.

Penerapannya gimana sih sampai bisa building economy around communities yang sempat Mario bilang?
Simpelnya bayangin kalau brand-brand independen kecil bisa punya sistem saham tanpa harus masuk bursa karena udah secara otomatis dibandung di DAO-nya. Masalah presentase juga ga masalah, karena udah ada tracker. Mereka akan punya sejenis lembar saham mereka sendiri. Sekarang coba deh, cuma perusahaan-perusahaan gede yang bisa masuk bursa efek. Terus apa kabar brand-brand kecil dan UMKM, siapa yang mau suntik dana untuk mereka? Justru UMKM ini yang lebih butuh bantuan capital dibandingkan dengan perusahaan besar. Bayangin kalau sistem ini diterapin, bisa siapa aja suntik dana dan dipakai untuk hidupin UMKM yang kecil ini. Sangat adil dan juga mendemokratisasi. Tapi bakal banyak pihak yang enggak setuju.

Memang perdebatan apa sih yang memang akan muncul saat bicara NFT?
Bakal banyak yang enggak setuju karena tidak akan ada kapitalisasi pasar. Ini sistem yang buruk buat pihak-pihak yang ingin membuat ekonomi yang tersentralisasi. Belum lagi soal keamanannya, padahal ini sistemnya terbukti. Ga ada duit yang hilang, ga ada yang dibawa kabur karena mulai dari chain of production, supply chain sampai ke creator, semua terkunci di sistem itu. Jadi siapapun yang berinvestasi, akan aman. Belum lagi perdebatan soal mata uang kripto yang nggak sah dijadikan mata uang di Indonesia.

Selain ada kemungkinan tidak diterima beberapa pihak, apa saja tantangan serius terjun ke investasi NFT?
Belum adanya regulasi yang memayungi ini, akhirnya orang-orang pun jadi skeptis. Perlu ada dukungan dari regulator-regulator juga. Ditambah lagi, entry barrier-nya yang sangat-sangat tinggi untuk orang mengenal kripto. Ini kan juga bentuknya teknologi ya, nggak semua orang mungkin paham dan butuh waktu dan tenaga kalau memang bener-bener mau belajar. Kita juga manfaatin Discord misal, berapa banyak orang yang ngerti pake Discord di Indonesia? Sedikit kan, entry barrier lagi.

Melihat tantangannya cukup banyak, sebenernya apa urgensinya masyarakat memanfaatkan NFT ini?
Konkretnya dan yang paling deket sih pandemi ini ya. Kita enggak pernah ada yang tau berapa lama pandemi ini akan berakhir. Terus gimana caranya ekonomi ini terus berjalan, kalau misalnya kita bener-bener harus full di rumah? Sistem apa yang bisa dipakai? Ya ini, NFT, smart contract, DAO, DeFi (Decentralized Finance), tokenomics. Udah ada semua, tinggal mau apa enggak. Tim gue sendiri lintas negara, kita enggak pernah ketemuan, beberapa gue enggak tahu mukanya, gue enggak tahu rumah mereka dimana. Tapi enggak pernah ada uang yang hilang, kompensasi yang enggak terbagi.

Tapi berarti cuma penduduk kota-kota besar dan mereka yang punya akses teknologi memadai bisa merasakan manfaat NFT ini?
Enggak juga. Bahkan sebuah desa itu bisa jualan listrik dengan DAO dan token ini. Misalnya deh, satu desa pake panel surya. Ketika misalnya ada desa lain yang kekurangan daya, bisa mereka beli dari desa lain yang punya panel surya ini. Caranya gimana? Bukan kabelnya ditarik dong, tapi pake DAO ini. Misal desa penyuplai listrik di Jawa, yang butuh listrik di Irian. Ada marketplace-nya, ada token yang menyetarakan dengan biayanya di desa setempat. Si marketplace ini akan dapat penghasilan sedikit, terus mencari desa terdekat yang bisa menghantarkan listrik. Jadi sebuah desa bisa penghasilannya berangkat dari sumber daya alam, dari matahari. Desa punya kas dari produk-produk yang mereka hasilkan. Setiap kontribusi orang desa, seberapa pun itu, akan terhitung.

Mungkinkah sistem ini bertabrakan dengan perbankan?
Enggak, karena ini sebenarnya hanya sebagian kecil dari kegiatan ekonomi yang ada kan. Tapi kan perputaran ini penting terutama yang emang punya nilai, yang bisa dijual. Kalo dari panel surya misalnya, itu jadi kita bisa menghasilkan uang dari sumber daya, boleh dong, jadi kayak produk baru. Dengan adanya NFT ini membuktikan bahwa kita semakin dekat dengan society 5.0 sih, jadi ada nilai baru tercipta melalui perkembangan teknologi canggih. Solusi dari sistem industri 4.0 deh, dimana banyak mesin-mesin canggih yang jadi menggantikan tenaga kerja manusia. Society 5.0 ini mengurangi adanya kesenjangan antara manusia dengan masalah ekonomi lah kurang lebih. Memang agak utopis sih, tapi begitulah adanya.

Ada menurutmu regulator perlu terlibat mendorong NFT?
Pasti sih, pemerintah kan sifatnya enabler ya. Di Indonesia sendiri juga ekonomi kreatifnya udah mulai jalan dan harus tumbuh kan ekonominya. Masyarakat kita juga cenderung konsumtif dan aktif di media sosial. Kita bisa banget untuk mengubah konsumtif ini jadi sesuatu yang positif, kita bangun sovereignty kita dalam hal ekonomi, ekonomi yang lebih desentral, semua orang dihargai dan diberi insentif berdasarkan kontribusinya.