Home Uncategorized Menelusuri Hubungan Gangguan Bipolar dengan Kejeniusan

Menelusuri Hubungan Gangguan Bipolar dengan Kejeniusan

98
0
menelusuri-hubungan-gangguan-bipolar-dengan-kejeniusan

Kanye West menjadi sosok yang lebih terbuka dan jujur tentang dirinya sendiri tahun ini. Dalam sejumlah wawancara, dia mengungkapkan kondisi mentalnya, pengalaman hidup dengan gangguan bipolar, dan keputusannya untuk tidak berobat.

Ketika Kanye diundang ke podcast Joe Rogan, sang host berbicara dengan gaya slengean: “Kalau disuruh memilih antara Kanye yang kegemukan dan sering mengonsumsi obat-obatan tapi tidak pernah bikin apa-apa, atau Kanye yang gila… Pastinya bakalan pilih Kanye yang gila!” Rogan lalu mempermasalahkan penggunaan istilah “penyakit mental” ketika membicarakan gangguan bipolar yang diidap Ye. Dia meromantisasi masalah kesehatan mental ini sebagai aspek lain dari kejeniusan sang rapper.

Gangguan bipolar dan kreativitas punya sejarah panjang, sehingga tidak mengherankan jika “Is bipolar a sign of genius?” (Apakah bipolar tanda orang jenius?) menjadi pertanyaan yang paling banyak dicari di Google tentang penyakit ini.

Kanye mengklaim dirinya adalah pengidap bipolar yang paling terkenal di dunia saat diwawancarai oleh David Letterman. Faktanya, Ye bukan satu-satunya artis papan atas yang didiagnosis dengan kondisi ini. Selena Gomez, Mariah Carey dan Demi Lovato mengalami gangguan bipolar seperti Kanye. Ernest Hemingway dan Virginia Woolf bahkan diperkirakan memilikinya juga.

Melihat banyaknya publik figur yang bipolar, benarkah gangguan kejiwaan ini ada hubungannya dengan kejeniusan? VICE minta pencerahan kepada Eduard Vieta Pascual, Guru Besar Psikiatri di Universitas Barcelona yang berspesialisasi menangani gangguan bipolar.

Wawancaranya sudah disunting dan diterjemahkan agar lebih ringkas dibaca.

Kanye West

Kanye West. Foto: RANDALL HILL / REUTERS

VICE: Kenapa banyak banget orang kreatif yang mengidap gangguan bipolar?

Eduard Pascual: Ada bukti ilmiah bahwa gen yang menyebabkan gangguan bipolar sama dengan gen yang memicu kreativitas dan sikap kepemimpinan. Semakin banyak jumlah gennya, maka semakin besar pula risiko kalian mengalami kondisi ini. Di sisi lain, kalian akan merasakan manfaatnya jika memiliki gen ini, tapi jumlahnya tidak kebanyakan.

Kami sudah memahami genetika gangguan bipolar, tapi belum bisa menemukan hubungan pasti antara kreativitas dan kepemimpinan.

Itu artinya orang kreatif dan berprestasi lebih rentan memiliki gen tersebut?

Betul, tapi bukan berarti semua orang kreatif dan seniman akan menderita bipolar. Yang jelas mereka memiliki risiko lebih tinggi.

Jika bipolar muncul secara alami dan karena faktor lingkungan, apakah bekerja di industri kreatif dapat memicu kondisi tersebut?

Bisa jadi. Penggunaan narkotika, kurangnya rutinitas dan jadwal tidur yang berantakan dapat merangsang bipolaritas. Seseorang bisa mengembangkan gangguan bipolar jika memiliki kebiasaan seperti ini. Begitu pula halnya dengan stres.

Gejala hipomania — mania yang lebih ringan — sering tertukar dengan kondisi di mana seseorang mencapai puncak inspirasi. Bagaimana caranya membedakan keduanya?

