Home Uncategorized Menyambangi Sisa-Sisa Apartemen Brutalis Peninggalan Era Uni Soviet

Menyambangi Sisa-Sisa Apartemen Brutalis Peninggalan Era Uni Soviet

124
0
menyambangi-sisa-sisa-apartemen-brutalis-peninggalan-era-uni-soviet

Inggris pasca Perang Dunia II ditandai oleh kemunculan bangunan monolitik bergaya brutalisme, sebuah desain arsitektur yang kental dengan bahan beton mentahnya.

Brutalisme dengan cepat menyebar ke seluruh Eropa, tetapi konsepnya paling kentara di Blok Timur. Ribuan pusat kegiatan masyarakat dan apartemen bertingkat tinggi terinspirasi oleh desain ini.

Banyak dari gedung-gedung ini yang telah dirobohkan karena menjadi pengingat akan masa lalu Soviet. Sedangkan di daerah lain, bangunannya masih berdiri tegak tapi tak terurus.

Alex Schoelcher mengabadikan bangunan-bangunan yang masih tersisa serta kehidupan di dalamnya. Dua tahun dia berkeliling di bekas Blok Timur, dari Georgia, Moldova, Kazakhstan sampai Kyrgyzstan. Fotografer Melbourne ini bercerita kepada VICE mengenai pengalamannya selama di sana dan proyek fotonya yang berjudul “Concrete Citizens”.

aul_vice_1.jpeg

VICE: Apa yang menginspirasi kamu untuk memulai proyek “Concrete Citizens”?
Alex Schoelcher: Saya mendalami fotografi arsitektur sejak beberapa tahun lalu. Sebenarnya saya sudah beberapa kali membantu fotografer arsitektur lain, tapi baru tertarik menyeriusi bidang ini setelah lihat-lihat foto bangunan brutalis dan desain arsitektur kuno Soviet di Instagram. Saya tiba-tiba terpikir Eh gila, nih. Bangunannya khas distopia abis. Seram tapi menarik juga.

Tapi masalahnya, foto-foto ini kebanyakan hanya fokus pada bangunannya saja. Kesannya jadi kayak enggak ada sentuhan manusia sama sekali di sana. Saya frustrasi melihatnya karena menghilangkan kenyataan bahwa ada kehidupan di dalam bangunan itu.

Saya ingin proyek foto ini enggak cuma menampilkan tampak luarnya saja, tapi juga mengintip ke dalam dan melihat apakah orang-orang yang tinggal di sana merasa bahagia.

plato_vice_3.jpeg

Ada gak postingan Instagram atau momen yang bikin kamu semakin yakin proyek fotonya harus jalan?

Saya pernah lihat foto Nutsubidze Plato di Instagram. Apartemen ini terdiri dari tiga blok yang terhubung oleh jembatan panjang. Saya mengajak teman yang tinggal di Georgia untuk pergi ke sana, dan dia membawaku ke sebuah apartemen tak jauh dari situ supaya bisa dapat angle lebih bagus.

Temanku itu malah bilang, “Yuk kita cari penghuni yang mengizinkanmu foto-foto dari balkon mereka”. Saya awalnya mengira ini ide gila. Mana mungkin ada penghuni yang mau mengizinkan orang asing masuk begitu saja ke apartemen mereka? Tapi nyatanya beneran ada. Seorang ibu membuka pintu dan mempersilakan kami masuk. Di ruang tamu, seorang lelaki bertelanjang dada sedang duduk bersama anjing husky.

Setelah selesai mengambil foto dari balkon, saya kepikiran merekam isi apartemen mereka, karena hal paling menarik dari suatu bangunan adalah bagian dalamnya. Selama ini, saya memfoto orang di jalanan. Tak pernah terbayangkan olehku bisa memotret mereka dari dalam rumah.

romanita_vice_4.jpeg

Butuh berapa lama sampai mereka merasa nyaman untuk difoto dari dalam rumahnya?

Saya masih belum bisa percaya orang-orang dengan mudahnya mengizinkanku bertamu dan memfoto mereka. Biasanya, kan, minta izin memotret orang asing enggak segampang bertanya “Saya boleh memfoto kamu?” Konsepnya aneh dan tak terduga buat mereka, jadi ketika kamu melakukannya, kamu baru sadar kalau sebenarnya cukup banyak orang yang menyukainya atau terbuka dengan ide itu. 

Ada satu foto ibu-ibu bersantai di sofa. Ini cukup mengejutkan bagiku karena dia mengizinkan saya untuk memotretnya seperti itu.

aul_vice_5.jpeg

Kamu bilang kamu ingin melihat kehidupan di dalam bangunan-bangunan ini. Boleh diceritakan seperti apa kondisinya?

Macam-macam. Ada yang suka dengan tempat tinggal mereka, entah karena komunitas di dalamnya, pemandangan atau karena gedungnya dibangun dengan sangat baik. Beberapa orang tua bahkan bangga tinggal di sana karena punya kenangan indah di zaman Uni Soviet. Gedung-gedung itu sering mencerminkan masa lalu tersebut.

Sementara yang lain membenci gedungnya karena jelek. Makanya mereka kaget saat saya menunjukkan ketertarikan. Bagi mereka, gedung ini bagai kutukan.

Kemiskinan terpampang jelas. Banyak yang tidur di ruang tamu karena enggak punya kamar.

mikrorayon_vice_5.jpeg

Para lansia sering merasa kesusahan karena lift rusak atau kegerahan di musim panas. Kebanyakan orang hidup serba kekurangan.

Ada juga yang punya banyak anak. Seorang ayah tinggal bersama delapan anaknya di apartemen kecil. Sulit sekali membayangkan bagaimana rasanya berbagi atap dengan banyak orang seperti itu.

mikrorayon_vice_4.jpeg

Di beberapa negara, gedungnya sudah dirobohkan. Apakah kamu menyadarinya atau menyaksikan hal serupa terjadi di kawasan ini?

Tentu saja. Beberapa bangunan ini terancam digusur, atau bahkan sudah banyak gedung baru yang dibangun di sekitarnya. Akhirnya pemandangan dan lanskap di sana pun ikut berubah. Proses gentrifikasi di daerah sekitar menara runcing Moldova, misalnya, semakin berjalan pesat.

Follow Joseph Lew di Instagram.

Berikut beberapa foto yang diabadikan Alex Schoelcher selama mengunjungi kawasan bekas Uni Soviet:

mikrorayon_vice_1.jpeg
plato_vice_4.jpeg
plato_vice_5.jpeg
aul_vice_2.jpeg
romanita_vice_5.jpeg
plato_vice_2.jpeg
plato_vice_1.jpeg

Artikel ini pertama kali tayang di VICE US