Home Uncategorized Mengikuti Aksi Pemburu Sampah Visual Perkotaan Bernama Kolektif ‘garuksampah’

Mengikuti Aksi Pemburu Sampah Visual Perkotaan Bernama Kolektif ‘garuksampah’

159
0
mengikuti-aksi-pemburu-sampah-visual-perkotaan-bernama-kolektif-‘garuksampah’

Matahari tengah terik-teriknya saat para pengendara motor berhenti di lampu merah perempatan Ringroad Kentungan Yogyakarta. Timer di lampu merah baru sampai angka 53, dan demi menghabiskan waktu sialan itu saya mengedarkan pandangan. Seharusnya Gunung Merapi nampak utuh menjulang, tapi siang itu pemandangan di seberang perempatan batal megah. Papan-papan reklame dan spanduk terpacak tak beraturan di sepanjang sisi jalan, menghalangi lanskap alam. Beberapa spanduk bahkan menjorok hampir separo badan jalan melintang di atas pengendara.

Sebuah perusahaan properti menawarkan diskon cicilan rumah, sebuah universitas mencari mahasiswa baru, sebuah toko obat kuat menjamin kemaluan kliennya berdiri tegak hingga kiamat, iklan jasa skripsi dan “telat bulan” saling menumpuk di tiang listrik, dan iklan obat sakit kepala terpampang besar seperti sebuah ironi. reklame iklan obatmu itu justru yang membikin saya sakit kepala.

Perasaan jengah serupa ternyata dialami belasan anak muda yang tergabung dalam kolektif garuksampah. Kolektif ini anggotanya rata-rata masih berusia 20-an, rutin berinisiatif jadi vigilante membuang sampah visual, khususnya limbah iklan di Yogyakarta. Tak hanya mencopoti spanduk dan roundtag ilegal, mereka ini juga nekat menggaruk poster-poster dan sisa kabel di tiang listrik.

“Soalnya mengganggu pemandangan, berbahaya untuk masyarakat, dan yang seperti itu biasanya melanggar aturan [pemda],” ujar Raden Arip Buwono, salah satu anggota garuksampah berusia 25 tahun, saat ditemui VICE.

Polusi visual selama ini menduduki kasta paling bawah dalam obrolan soal sampah. Namun bagi garuksampah, tidak begitu. Kepekaan mereka terhadap problem polusi visual di Yogya ini berawal dari kegiatan mereka bersepeda bersama yang mulai ajeg dilakukan sejak 2016. “Sepedahan itu kan menjadi lambat ya, jadi bisa lihat detail kota seperti apa. Sering kesal harusnya lihat pemandangan, isinya iklan semua,” kata Rio Puspito Argo (21) yang bergabung dengan garuksampah sejak 2019. 

Barangkali bagi pengendara sepeda motor sampah visual tak lebih dari kelebat-kelebat tak berarti, tapi nyatanya tidak sesederhana itu. Menurut Johan Juno (23), di Yogyakarta sendiri, Kabupaten Sleman menjadi titik polusi visual paling parah.

Perempatan Kentungan yang disebut di awal, berada di Kabupaten Sleman, dihiasi 32 iklan dalam hitungan sekilas. Titik paling “kotor” biasanya adalah persimpangan jalan raya, kawasan padat penduduk, dan pusat transaksi ekonomi. “Di Seturan-Babarsari itu parah banget, bekas tali di tiang-tiang listrik sudah kayak kepompong,” ujar Jojo, menceritakan kondisi salah satu kawasan yang padat ditinggali mahasiswa perantau di Yogya.

Sejak 2016, garuksampah rutin mengadakan “giat” di jalan untuk sweeping di berbagai kawasan di Yogyakarta. Giat diadakan dua kali seminggu, yaitu Rabu untuk kawasan kota Yogyakarta dan tempat wisata, sementara Minggu keliling ke kabupaten sekitarnya. Karena tak memiliki anggota tetap, giat garuksampah mengandalkan relawan tiap minggunya. Namun sejak pandemi Covid-19, giat jadi tidak rutin dan tiap diadakan pun jumlah relawan dibatasi.

Round tag untuk satu iklan yang sama bisa sampai ratusan jumlahnya dan tersebar di pinggir jalan raya .jpg

Round tag untuk satu iklan yang sama bisa sampai ratusan jumlahnya dan tersebar di pinggir jalan raya Sleman.

