Home Uncategorized Menelusuri Trik Sinetron Indonesia Mengakali Pemeran yang Diganti Tiba-tiba

Menelusuri Trik Sinetron Indonesia Mengakali Pemeran yang Diganti Tiba-tiba

75
0
menelusuri-trik-sinetron-indonesia-mengakali-pemeran-yang-diganti-tiba-tiba

Indosiar bergerak cepat menuruti permintaan Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) untuk mengganti aktris pemeran Zahra di sinetron Suara Hati Istri: Zahra. Tokoh yang semula dibawakan aktris Lea Ciarachel (15) kini dialihkan kepada Hanna Kirana (23) demi kelanjutan sinetron tersebut.

Respons ini diambil setelah sinetron tersebut dikecam publik, lantaran tim produksi mengkasting aktris usia anak untuk memainkan peran istri ketiga, sehingga dianggap mempromosikan pedofilia. Proses pergantian pemeran dilakukan dengan trik klise kecelakaan, operasi wajah, dan voilà, berubahlah wajah Zahra.

Trailer terbaru Suara Hati Istri: Zahra mengungkap alur darurat ini. Mobil yang dikendarai Zahra dijelaskan masuk jurang terjal dan terbakar. Cuplikan berlanjut ke scene di ruangan rumah sakit, memperlihatkan Zahra terbaring dengan perban di seluruh kepala, diakhiri dengan rasa kagetnya melihat perubahan di mukanya kala perban dilepas.

Sabar, mohon tahan pertanyaan seputar bagaimana mungkin Zahra masih bisa hidup dan cuma luka di wajah melihat ketinggian jurang serta kondisi mobil yang terbalik dan terbakar. Rasa penasaran semacam ini mari kita kubur dalam-dalam sebab kaidah alam dari waktu ke waktu terbukti tidak berlaku di universe sinetron.

Nyatanya, kemunculan alur absurd demi menutup problem pergantian mendadak pemeran utama sinetron sudah lazim terjadi. Salah satu yang paling epic bagi generasi ‘90-an adalah subtitusi pemeran Lala di sinetron Bidadari dari Marshanda ke Angel Karamoy.

Konflik Marshanda dengan rumah produksi Multivision Plus (MP) membuatnya cabut dari sinetron yang membesarkan namanya tersebut. Kata sang Ibu, Riyanti, masalah utama perpisahan adalah kontrak eksklusif yang diminta MP agar Marshanda tidak berakting untuk rumah produksi lain.

Lantas, MP menciptakan adegan ikonik yang tercatat rapi di kitab sejarah sinetron Indonesia. Tokoh Indah, kawan SMP Lala yang enggak suka Lala deket-deket sama cowok bernama Damar, melakukan tindakan yang membuatnya bisa masuk penjara anak: menyiram air keras ke muka Lala karena terbakar api cemburu. Lala diceritakan langsung menjalani operasi wajah di Singapura untuk kembali ke Indonesia dalam bentuk Angel Karamoy.

Di Sinetron Cinta dari Surga, proses pergantian pemeran lebih adem ayem. Enggak ada konflik berarti saat peran Cinta diubah dari diperankan Melayu Nicole Hall ke Rosiana Dewi. Sama kayak Zahra, cara pergantiannya juga lewat kecelakaan dan operasi wajah. Namun, alasan cabutnya aktris utama di sini lebih tidak kontroversial: Melayu disebut mau fokus kuliah dulu.

Tarik ke masa lebih lampau, aktor pemeran Bobby di sinetron legendaris Tersanjung juga pernah berganti dari Reynold Surbakti ke Adam Jordan, juga lewat kecelakaan parah. Tidak ada data pasti mengapa terjadi pergantian pemeran. Namun, pergantian yang patut jadi sorotan adalah peralihan dari Lulu Tobing ke Jihan Fahira. Pasalnya, enggak ada kejadian dan adegan apa-apa yang bisa menjustifikasi pergantian pemeran utama. Tahu-tahu Jihan muncul dan para penonton harus menerima kenyataan tersebut tanpa backstory pendukung.

Pergantian pemeran sinetron paling mulus baru bisa ditemukan dalam Wiro Sableng, ketika aktor Ken Ken digantikan Abi Cancer. Di tengah kesuksesan kariernya, Ken Ken tersandung masalah pribadi yang membuatnya mundur dari peran Wiro. Apa yang dilakukan penulis cerita sinetron ini? Wiro diceritakan terkena ilmu hitam yang membuat wajahnya rusak. Eyang Sinto Gendeng memberi info bahwa ada mata air yang bisa jadi obat di sebuah kawah gunung. Ajaib, air basuhan dari kawah tersebut berhasil menyembuhkan luka di wajah Wiro yang ternyata juga berubah, menghadirkan Abi Cancer sebagai Wiro baru.

Dari telaah di atas kami menyimpulkan penulis skenario sinetron Indonesia belum menemukan trik anti-mainstream buat mengakali pergantian tiba-tiba protagonis mereka. Ketika tokoh tak bisa dihilangkan, sementara pemeran lamanya tidak bisa melanjutkan, kecelakaan yang menyebabkan kerusakan wajah masih jadi rasionalisasi paling klise.

Menariknya, sinetron berlatar legenda seperti Wiro Sableng lebih punya keuntungan karena batasan logika yang lebih longgar. Jangankan kena ilmu hitam, kalau muka Wiro berubah karena ternyata selama ini doi pakai topeng keramat aja kita bisa terima kok.