Home Uncategorized Mengenang Berbagai Tradisi Natal yang Menghilang Akibat Pandemi

Mengenang Berbagai Tradisi Natal yang Menghilang Akibat Pandemi

132
0
mengenang-berbagai-tradisi-natal-yang-menghilang-akibat-pandemi

Sebelas atau sepuluh bulan lalu, kita enggak menyangka akan menjalani hari-hari dengan cara yang aneh yaitu memakai masker, dilarang nonton di bioskop, atau kerja dari rumah. Kita mengira pada bulan April atau Mei, virus yang kemudian dikenal luas sebagai Covid-19 ini segera berkurang penularannya dan kita bisa bebas clubbing lagi sampai pagi.

Oh, betapa naifnya. Saat sudah sampai di penghujung tahun, ternyata kita masih belum tahu kapan akan kembali kepada kehidupan normal. Justru kita harus memikirkan jangan-jangan kehidupan pra Covid-19 memang enggak akan pernah kita rasakan lagi.

Sepanjang 2020 juga bermunculan topik tentang rentannya kita terhadap masalah mental, terutama karena pandemi ini berdampak ke segala penjuru mata angin. Tingkat pengangguran mendadak semakin tinggi, ruang kelas tradisional tak lagi ditempati dan murid pindah ke kamar atau ruang tamu di rumah sendiri, lalu muncul perasaan kesepian dan dibatasi. Kita belum pernah dilatih buat menghadapi situasi-situasi ini. 

Menjelang Natal, aktivitas yang sebelumnya menjadi tradisi sekarang harus dipikir-pikir lagi. “Enggak ada Christmas dinner dan tukar kado sama teman-teman,” kata Grace, seorang karyawan swasta. Padahal, sejak kuliah sampai dua tahun bekerja, dia enggak pernah melewatkan makan malam bersama dan saling memberikan bingkisan Natal. “Biasanya sih tanggal 22 atau 23 Desember. Tergantung bisanya kapan.”

Salah satu penyebabnya adalah beberapa temannya masih work from home di tempat asal masing-masing yang berlokasi di luar Jabodetabek. Akhirnya, mereka pilih meniadakan agenda tahunan itu. “Jujur sedih sih. Soalnya tadinya sempat berharap akhir tahun bisa longgar. Mungkin kita ganti dinner virtual aja, tapi enggak tahu kapan,” imbuhnya.

Pemerintah sendiri mengeluarkan peraturan khusus edisi Natal dan Tahun Baru. Misalnya, gereja diharuskan membatasi jumlah jemaat yang beribadah secara langsung. Gereja Katedral Jakarta pun mengumumkan hanya mengizinkan 20 persen dari total kapasitas gereja. Di era sebelum Covid-19, Gereja Katedral menerima 5.000 jemaat. Dengan kata lain, sekarang hanya 309 orang yang boleh mengikuti misa di sana.

Sama seperti ketika Paskah dan ibadah Minggu selama pandemi, berbagai gereja besar juga mengadakan misa virtual di mana jemaat bisa mengikutinya lewat live streaming. Ada yang sudah terbiasa, ada juga yang masih menyesuaikan diri. “Namanya Paskah dan Natal kan momen istimewa. Gimana ya, rasa khidmat di dalam gereja sama lewat internet ya pasti beda jauh. Rindu banget ibadah di gereja,” tutur Grace.

Buat Nanda akhir tahun ini juga dirasa lain. Apalagi harapannya untuk menikmati liburan bersalju di Jepang pupus begitu saja. “Udah nabung dari dua tahun lalu dan niat banget pengin ngabisin cuti di Tokyo dan Osaka. Awal tahun 2020 beli tiket pesawat, tapi bulan Maret terpaksa cancel,” kata laki-laki yang berprofesi sebagai web developer itu.

Liburan kali ini, dia mengaku mempertimbangkan untuk pergi ke tempat yang lebih dekat. “Cuma belum tahu juga sih, masih lihat-lihat kondisi. Sekarang kan kudu tes [antigen atau PCR].”

Pemerintah beralasan aturan yang mendadak muncul ini untuk menekan angka penularan Covid-19. Sebelumnya, pemerintah menyebut kenaikan jumlah kasus disebabkan oleh libur panjang. Di berbagai tempat pun muncul laporan antrian tes oleh para calon penumpang. Di Stasiun Gambir, sempat dilaporkan hampir 1.000 orang yang berkerumun karena menanti giliran rapid test antigen.

Di Bandara Internasional Juanda, Surabaya, penumpang batal berangkat karena ternyata hasil tes mereka sudah enggak berlaku. Menurut aturan baru lainnya, hasil rapid test antigen hanya berlaku 3×24 jam. “Kalau ditanya apa yang dikangenin dari momen akhir tahun sebelum pandemi, aku sih bilang enggak ada keribetan tes kayak sekarang,” ujar Nanda. “Liburan ya liburan aja. Bebas mau ke mana selama ada duitnya. Cuma mau gimana lagi?”

“Kalau aku kangen pesta BBQ, nyalain kembang api, minum beer, terus curhat-curhatan sama teman-teman sampai pagi. Ngomongin resolusi apalah,” kata Reza, karyawan swasta, soal malam Tahun Baru. “Sekarang gloomy sih suasananya. Serba enggak pasti. Mau undang teman-teman ke rumah, terus kita party sendiri, takutnya ada yang laporin, kita digerebek polisi.