Home Uncategorized Mengenang Masa-masa Ketika Milan yang Dikuasai Mafia Rutin Bersimbah Darah

Mengenang Masa-masa Ketika Milan yang Dikuasai Mafia Rutin Bersimbah Darah

49
0
mengenang-masa-masa-ketika-milan-yang-dikuasai-mafia-rutin-bersimbah-darah

Popularitas Milan memang tak terbantahkan lagi. Bukan hanya dikenal sebagai pusat mode dunia, kota ini juga menjadi jantung ekonomi Italia. Namun, ada satu hal yang jarang diketahui orang tentang kawasan metropolitan tersebut. Milan punya masa lalu yang cukup kelam, khususnya di era 70-an hingga 80-an.

Angka kejahatan di wilayah itu meningkat setelah mengalami kebangkitan ekonomi sekitar tahun 60-an. Kala itu, seisi kota digemparkan dengan serangkaian aksi perampokan, penculikan dan pembunuhan yang terjadi hampir setiap harinya. Milan terpecah belah akibat bentrokan geng kriminal yang saling memperebutkan daerah kekuasaan. Kota itu mencatat rata-rata 150 kasus pembunuhan setiap tahun selama lebih dari satu dekade. Jika dibandingkan dengan situasi saat ini, hanya ada tujuh kasus pembunuhan yang terjadi sepanjang 2021.

Sejarah kelam Milan dituangkan dalam seri dokumenter berjudul La Mala. Banditi a Milano (“Mobster: Kawanan Bandit di Milan”) yang disutradarai oleh Chiara Battistini dan Paolo Bernardelli. Keduanya terpikir menggarap film ini setelah mengkhatamkan buku kompilasi artikel terbitan La Notte, surat kabar Italia yang sudah tidak terbit. “Dari situ, kami mulai mencari bukti foto dan para penyintas yang dapat memberikan kesaksian,” Battistini memberi tahu VICE.

Proyek ini merupakan tantangan tersendiri bagi kedua sutradara. Mereka harus mencermati “mana kejadian nyata, dan mana yang cuma mitos selama era tersebut. Ini karena keduanya sering tercampur aduk, terkadang secara agresif,” imbuh Bernardelli.

Aksi perampokan bank dengan sandera yang terjadi di Milan pada 1975.

Aksi perampokan bank dengan sandera yang terjadi di Milan pada 1975.

La Mala berkutat pada kisah hidup tiga penjahat paling kejam di Milan – Angelo Epaminonda, Francis “Wajah Malaikat” Turatello dan Renato Vallanzasca, yang kerap dijuluki “si tampan René” – yang sebagian besar informasinya bersumber dari arsip dan wawancara yang tidak dipublikasikan.

Vallanzasca menjadi bintang utama serial tersebut. Saat ini menjalani empat hukuman seumur hidup, catatan kriminal mantan perampok itu tak bisa dianggap remeh. Bernardelli bahkan sampai mengatakan, seandainya ia orang Amerika, sepak terjangnya mungkin sudah menjadi langganan film Hollywood.

Lelaki kelahiran Milan itu mulai berulah sejak dirinya masih remaja. Setelah keluar masuk penjara anak akibat kejahatan kecil, Vallanzasca yang berusia 22 diamankan polisi karena kedapatan mencuri di supermarket bersama kawan-kawannya pada 1972. Dia pertama kali kabur dari penjara sekitar empat tahun kemudian, dengan berpura-pura sakit hepatitis agar dirawat di rumah sakit.

Sang buronan kemudian mengumpulkan kekuatan untuk gengnya dengan mengorganisir para tahanan di penjara lain untuk kabur. “Saya menjemput para narapidana dan membawa mereka kabur,” kenang Vallanzasca dalam dokumenter. “Kalau saya ingin membangun klan, […] mereka harus tak terhentikan.” Benar saja, Milan berubah menjadi lautan darah tak lama setelah Vallanzasca dan antek-anteknya menguasai kota.

Penangkapan Renato Vallanzasca

Penangkapan Renato Vallanzasca

Vallanzasca terkenal akan kebrutalannya. Pada 1981, dia menghasut pemberontakan di penjara Novara yang merenggut nyawa beberapa informan — salah satunya Massimo Loi yang baru berusia 20 kala itu. “Mereka memenggal kepalanya, dan menendangnya seperti bola di lapangan. Setelah itu, kepalanya dibuang ke toilet,” demikian kesaksian Achille Serra, petugas polisi yang berada di lokasi kejadian.

Mitos seputar Vallanzasca diperkuat oleh kebiasaannya melakukan aksi provokatif. Dia pernah minta diwawancara sebuah stasiun radio terkenal di Italia, padahal dirinya masih jadi buronan. Dia berulang kali mencoba kabur dari penjara, dan berhasil melakukannya sebanyak empat kali. Pada 1987, dia melarikan diri lewat jendela kapal feri yang berhenti di pelabuhan Genoa. Saat itu, pihak berwajib hendak memindahkannya ke penjara di Sardinia. Dia segera membaur di tengah kerumunan dan pergi ke Milan. Namun, dia ditangkap lagi 20 hari kemudian.

Foto lelaki tua merokok

Penampakan Renato Vallanzasca saat ini.

Selanjutnya ada Francis Turatello dan Angelo Epaminonda, yang sama-sama ditakuti di Milan. Mereka juga memiliki kisah yang sulit diterima akal sehat.