Motivasi para relawan macam-macam. Raden Arip misalnya yang seorang seniman mural, ingin merebut kembali fungsi dinding kota sebagai galeri dan kanvasnya.  Relawan paling banyak, yaitu mahasiswa biasanya giat untuk menunjukkan pengabdian pada kota rantau. Sementara alasan Rio adalah untuk mencari teman, sebab meski melakukan aksi tauladan seperti memungut sampah di jalan, kalau dilakukan sendirian justru dicap aneh.

Tujuh relawan malam itu berburu iklan ilegal di sepanjang jalan Seturan Raya. Dengan gesit mereka berbagi tugas. Satu orang membawa tang untuk melepas kawat, lainnya menarik bambu pancak, atau membawa trashbag untuk wadah. Selama 30 menitan berjalan, mereka berhasil menumpuk belasan roundtag iklan toko bangunan, yang ternyata baru dipasang malam sebelumnya. Pemandangan macam ini yang teramati oleh VICE saat diajak mengikuti giat garuksampah pada 27 Januari 2021.

Andai tak gerimis, malam itu Arip atau Rio sudah pasti akan memanjat tiga tiang listrik target garuksampah untuk mengurai kepompong tali tambang bekas spanduk. Malam itupun mereka sudah membawa tangga lipat. Biasanya kepompong warna-warni tersebut berada 5-6meter di tiang, menggembung dan terlihat kumuh. Meski tanpa peralanan memadai, aksi ini kerap mereka lakukan di giat rutin. “Ya mau gimana, nekat saja. Yang paling nyebelin itu, kalau pasang di tiang listrik masih ditambahi bambu supaya tambah tinggi, mau ngiklan setinggi apasih?,” Raden Arip menunjukkan ekspresi heran.

“Pemasang iklan itu tapi terus berinovasi lho. Sekarang enggak sekedar tancap, tapi bahkan pakai besi patok L lalu diikat kawat, jadi susah diambil,” tambah Johan.

Bekas tambang pengikat spanduk yang dibiarkan menumpuk hingga menyerupai kepompong.jpg

Bekas tambang pengikat spanduk yang dibiarkan menumpuk hingga menyerupai kepompong.

Tersebab rutin giat, mereka mengamati bagaimana iklan di jalanan ini berganti dari waktu ke waktu. Poster acara kampus, jasa skirpsi, dan “telat bulan” jadi yang paling konsisten sepanjang tahun, diikuti dengan poster cicilan rumah dan motor. Dan ketika musim pemilu tiba, jalanan diserbu wajah-wajah politikus dalam roundtag dan spanduk beragam ukuran yang ditempel tak beraturan.

“Tapi kalau iklan kampanye gitu enggak berani nethel sembarangan, takutnya malah kami yang digaruk,” ujar Rio tertawa, ia melanjutkan “Kalau musim pemilu, kami betul-betul memilah yang betulan di tempat terlarang, kayak di pohon misalnya. Takut ada ormas”.

Sekali waktu mereka mengaku pernah membersihkan tempelan poster setebal 6-7 cm. “Selama pandemi untung enggak ada acara sih, tapi sebelum itu poster acara band kampus banyak sekali. Tersangka utamanya UGM dan UNY,” jelas Raden Arip. Mereka menyayangkan hal ini, sebab menempel poster di sembarang tempat itu jelas melanggar aturan. “Kalau anak SMA masih maklum ya, tapi ini mahasiswa lho, miris sih,” tambah Johan.

Dalam aksinya, garuksampah mengacu pada tiga aturan resmi, yaitu Perbup Sleman No. 13.1 tentang Penyelenggaraan Reklame, Peraturan Walikota (Perwali) Yogyakarta Nomor 23 tahun 2016, Etika Pariwara Indonesia (EPI), dan aturan per daerah jika ada. Dalam Perwali tersebut dijelaskan area terlarang untuk memasang iklan adalah bangunan cagar budaya, sekolah, kawasan bebas asap rokok, jalan protokol, dan lain-lain.

“Bisa dibilang kebanyakan ilegal. Apalagi reklame yang melintang di jalan, enggak melihat aspek keamanan, atau dipasang di aset pribadi orang. Atau di pohon, apa nggak kasihan? Itu kan tanaman hidup, kenapa nggak di tempat lain sih?,” tutur Raden Arip gemas.

