Home Uncategorized Menerka Penyebab Tren Hijab Kucing Kini Marak di Tanah Air

Menerka Penyebab Tren Hijab Kucing Kini Marak di Tanah Air

159
0
menerka-penyebab-tren-hijab-kucing-kini-marak-di-tanah-air

Manusia berdandan seperti kucing, kucing didandani seperti manusia. Tanda-tanda dunia terbalik memang semakin nyata. Ketika manusia membeli bando hingga lingerie ala kucing, hasrat mendandani kucing layaknya manusia juga difasilitasi pasar.

Mulai dari rompi motif Doraemonseragam SDkostum dinosaurus, hingga hijab serta baju koko lengkap dengan sarungnya tersedia. Juga jangan khawatir jika tidak cocok dengan satu model jilbab, masih ada model lain seperti jilbab ala ibu-ibu atau model kerudung khas anak aliyah.

Manusia berdandan seperti kucing agar terlihat imut, unik, atau menarik secara seksual. Tapi, mengapa juga muncul obsesi mendandani kucing seperti manusia? Menurut penelitian psikolog Universitas Harvard Adam Waytz, antropomorfisme adalah jawabannya. Hasrat untuk “memanusiakan” objek non-manusia ini membuat para pemilik kucing memproyeksikan sifat-sifat manusia pada hewan peliharaan. Indikasinya, para pemelihara turut mempertimbangkan perasaan kucing, sangat sedih saat ditinggal mati hewan peliharaan, juga berusaha membuat mereka menirukan gerak-gerik manusia, seperti dengan berdandan dengan kostum ala manusia.

Kesepian, lanjut Waytz, menjadi pendorong manusia melakukan antropomorfisme. “Kita punya kebutuhan untuk dimiliki dan diterima,” kata Waytz kepada Livescience. “Ketika seseorang kurang terhubung dengan manusia lain, mereka akan membuat hubungan baru dengan objek non-manusia lewat antropomorfisme ini.”

Lewat penelitiannya bersama tim, Waytz juga menemukan fakta kebalikannya. Orang yang merasa sangat terhubung dengan manusia lain justru kerap mengabaikan sesama mereka. Indikasinya tampak dari tindakan menempelkan sifat-sifat hewan seperti “hama” ke manusia lain.

Sambil memandang altar penyembahan kucing di rumah saya—meja khusus tempat menaruh obat kutu, obat cacing, obat antimuntah, vitamin, suplemen, buku kontrol dokter, sisir kutu, sisir bulu, bola beraneka ukuran, lonceng-lonceng kecil, tongkat bulu mainan, tali jalan-jalan, dan roll pembersih bulu untuk majikan bulu saya—saya berpikir antropomorfisme yang tecermin dari hobi memberi baju pada kucing adalah hal positif. Tapi ketika melihat wig singa yang tercampak di dekat tumpukan dua vacuum cleaner, kardus yang penuh berisi makanan basah, tenda kucing, dua jenis bantal tidur, serta macam-macam perlengkapan toiletries empat kucing saya itu, ada pertanyaan yang menyembul: apakah para kucing nyaman dengan perhatian berlebih manusia?

Respons kucing maupun hewan peliharaan lain akan berbeda, namun pemilik harus lebih peduli pada respons mereka. Apakah mereka menerima? Apakah mereka kesal?

“Buat banyak orang, memposting foto kucing atau anjingmu yang diberi baju atau makeup adalah hal yang lucu atau imut,” kata staf Royal Society for the Prevention of Cruelty to Animals dari Inggris, Bronwyn Orr, kepada ABC Australia. “Tapi berbuat seperti itu artinya melawan martabat hewan serta kebutuhan dan insting alami mereka.”

Menurut Orr, “kekerasan” pada hewan ini sering dilakukan karena banyak orang kesulitan membaca bahasa tubuh hewan. “Kita harus ingat… anjing adalah anjing, kucing adalah kucing, kita harus menghormatinya.” Seruan ini bisa jadi pegangan kepada pemilik hewan yang sudah membeli jilbab kucing atau kostum dinosaurus untuk lebih peduli pada respons hewan mereka. Jangan paksakan pakaian lucu itu jika kucing tidak nyaman.

“Kita tak boleh membahayakan hewan atau membuat mereka tak nyaman hanya demi foto yang imut atau bikin ketawa,” kata Lektor Kepala Jurusan Psikologi dan Konseling Universitas La Trobe, masih kepada ABC Australia.

Saya jadi teringat wig singa yang tercampak tadi. Dari keempat kucing saya, tak seekor pun sudi dipakaikan aksesori seharga Rp100 ribu itu. Demikian juga nasib bola-bola plastik yang ternyata tak semenarik kumbang, cecak, dan kecoak, serta nasib bantal bulu empuk yang rupanya masih kalah nyaman dari serokan sampah.

Yah, antropomorfisme itu baik di sebagian hal, tapi kucing adalah kucing, anjing adalah anjing. Hal yang sama berlaku untuk hasrat memelihara hewan liar yang dipaksa tangkap, dijual, dan dipelihara hanya karena “lucu”.