Hipomania memang bisa membuatmu lebih kreatif, tapi juga bisa menumbuhkan sikap mengkritik diri sendiri. Ketika seseorang [yang mengalami hipomania] menyadari apa yang telah mereka lakukan, mereka sebenarnya tidak melakukan sesuatu yang berharga. Hipomania cenderung terjadi berulang kali dan diawali atau diikuti oleh depresi, tidak seperti ketika kalian merasakan kesadaran spiritual atau kebahagiaan sejati.

Hipomania berlangsung singkat, dan ditandai oleh perilaku yang berbeda dari sifat asli penderita. Hipomania menciptakan perasaan senang, tapi belum tentu memberikan manfaat kepadamu. Kalian mungkin menjadi lebih aktif dan kreatif, tapi wawasanmu mungkin terganggu. Pada akhirnya, apa yang dilakukan tidak sehebat yang kalian rasakan.

Seberapa umum penderita bipolar memilih tidak mengobati gejalanya?

Ada orang yang menyangkal kondisinya, ada pula yang enggan mengobatinya. Mereka hanya akan menghancurkan hidupnya atau bahkan hidup orang terdekat jika kondisinya parah, tapi tidak minta bantuan profesional. Memilih tidak berobat adalah keputusan buruk.

Ada banyak orang yang enggan minum obat ketika mengalami masalah kejiwaan. Mereka merasa baik-baik saja, dan takut kepribadiannya akan berubah jika minum obat. Itu sebenarnya tidak benar. Gangguan bipolar yang tidak diobati bisa berakibat fatal. Risiko bunuh diri meningkat 20 kali lipat.

Bagaimana kamu menyikapi pandangan minum obat bisa menghambat kreativitas seseorang?

Kalian masih bisa kreatif meski mengidap gangguan bipolar. Kreativitas tidak sejalan dengan episode manik dan hipomanik. Hal itu muncul dengan beberapa faktor pribadi yang mungkin tidak pernah kita ketahui. Bipolar belum tentu menyiratkan kreativitas, tapi beberapa gen yang terkait dengan gangguan bipolar dapat mengembangkan bakat kalian sendiri.

Bukan penyakitnya yang menghambatmu, melainkan kebingungan yang kalian rasakan. Orang yang mengalami mania atau hipomania sering kali melakukan hal-hal gila yang sebenarnya tidak kreatif. Kalian membutuhkan ketenangan dan merefleksikan diri untuk menjadi penulis, seniman atau musisi hebat. Jadi bukan sebatas inspirasi. Kegilaan cenderung bukan komponen kreativitas yang baik.

Delusi kehebatan adalah gejala umum mania. Publik figur yang menderita bipolar pasti sulit menghadapinya.

Benar sekali. Buku saya menceritakan tentang Raja Spanyol Fernando VI (Ferdinand the 6th) yang mengidap bipolar. Para penasihat kerajaan kesulitan mengajaknya berbicara dengan akal sehat karena dia sering mengalami fase mania. Dia ingin menyatakan perang terhadap dua musuh utamanya, Inggris dan Prancis, pada saat bersamaan.

Seberapa sering penderita bipolar mengubah pandangan dan opininya secara ekstrem?

Sangat sering. Orang kerap berubah pikiran ketika mereka beralih dari fase hipomania ke depresi. Apa yang awalnya mereka kira normal, menjadi sesuatu yang bikin mereka merasa bersalah. Penderita bipolar berubah dari satu kondisi ke kondisi lain. Hal yang sangat mereka yakini dua hari lalu mendadak berubah beberapa hari kemudian.

Bisakah bipolar menjadi kekuatan positif dalam kehidupan seseorang?

Tidak terlalu positif, tapi bisa dimanfaatkan untuk memperbaiki diri bagi penderitanya. Jadi, memiliki sesuatu yang buruk bisa membantumu menjadi pribadi yang lebih baik. Hanya saja itu tidak menjadikan hal buruk sesuatu yang baik.

Bipolaritas mungkin punya sisi positif, tapi gangguan ini sering merugikan orang terdekat penderita. Saya setuju bahwa kalian harus berusaha sebaik mungkin jika memiliki kondisi ini.