Home Uncategorized Menurut Penelitian, Kebiasaan Selingkuh Bisa Menular Lho

Menurut Penelitian, Kebiasaan Selingkuh Bisa Menular Lho

412
0
menurut-penelitian,-kebiasaan-selingkuh-bisa-menular-lho

Ada banyak alasan seseorang tidak setia pada pasangan, di antaranya karena sudah bosan, gampang tergoda atau sulit berkomitmen. Faktor lingkungan bahkan diyakini dapat menumbuhkan keinginan untuk selingkuh dalam diri kita.

Penelitian baru yang diterbitkan dalam jurnal Archives of Sexual Behavior menemukan, adegan perselingkuhan dapat mengubah pandangan seseorang tentang tindakan tersebut, dan berpotensi mendorong mereka melakukan hal serupa setelah mengetahui betapa umumnya kasus orang bermain di belakang pasangan.

“Dari hasil penelitian, kami mengusulkan lingkungan yang memberi kesan seolah-olah perselingkuhan itu wajar dapat membuat orang berpikir tidak ada salahnya jika mereka juga selingkuh,” tulis peneliti Gurit Birnbaum dalam studinya.

Kesimpulan itu diperoleh setelah tim Birnbaum melaksanakan tiga tahapan penelitian yang mengukur kesetiaan seseorang. Mereka mencatat reaksi subjek setelah diperlihatkan contoh kasus orang selingkuh atau melakukan perbuatan curang lainnya.

Pada percobaan pertama, peneliti meminta peserta yang berstatus mahasiswa S1 dan sudah berpacaran minimal empat bulan, untuk menonton salah satu video tentang tingkat perselingkuhan. Video pertama memperkirakan 86 persen orang pernah selingkuh, sedangkan video satu lagi menyebut hanya 11 persen yang mengaku selingkuh dari pasangan. Setelahnya mereka harus menulis fantasi seksual, yang berfungsi sebagai penentu tingkat keinginan peserta untuk berhubungan selain dengan pasangan sah. Para peneliti tidak melihat adanya pengaruh dari kedua video tersebut.

Namun, penelitian selanjutnya memberikan hasil yang sangat berbeda.

Pada percobaan kedua, Birnbaum dan rekan-rekan menguji kesetiaan para mahasiswa yang hubungannya sudah jalan minimal setahun. Peserta kelompok pertama disuguhkan pengalaman perempuan yang kencan dengan teman sekantor padahal dia sudah punya pacar, sedangkan kelompok satunya lagi membaca pengakuan mahasiswa pakai jasa joki tugas. Mereka kemudian diminta melihat foto-foto lawan jenis yang rupawan, dan menyebutkan seberapa besar ketertarikan mereka untuk menjadikan orang dalam foto sebagai pasangan. Banyaknya jumlah orang yang menarik perhatian peserta digunakan sebagai indeks keinginan mereka untuk selingkuh.

Hasilnya, peserta yang membaca kisah perselingkuhan tertarik pada lebih banyak foto orang asing, jika dibandingkan dengan mereka yang membaca cerita orang berbuat curang saat kuliah.

Penelitian terakhir berfungsi mengamati kesediaan peserta mengenal lebih dalam seseorang di luar hubungan percintaannya. Percobaan kali ini melibatkan mahasiswa yang sudah punya pacar kurang lebih selama empat bulan terakhir. Mereka diminta mempelajari salah satu atau kedua hasil survei, dan menentukan prevalensi tindakan selingkuh dan curang. Kelompok pertama memperkirakan prevalensi selingkuh sebesar 85 persen, sedangkan yang lain memperkirakan persentase tersebut menggambarkan tindakan orang berbuat curang untuk dapat nilai bagus.

Para peserta lalu mengobrol dengan asisten peneliti yang fotonya dianggap “atraktif” lewat aplikasi pesan instan. Asisten bertanya hal-hal yang disukai peserta selama mengobrol, lalu mengakhiri chat dengan ucapan seperti: “Saya penasaran sama kamu! Saya harap kita bisa ketemuan langsung.” Setelah membalas pesan tersebut, para peserta diminta menilai ketertarikan seksual lawan bicara dan menentukan seberapa besar komitmen mereka terhadap pasangan. Sama seperti percobaan pertama, ada penilai independen yang mengevaluasi upaya peserta untuk bisa ketemuan dengan asisten.

Hasilnya menunjukkan, peserta yang membaca survei perselingkuhan dan memuji foto asisten cenderung memberi balasan yang menyatakan ketertarikan mereka menemui teman chatting. Komitmen mereka terhadap pasangan juga lebih rendah dibandingkan dengan peserta yang membaca survei tentang mahasiswa curang. Para peneliti juga menemukan responden laki-laki lebih bersedia mengajak orang lain berkenalan daripada perempuan, tidak peduli survei apa yang mereka baca.

Tim Birnbaum melihat ini sebagai indikasi paparan terhadap adegan perselingkuhan dapat mengurangi komitmen seseorang pada pasangannya, dan meningkatkan peluang mereka berselingkuh.

“Semua temuan ini menunjukkan, situasi yang mendorong tingginya prevalensi sifat tidak setia menurunkan kesediaan seseorang mempertahankan hubungannya bersama pasangan, yang mungkin akan meningkatkan peluang mencari kesenangan dengan orang lain,” tulis peneliti.

Memiliki ketertarikan pada orang selain pasangan tentu tidak bisa disamakan dengan tindakan selingkuh. Tapi menurut peneliti, banyaknya kasus perselingkuhan dapat dijadikan alasan untuk tidak setia.

Namun, masih diperlukan penelitian lebih lanjut untuk memastikan bagaimana tepatnya hal itu memengaruhi keinginan seseorang berselingkuh.

“Banyaknya kasus perselingkuhan tak serta-merta membuat orang jadi tukang selingkuh. Meski begitu, jika seseorang sudah rentan untuk selingkuh atau ada peluang untuk melakukannya, lingkungan semacam ini dapat memberi dorongan tambahan yang membuat orang tidak tahan pada godaan sesaat yang akhirnya berujung pada perselingkuhan,” Birnbaum menyimpulkan.

Follow Romano Santos di Instagram.