Home Uncategorized Menyelidiki Penyebab Munculnya Berbagai Mitos Seputar Perayaan Imlek

Menyelidiki Penyebab Munculnya Berbagai Mitos Seputar Perayaan Imlek

114
0
menyelidiki-penyebab-munculnya-berbagai-mitos-seputar-perayaan-imlek

Tahun Baru Imlek merupakan hari raya penting bagi banyak orang Asia, dan berlangsung satu minggu penuh. Tradisinya tetap hidup meski perayaan Imlek kali ini akan berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Negara-negara seperti Korea Selatan, Vietnam dan Mongolia memiliki tradisinya sendiri, tetapi sebagian besar budaya Tionghoa memiliki adat istiadat yang sama.

Larangan bersih-bersih rumah atau potong rambut selama pergantian tahun mungkin terdengar aneh di telinga mereka yang tidak merayakan. Tak jelas apa alasan di balik kebiasaan ini. Namun, bagi orang yang merayakan, ini semua ada kaitannya dengan kemakmuran dan keberuntungan.

Untuk memperingati Tahun Baru Imlek, VICE berusaha menjelaskan beberapa tradisi yang masih dilestarikan sampai sekarang.

Kenapa dirayakan setiap Januari-Februari?

2021 sudah hampir jalan dua bulan, tapi kenapa baru dirayakan sekarang? Tahun Baru Imlek biasanya jatuh sekitar akhir Januari hingga pertengahan Februari (21 Januari – 20 Februari). Tanggalnya saja yang berbeda-beda setiap tahun. Hari raya tradisional, seperti Tahun Baru Imlek dan Festival Pertengahan Musim Gugur, mengikuti kalender Tionghoa. Setiap bulan di kalender lunisolar ini ditandai dengan siklus bulan baru. Tanggal perayaan ditentukan oleh pola astronomi — biasanya jatuh pada bulan baru kedua setelah titik balik Desember.

Kenapa identik dengan warna merah?

perempuan mengenakan baju tradisional Tionghoa berwarna merah

Foto: RODNAE Productions, Pexels

Merah diyakini sebagai warna keberuntungan dalam budaya Tionghoa. Selain melambangkan kesuksesan dan kebahagiaan, warna ini dikatakan mampu mengusir roh jahat — kepercayaan ini berakar pada legenda raksasa Nian yang takut warna merah. Orang memakai baju serba merah saat tahun baru untuk memperoleh peruntungan. Pakaian dalam merah bahkan disebut-sebut ampuh mendatangkan kekayaan, jadi tidak heran kalau mereka sering memberi hadiah pakaian dalam merah.

Tidak masalah mengenakan pakaian terang selain merah. Yang penting jangan pakai baju hitam dan putih, karena kedua warna itu melambangkan kematian dan duka.

Kenapa tidak boleh menyapu?

Di hari pertama tahun baru, orang tidak akan menyapu lantai atau bersih-bersih karena takut keberuntungannya ikut terbuang. Mereka juga tidak buang sampah selama beberapa hari karena alasan yang sama. Itulah mengapa orang yang merayakan Tahun Baru Imlek umumnya membersihkan rumah dari jauh-jauh hari. Selain untuk menjamin keberuntungan, ini juga berfungsi membuang sial di tahun sebelumnya.

Sisi negatif dari kebiasaan ini adalah orang-orang jadi suka menelantarkan sampah berukuran besar dan hewan peliharaan.

Kenapa dilarang potong rambut?

Sejumlah orang anti keramas dan potong rambut selama merayakan tahun baru untuk alasan yang sama dengan larangan menyapu. Rambut (fa) dalam bahasa Mandarin mirip seperti “kaya” (facai). Memotong rambut berarti memotong rezeki. Selain itu, rambut panjang melambangkan umur panjang. Ada semacam keyakinan umur akan lebih pendek jika rambutnya dipotong.

Kenapa harus begadang di malam tahun baru?

Menurut kepercayaan tradisional Tionghoa, bangun semalaman bisa memanjangkan umur orang tua. Semakin larut kalian terjaga, semakin panjang pula hidup orang tua. Kepercayaan ini termasuk ke dalam budaya filial piety— tindakan mematuhi setiap perkataan orang tua karena takut dianggap anak kurang ajar — yang berakar pada ketakutan dan rasa bersalah. Bisa dibayangkan betapa ngerinya ketiduran di malam tahun baru.

Kenapa suka bagi-bagi jeruk?

Jeruk Mandarin

Foto: Koh Ewe

Jeruk mandarin adalah simbol kekayaan. Warna oranye yang cerah cocok untuk perayaan Tahun Baru Imlek yang semarak. Orang tukeran buah jeruk mandarin dengan keluarga dan teman untuk menggandakan keberuntungan dan mengucapkan selamat.

Sementara itu, pir dianggap “buah tabu” karena pelafalannya dalam bahasa Mandarin (li) mirip kata “perpisahan”. Menghadiahkan buah pir sama saja dengan mengucapkan selamat tinggal.