Banyak rumor yang beredar di masyarakat mengenai status Turatello sebagai putra kandung bos mafia Italia-Amerika Frank Coppola, lebih dikenal Frank Tiga Jari. Dia dengan cepat menjadi sosok berpengaruh yang menguasai sebagian besar sarang judi dan lingkaran prostitusi sepanjang 1970-an. Turatello tewas ditikam pada 1981, saat dia mendekam di penjara. Entah apa alasan penikaman tersebut.

Lahir di Sisilia, Epaminonda menceburkan diri dalam dunia kriminal dengan bergabung menjadi anggota geng Turatello. Setelah namanya malang melintang dalam jaringan peredaran narkoba, ia menjadi sosok yang semakin kuat berkat kerja samanya dengan Cosa Nostra, klan mafia di Sisilia.

Para anggota suka menjuluki diri mereka “The Indians”. Berpusat di kota Catania, sindikat penjahat ini diyakini yang paling berbahaya dan menakutkan se-Italia. Dokumen arsip yang diperoleh kru La Mala memperkirakan sedikitnya 60 nyawa melayang di tangan mereka. Setelah ditangkap pada 1984, Epaminonda mengaku bertanggung jawab atas 17 kasus pembunuhan dan membantu tim penyidik menyelesaikan 44 kasus lainnya sejak menjadi informan.

Geng itu juga terkenal akan keterlibatannya dalam aksi penembakan di La Strega, restoran yang berada di selatan kota. “The Indians” menyergap restoran pada 3 November 1979 pukul 1 dini hari, untuk menghabisi Antonio Prudente, bos mafia Apulian yang memiliki keterikatan dengan Turatello. Namun, pembunuhannya berujung pada pembantaian yang menelan delapan jiwa, termasuk juru masak restoran.

Lelaki berkacamata hitam diborgol di balik jeruji

Francis “Wajah Malaikat” Turatello.
Angelo Epaminonda (lelaki yang mengenakan jaket cokelat di tengah).

Angelo Epaminonda (lelaki yang mengenakan jaket cokelat di tengah).

Musim penculikan” merupakan bagian tergelap dalam sejarah Milan. Lebih dari 160 warga Milan diculik sepanjang 1973-1984. Puncaknya terjadi pada 1977, yang mana 34 orang menjadi korban penculikan dalam setahun.

Kalangan elit menjadi sasaran empuk lantaran para penjahat bisa meminta uang tebusan yang tinggi untuk mengembalikan orang terdekat mereka dalam keadaan selamat. Aksi penculikan ini semakin menimbulkan ketakutan di kawasan yang rawan perampokan dan pembunuhan. Banyak pengusaha membeli dan menyimpan senjata untuk melindungi diri sendiri. Anak-anak orang kaya bahkan didaftarkan bersekolah di luar negeri demi keselamatan mereka. Dalam dokumenter, hakim Giuliano Turone, yang mengungkap perkumpulan rahasia Freemason yang beranggotakan para petinggi di dunia politik dan bisnis, sampai mengaku ogah punya anak saking takutnya menjadi target penculikan.

Penculikan menjadi sumber pemasukan yang cukup besar, baik bagi geng kriminal berskala kecil maupun mafia. Selama musim penculikan, sindikat ‘Ndrangheta dari Calabria bisa meraup jutaan dari uang tebusan saja, yang kemudian dialihkan ke bisnis kokain. Sejak statusnya naik menjadi kejahatan terorganisir, kelompok itu melakukan pencucian uang dan menancapkan kekuasaannya di Italia utara.

‘Ndrangheta kini dicap sebagai jaringan mafia terbesar dan terkaya di Italia. Kekayaannya mencapai €55 miliar atau nyaris Rp860 triliun setahun, 2,5 kali lipat lebih besar daripada pendapatan tahunan McDonald’s.

Kisah penutup dari masa lalu Milan yang kelam berlangsung sangat dramatis. Pada 1987, Vallanzasca ditangkap untuk terakhir kalinya, sedangkan persidangan besar akan digelar menyusul pengakuan Epaminonda. Sidangnya digelar di ruangan bunker khusus dan dihadiri 122 terdakwa. Mereka tampaknya sadar ini akhir dari perjalanan mereka, dan merupakan kesempatan terakhir melawan musuh.

Pada 5 Oktober, jaksa penuntut umum Francesco Di Maggio menyampaikan dakwaannya terhadap anggota mob Nuccio Milano, yang dituduh atas 17 kasus pembunuhan. Namun, terdakwa tiba-tiba mengeluarkan pistol dan melepaskan tujuh tembakan dari balik jeruji. Targetnya musuh bebuyutan, Antonino Faro dan Antonino Marano, yang juga sedang diadili. Keduanya selamat; dua polisi terkena tembakan, tapi mereka selamat.

“Benar-benar sulit dipercaya apa yang telah terjadi. Kami bahkan tidak langsung menyadari telah terjadi penembakan,” ungkap jurnalis Marinella Rossi yang diwawancarai dalam La Mala. Saat itu, Rossi meliput jalannya persidangan untuk surat kabar Il Giorno. Tim penyidik tak berhasil menemukan bagaimana senjata berhasil diselundupkan ke ruang pengadilan.

Kekerasan mungkin telah berakhir, tapi geng dan mafia masih ada sampai sekarang — hanya saja mereka jauh lebih terorganisir. “Organisasi kriminal kini beroperasi di balik layar mesin ekonomi kota,” tutur Battistini. “Mereka mungkin tak pernah lagi menampakkan diri dan tembak-menembak, tapi bukan berarti jejak mereka sudah hilang.”

Artikel ini pertama kali tayang di VICE Italy.