Kepada VICE, Johan memberi tips cara melihat iklan ilegal secara cepat. Pertama, segala reklame yang tidak memiliki plat biru di bawahnya, mayoritas ilegal, tak peduli sebesar apapun ukurannya. Kedua, segala iklan yang berada di trotoar, menghalangi pejalan, tertempel di ruang publik, atau dipasang di tiang listrik, semua tak sesuai aturan resmi. Selepas ngobrol dengan garuksampah, VICE sempat berkeliling kota dan mendapati mayoritas reklame dan iklan visual ini masuk ke kriteria ilegal yang diungkap oleh garuksampah.

Menurut cerita mereka, hasil garuksampah iklan yang paling banyak adalah roundtag, spanduk, dan poster tempel. Sekali giat, mereka bisa mengumpulkan 2-5 karung sampah. Saat ini, hasil giat ditimbun di garasi rumah salah satu anggota. Dulu biasanya mereka langsung membawa ke TPA, atau dijadikan amunisi kritik ke pemerintah, khususnya Pemerintah Kota, Dinas Lingkungan Hidup, dan Satpol PP yang berwenang untuk masalah ini.

Menariknya, kritik garuksampah kerap berformat sarkasme. Acara “Serangan Umum 1 Maret” misalnya. Pada 1 Maret 2020 lalu, mereka mengerahkan puluhan relawan dan mengumpulkan sampah dari penjuru kota di balai kota Yogyakarta sebagai aksi teatrikal. Setelahnya garuksampah mendapat respon berupa kilahan dari pihak Satpol PP bahwa tugas mereka bukan cuma urusan sampah. “Tapi mereka kan sebenarnya punya wewenang memberi sanksi ke pengiklan nakal, nah wewenang ini yang tidak pernah mereka pakai,” ujar Johan.

Tak cuma itu, garuksampah telah berulangkali mengadukan hal ini lewat sosial media Satpol PP atau Pemkot Yogya, namun seringkali masalah macam ini seringkali direspons birokrasi secara berbelit. Alhasil, kolektif ini mengaku punya hubungan tak baik dengan pemerintah. “Yang paling sebal, Pemkot enggak merasa [aksi kami] itu sindiran. Kayaknya malah mereka menganggap ‘wah ada masyarakat yang masih mau bantu’. Kasarannya kami kok jadi kayak babu,” tambahnya.

“Sebenarnya sampah visual itu bukan masalah kecil, soalnya kalau dilihat dari pembiaran sampah yang sudah ribuan, itu secara tidak langsung menggambarkan kondisi birokrasi yang ada di situ secara keseluruhan,” Johan menjelaskan. Material berupa plastik, besi, tali, dan kertas pun dalam jumlah begitu banyak akan turut menambah volume sampah secara umum di Yogyakarta. Padahal awal tahun 2021 kemarin, santer terdengar kabar daya tampung TPS Piyungan di Yogya sudah melampaui batas.

Anggota garuk Sampah difoto memegang hasil _giat_ hari itu.jpg

Anggota garusampah memamerkan hasil berburu iklan ilegal pada akhir Januari 2021.

Anggota garuksampah menyayangkan situasi ini. Ketimbang kumuh oleh iklan, Raden Arip yang juga seorang seniman mural berharap paling tidak dinding kota bisa berfungsi sebagai ruang apresiasi dan ekspresi seninya.  “Zaman digital harusnya sampah visual udah enggak zaman lah, nambah biaya, targetnya enggak jelas juga. Mending digital marketing atau video tron,” tambah Johan.



Saat ini garuksampah tengah menggodok inovasi untuk menjadikan situs mereka sebagai ruang aduan dan pengaduan data terkait problem sampah di Yogyakarta. “Kami ingin gerakan ini jadi masif,” tandas Johan.

Selama ini, garuksampah sebetulnya tak ingin mengedepankan aksi vigilante semata. Mereka terutama ingin mengkritik visi tata kelola kota Yogyakarta. Pada tumpukan reklame, spanduk, poster, dan roundtag yang berebut perhatian masyarakat, kita tengah melihat perebutan ruang di kota Yogyakarta ini. Kenyamanan personal, ekspresi seni, dan ketertiban publik selamanya harus bersitegang dengan kepentingan ekonomi. Bahkan dalam bentuknya yang paling sederhana, iklan.

“Semua masalah di Yogyakarta itu tertutup sama romantisasi. Apa-apa rindu, senja, dan angkringan. Boleh saja mengutarakan perasaan kayak gitu, tapi jangan sampai denial dong dengan problem kota, gitu aja,” tutup Johan.


Titah AW adalah jurnalis lepas yang bermukim di Yogyakarta. Follow dia di Instagram