Home Uncategorized Mencari Penyebab Jasa Hapus Akun Medsos Semakin Menjamur di Indonesia

Mencari Penyebab Jasa Hapus Akun Medsos Semakin Menjamur di Indonesia

73
0
mencari-penyebab-jasa-hapus-akun-medsos-semakin-menjamur-di-indonesia

Iffah Meirizka dipaksa putar otak saat sang ayah kehilangan pekerjaan. Keluarga Iffah adalah satu dari jutaan keluarga yang dihantam badai pandemi. Selama tiga-empat bulan pasca-PHK, Iffah merasakan apa yang disebutnya “fase terpuruk”. Sembari berjuang menyelesaikan pendidikan sarjana farmasi di salah satu universitas di Kota Samarinda, ia mencoba membantu ekonomi keluarga yang tertimbun tunggakan cicilan. Enam hari seminggu, ruang racik obat di apotek jadi tumpuannya mendulang rupiah. Di sela-selanya, ia berdagang masker wajah, sabun, dan lulur secara daring.

Melakukan itu semua di umur 20 tahun, Iffah menghadapi kenyataan bahwa peras keringatnya masih belum cukup menghijaukan neraca keuangan keluarga.

Pada Agustus 2020, ia mengambil kursus cara menghapus akun media sosial. Saat itu jasa hapus akun mulai dilirik sebagai sumber penghasilan sampingan para remaja dan dewasa muda, meski belum seramai sekarang. Di setiap cuitan viral di Twitter, hampir bisa dipastikan ada penawaran jasa hapus akun bersaing dengan penjual akun Netflix.

Logika bisnis ini sederhana: banyak pengguna medsos, mayoritas anak muda, memiliki lebih dari satu akun di setiap platform. Di sana, biasanya tersimpan foto aib zaman remaja, status alay, hingga gambar tidak senonoh yang kini disesali pemiliknya. Namun, kebanyakan dari mereka lupa email dan password sehingga kesulitan menghapus akun secara mandiri. Maka, para penyedia jasa hapus akun memberi solusi. Tanpa email dan password, akun berisi masa lalu kelam bisa dihilangkan.

Bermodal Rp200 ribu, Iffah mempelajari materi cara menghapus akun di 26 platform berbeda, termasuk Facebook, Instagram, Twitter, YouTube, dan TikTok. Usai kursus itu ia coba-coba buka jasa sendiri, dipromosikan lewat Instagram pribadi. “Ternyata banyak yang minat. Satu orang aja pasti punya lebih dari satu akun yang mau dihapus. Hari pertama saya dapat Rp700 ribu,” cerita perempuan asal Samarinda tersebut kepada VICE.

Melihat potensi penghasilan yang hadir, Iffah tak pikir panjang. Semua pekerjaan yang lain ia tinggalkan untuk fokus mengembangkan usaha jasa hapus akun. Strategi pemasaran sederhana dicanangkan, dimulai dengan meminta teman-temannya membantu promosi di akun pribadi masing-masing. Di hari keempat, ia putar penghasilan dengan melakukan endorsement ke selebgram. Iffah bahkan berani membuka kursus hapus akun sendiri di minggu keempat. Mengajar sampai Mei 2021, ia mengklaim sudah mempunyai 600-an murid yang tersebar sampai ke Taiwan. Setelah memutuskan tak lagi mengajar bimbel, ia fokus mengembangkan jaringan reseller yang kini tersebar di seluruh Indonesia.

Merujuk data lapaknya di @iffahmeirizka, biaya jasa hapus akun Iffah paling murah Rp10 ribu untuk menghapus foto di Google, serta termahal di Rp300 ribu untuk menghapus akun Twitter aktif tanpa harus menggunakan kartu identitas klien. Per Desember 2021, ia sudah mencetak rekor penghasilan terbesarnya selama menjalani usaha ini: meraih omzet Rp33 juta dalam sebulan.

Saat sepi, Iffah mengaku “hanya” dapat penghasilan Rp15 juta. Kalau lagi promosi ke selebgram, ia bisa kebanjiran orderan mencapai Rp5 juta sehari, “Alhamdulillah, uangnya bisa buat bayar SPP [sekolah] adik-adik. Ayah juga sudah kerja lagi di tempat yang baru. Baru beberapa bulan lalu, saya beli mobil. Habis ini sih disuruh orang tua lanjut lagi [sekolah] ke jenjang profesi, apotekernya gitu,” suara Iffah penuh syukur.

Neraca keuangan keluarga Iffah tak hanya hijau, namun berubah jadi hutan belantara.

Merasa perlu penghasilan tambahan, Nadya* mengikuti kelas bimbel Iffah pada April 2021. Di empat bulan pertama membangun DLY.Business, ia langsung mendapat pemasukan Rp7 juta, jumlah yang relatif besar untuk seorang remaja 16 tahun. Kepadanya, kami meminta penjelasan soal mekanisme penghapusan akun.

Nadya menyebut pekerjaan ini bisa dilakukan hanya bermodalkan ponsel dan browser. Ketika orderan masuk, ia akan meminta dua hal sebagai syarat pengerjaan: tangkapan layar akun yang mau dihapus dan kartu identitas klien. Setelah sepakat soal harga, yang biasanya dibayarkan di akhir, Nadya mulai bekerja. Ia menyebut tugasnya kurang lebih menjadi perwakilan klien untuk mengajukan penghapusan akun kepada pihak platform.

