Home Uncategorized Menurut Kemenag, Tiap Tahun Ada Sekitar 300 Ribu Pasangan di Indonesia Bercerai

Menurut Kemenag, Tiap Tahun Ada Sekitar 300 Ribu Pasangan di Indonesia Bercerai

138
0
menurut-kemenag,-tiap-tahun-ada-sekitar-300-ribu-pasangan-di-indonesia-bercerai

Tidak semua janji bisa ditepati. Salah satunya adalah janji sehidup semati dalam pernikahan. Setiap tahun, Indonesia mencatatkan statistik angka perceraian yang tidak sedikit.

Kamaruddin Amin, Dirjen Bina Masyarakat Islam dari Kementerian Agama, mengatakan ada 300.000 perceraian di Indonesia setiap tahun. Ada beragam faktor mengapa begitu banyak pasangan memutuskan mengakhiri pernikahan mereka.

Data dari Dirjen Badan Peradilan Agama, Mahkamah Agung, memperlihatkan sejak 2016 hingga 2018, penyebab perceraian pasangan paling banyak adalah pertengkaran, disusul masalah ekonomi, lalu terkikisnya rasa setia oleh salah satu pihak. 

Kamaruddin mengaku masa pandemi membuat pihaknya lebih khawatir terhadap laki-laki maupun perempuan yang menjadi duda dan janda. Ini lantaran kondisi perekonomian masyarakat dihantam dengan banyaknya usaha yang gulung tikar dan status karyawan yang mendadak hilang. 

Sementara, Pengadilan Agama Jakarta Timur mengungkap jumlah berkas perceraian yang diterima selama Juni 2020 cukup signifikan. Dalam satu bulan, ada 900 laporan pasangan yang meminta berpisah difasilitasi negara. 

Humas pengadilan agama, Istiana, menyebut separuhnya adalah mereka dengan usia pernikahan relatif baru yaitu satu hingga lima tahun. Lagi-lagi, soal ekonomi melatarbelakangi keputusan para pasangan ini untuk tak lagi bersama. Sedangkan di Jawa Barat, sampai September lalu ada 30.206 kasus perceraian akibat pertengkaran dan 24.392 kasus yang dilatarbelakangi masalah ekonomi.

Badan Pusat Statistik (BPS) Agustus lalu merilis jumlah penduduk usia kerja yang terdampak Covid-19. Ada total 29,12 juta orang yang didata di mana mayoritas menjadi pengangguran, sementara tidak bekerja, dan mengalami pengurangan jam kerja sejak virus corona mengguncang berbagai industri di dalam negeri.

Dalam survei sebelumnya terhadap lebih dari 80.000 responden, 44,67 persen laki-laki dan 38,55 persen perempuan mengaku mengalami penurunan pendapatan akibat terdampak Covid-19. Tragisnya, sebanyak 70,53 persen orang dari kelompok berpendapatan rendah atau kurang Rp1,8 juta, mengatakan penghasilan mereka semakin menurun.

Dr. Tin Herawati, Kepala Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen dari Institut Pertanian Bogor, melihat itu adalah pola yang sama bahkan sejak sebelum kita mengenal Covid-19. “Perceraian juga terjadi kepada pasangan berusia produktif antara 20-30 tahun,” kata dia, di mana satu faktor penyebab yang konsisten adalah ekonomi.

Masalah itu tak hanya mengikis kehangatan, tetapi juga meningkatkan rasa permusuhan yang berakibat pada semakin tidak harmonisnya kondisi rumah tangga. Apalagi, pernikahan di bawah lima tahun adalah ujian bagi kemampuan adaptasi oleh masing-masing pihak. 

Tetapi, ada juga fakta mencengangkan lainnya yang terungkap akibat pandemi. Komnas Perempuan mengatakan ribuan perempuan mengalami kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) seiring bertambahnya frekuensi pertemuan antara suami dan istri dalam kondisi ekonomi sedang memburuk. Persoalan ini juga diangkat oleh UN Women.

Badan PBB untuk urusan perempuan itu menemukan peningkatan angka kekerasan terhadap kaum hawa di berbagai negara dalam 12 bulan terakhir. Nomor pengaduan di Singapura, misalnya, menerima aduan 30 persen lebih banyak dibandingkan masa sebelum pandemi.

Di Jepang dan Tiongkok, pengalaman traumatik itu menggiring pada keputusan para istri untuk berpisah dari suami mereka. Menumpuknya permintaan cerai sampai memunculkan istilah “corona divorce” yang sebenarnya menyoroti persoalan mendalam di banyak pernikahan yaitu rentannya perempuan sebagai korban kekerasan.

Kamaruddin mengaku Kementerian Agama berusaha untuk menekan angka perceraian, termasuk dengan mengadakan bimbingan pranikah. Program ini diluncurkan untuk membantu calon pasangan suami-istri mengetahui apakah mereka telah siap untuk memasuki jenjang pernikahan. Namun, belum diketahui berapa banyak orang yang berpartisipasi dan merasa terbantu.

Menurut pengacara perceraian di Amerika Serikat James J. Sexton, ada hal-hal yang sebenarnya bisa dilakukan untuk mengurangi angka perpisahan. Dia menilai pasangan yang bercerai — misalnya, karena masalah ekonomi — sebetulnya telah mempunyai persoalan-persoalan kecil yang menumpuk dan menjadi besar di kemudian hari.

“Ada banyak sekali hal-hal kecil yang terjadi dan kemudian banjir bandang itu datang, lalu muncul lah hal-hal besar tersebut,” tuturnya.

Dia menyarankan bagi siapa pun yang berpikir untuk menikah untuk menggunakan analogi mobil. “Saran saya paling sederhana untuk orang-orang adalah lihat itu [pernikahan] seperti membeli sebuah mobil, sebab saya kira, terkadang, mereka lebih banyak berpikir waktu ingin membeli mobil dibandingkan ketika akan menikah.”

Dibandingkan ingin membeli Ferrari atau Lamborghini yang mewah, lanjut Sexton, sebaiknya seseorang memilih mobil yang nantinya bisa mengakomodasi kebutuhan saat sudah berkeluarga. Sama halnya dengan memilih pasangan.

Ia menyarankan agar setiap calon pengantin berkontemplasi terlebih dulu. “Sebab hidup saya akan berubah. Saya akan berubah. Apa yang penting bagi saya akan berubah. Apakah orang ini bisa berubah bersama saya sehingga kita bisa bergerak ke tujuan yang sama?” imbuhnya.