“Aku menghapusnya secara sah dan legal, jadi enggak nge-hack gitu. Aku langsung minta [penghapusan] akun ke [misalnya] pihak Instagram-nya, makanya menggunakan [kartu] identitas,” jelas perempuan asal Riau itu kepada VICE. “Enggak semua akun bisa dihapus, misalnya foto klien kurang jelas, itu bakal susah [ngurusnya] karena sulit meyakinkan pihak Instagram kalau akun tersebut benar-benar akunnya [klien saya].”



Cara pengajuan inilah yang diajarkan di bimbel Iffah, sehingga tidak bisa Nadya jelaskan secara detail kepada VICE. Rahasia perusahaan terpenting itu harus dijaga para “murid” macam Nadya. Harus ada persetujuan para “mentor” kalau ingin membuka bimbel. Apabila ketahuan menyebarkan tutorial diam-diam, ia bisa kena ‘blacklist’.

Sepengalaman Nadya, mengaku akun TikTok adalah yang termudah, namun ia merasa cara penghapusan setiap waktu bisa berubah sehingga penyedia jasa hapus akun perlu terus-terusan belajar. “Beberapa cara udah enggak berfungsi lagi. Dulu Facebook enggak [perlu] pakai [kartu] identitas bisa dihapus, sekarang harus pakai identitas. Kalau enggak pakai identitas sebenarnya kami bisa, tapi harganya beda, karena yang proses bukan aku, tapi mentor aku [Iffah],” jelasnya.

Iffah memang menyebut ada dua caranya menghapus akun klien. Pertama, menggunakan kartu identitas. Kedua, tanpa menggunakan kartu identitas. Cara kedua ini Iffah klaim sebagai penemuannya sendiri. “Di tempat lain kayaknya belum ada. Cara [tanpa kartu identitas] ini juga enggak ada bimbelnya, karena benar-benar penemuan sendiri,” jelas Iffah. Meski mahal, dibanderol sekitar Rp250-300 ribu, pelanggan merasa lebih nyaman karena tak harus menyerahkan foto kartu identitasnya kepada orang asing.

Iffah menceritakan banyak koleganya yang minta diajari cara menghapus akun tanpa identitas, sampai bersedia membayar Rp25 juta untuk ikut kursus. Namun, karena takut ilmu tersebut disebarkan secara tidak bertanggungjawab, sampai saat ini Iffah masih menolak.

Dejo*, cowok 20 tahun penyedia jasa layanan hapus akun asal Surakarta, menyebut permintaan hapus akun sangat tinggi karena mayoritas klien malu sama aib masa kecil dan masa muda yang mereka umbar di Facebook. Cuit-cuitan alay jaman galau di Twitter, sampai foto tanpa jilbab dari klien yang kini sudah berhijab, juga jadi permintaan yang rutin masuk kepadanya. Di antara beragam order itu, kadang ia menemukan pelanggan aneh.

“Saya pernah dapat calon customer, ingin menghapus akun Facebook milik seorang perempuan. Kata dia, bapaknya sering chat dengan wanita ini. Klien saya minta akun Facebook si ‘pelakor’ ini dihapus biar mereka lost contact. Ya, kami enggak bisa bantu,” kata Dejo.

Dalam hal-hal begini, Iffah lebih senior dan berpengalaman menghadapinya. Ada satu kasus berkesan di benak Iffah. Salah satu kliennya pernah memohon agar foto bersama mantan dihapus, sebab pacar yang sekarang menolak menikahinya apabila foto itu masih beredar di internet. Ada-ada saja problematika romansa. Tapi itu bukan yang paling epic.

“Pernah ada bocah masih SMP, minta tolong saya hapusin akunnya Atta Halilintar. Pas saya bilang enggak bisa, dia bilang, ‘Tolong, Kak, saya benci dia.’ Saya sampai geleng-geleng sendiri,” cerita Iffah sambil terkekeh. “Banyak lah yang minta saya ngapus akun selebgram atau artis yang mereka benci.”

Namun, yang paling membuat kami respect sama Iffah adalah caranya memprioritaskan klien yang jadi korban kekerasan berbasis gender online. Ia kerap dapat pesanan menghapus video YouTube berisi video klien sedang streaming menggunakan “pakaian seksi” di platform BIGO Live. “Video [BIGO] itu direkam ulang oleh oknum untuk di-upload ulang di YouTube, sehingga ia dapat uang dari channel itu. Si pemilik video minta video itu dihapus. Itu saya bisa,” kata Iffah.

Ia juga mengaku hampir setiap hari dimintai pertolongan oleh perempuan yang foto syurnya diunggah oleh mantan pacar ke internet. “Instagram klien dibajak dan [mantan pacar klien] menyebarkan foto klien telanjang. Itu akan saya dahulukan banget. Meskipun orderan baru [masuk], saya langsung kerjakan saat itu juga. Saya kasian banget. Coba kalau enggak ada jasa hapus akun, gimana nasib mereka?” kata Iffah.

Kalau gini caranya, penyedia jasa hapus akun kayaknya bakal lebih dipercaya korban kekerasan seksual online daripada polisi siber. Respect!