Home Uncategorized Ngapain Sih Pengendara Memodifikasi Knalpotnya Jadi Bising? Ini Alasan Mereka

Ngapain Sih Pengendara Memodifikasi Knalpotnya Jadi Bising? Ini Alasan Mereka

64
0
ngapain-sih-pengendara-memodifikasi-knalpotnya-jadi-bising?-ini-alasan-mereka

Kalau boleh ngintip daftar dosa manusia di buku catatan milik malaikat, kami yakin akan menemukan data bahwa mayoritas dosa manusia yang tinggal di Indonesia berasal dari umpatan-umpatan kotor kala mendengar kendaraan berknalpot bising lewat. 

Sumpah, knalpot bising emang pemancing emosi paling efektif. Mau asalnya dari hentakan mesin dua tak yang memecah keheningan syahdu di tengah malam, erangan berisik konvoi partai, atau tarikan gas berlebihan seorang pengemudi yang jengkel sama pengendara lain, semuanya berpotensi jadi pemicu adu jotos. Di Probolinggo, ada pengendara knalpot bising yang sampai dihajar warga. Di Bogor, pengendara knalpot bising yang malah menghajar warga. Kalau masalah laten ini dibiarkan terus, keutuhan NKRI bisa terancam.

Pemerintah sebenarnya udah mencoba mengatur sumber konflik sosial tersebut lewat UU 22/2009 tentang standardisasi kebisingan knalpot, dengan ancaman denda dan penjara. Polisi bahkan memakai cara problematis demi menciptakan efek jera: menempelkan kuping pengendara ke knalpot bising sebagai hukuman. Sayang, cara koersif macam ini bukannya jadi solusi, malah menimbulkan masalah baru karena ternyata knalpot racing hasil modif tidak bisa ditilang

Sebagai media cinta damai, redaksi VICE mencoba mengambil langkah nirkekerasan. Kami memutuskan bertanya kepada pengendara kendaraan berknalpot bising di berbagai kota secara baik-baik, semata-mata untuk lebih mengenal mereka, menyelami alasan dan justifikasi di balik pemasangan knalpot bising di kendaraan masing-masing. Harapannya, kita bisa sedikit mengerti dan toleran terhadap alasan-alasan tersebut, sehingga tidak mudah tersulut emosi dan terpancing melakukan persekusi. Amin.

Berikut hasil wawancara VICE dengan lima pria yang berpengalaman memodifikasi knalpot motor dan mobil mereka menjadi lebih terengtengtengteng dan brumbrumbrum.

VICE: Apa kendaraan yang lo modif dengan knalpot lebih bising?
Bhre, 29, ASN asal Semarang:
Bajaj Pulsar 180, dari 2013-2017.

Andrek, 28, pengusaha F&B asal Yogyakarta: Honda GL100, dari 2012 sampai 2014.

Abdi, 27, karyawan BUMN asal Bekasi: Toyota Starlet tahun 2017-2018, Toyota Innova dari 2019 sampai sekarang masih aku pake.

Ananda, 23, karyawan swasta di Tangerang Selatan: Vespa S150 dari tahun 2014 sampai 2018.

Dono, 29, pengusaha asal Bandar Lampung: Yamaha Xeon dari tahun 2010. Ducati dan Pajero dari 2015 sampai sekarang. 

Pertanyaan paling penting nih: apa alasan memasang knalpot bising?
Bhre:
Buat nambah performa, torsi dan tenaga, jadi lebih kenceng. Karena knalpot standar pabrik ada filter suara yang membuat performa kendaraan enggak maksimal. Waktu itu belum mikirin bakal sebising apa suaranya. Itu pertama kali pakai knalpot freeflow, jadi cuek aja sama efek sampingnya. Cuma, aku berani bilang kalau knalpot freeflow yang aku pakai bukan tipe suara yang memekakkan telinga, [punyaku] lebih ngebass.

Andrek: Waktu itu aku mementingkan desain sih, cari yang cocok modelnya sama modifikasi keseluruhan visual atau body motornya. Saat itu, model yang tersedia di bengkel [dan pas sama keseluruhan visual] ya yang bising. Cuma, [kebisingannya] tergantung kita seberapa besar narik gasnya. Kalau misal [nariknya] gede ya emang berisik banget, cuma kalau kita nyantai gitu, ya merdu.

Pas kupakai ternyata ada kegunaan selanjutnya. Keuntungan punya knalpot bisa bising adalah kalau kita emosi di jalan dengan pengendara lain yang kurang bijaksana mengemudinya, misal belok enggak kasih lampu sein, aku bisa bleyer sekenceng-kencengnya. Itu efektif dan enak banget. Klakson itu kurang emosional, kalau teriak kencang melelahkan. Ini cerita waktu itu ya, zaman 2012, sekarang ya enggak. Sekarang lebih sabar dan dewasa, toleransinya bertambah juga. Hahaha….

Abdi: Poin utama [dari modifikasi knalpot] itu bukan bisingnya, tapi mengoptimalkan performance-nya. Bising itu cuma efek samping, soalnya kalau mobil-mobil dari pabrikan itu biasanya dikasih katalis di sistem pembuangannya, sehingga performance jadi enggak maksimal. Jadi, untuk memaksimalkan, biasanya kami ganti dengan knalpot yang inch-nya lebih gede, tekukan lebih minim, sambungan lebih minim. Nah, efek sampingnya jadi lebih berisik.

Ananda: Pas masih SMA pengen punya motor Superbike yang bunyinya garang. Tapi, gue tahu kalau pakai motor modelan Superbike kayak Ninja tuh tangan pegel banget. Jadi lebih milih Vespa, tapi knalpotnya diganti. Itu ngerasain ada sensasi tersendiri pas lagi ngegas, ada gemuruh knalpot yang greget gitu, ketimbang cuma “ngeng” aja. Buat gue saat itu sih enggak terlalu bising, tapi kalau sekarang sih sepakat [dibilang bising].

Dono: Gue ganti knalpot pas baru masuk kuliah, terpengaruh sama skena otomotif permotoran di Malang. Modal Rp300 ribu ganti knalpot yang penting bisa geber kuping orang kalau ego gue kesenggol di jalan. Bertahan sekitar tiga bulan terus gue ganti knalpot yang agak mahalan dikit, Rp2,8 juta, karena jijik sendiri sama knalpot sebelumnya.

Perlu dicatat, harga knalpot Rp300 ribu sama Rp2,8 juta karakter suaranya beda banget, apalagi yang Rp10 juta-an. Ibaratnya yang satu terompet tahun baru, satunya terompet pemain jazz di kafe, satunya terompet Kenny G. Yang jadi isu adalah knalpot murah atau abal-abal yang beredar di pasaran, yang tidak memperhatikan maksimum desibel yang dihasilkan. Ini yang meresahkan.

(Catatan redaksi: kami memutuskan tidak mengoreksi bahwa sesungguhnya yang dipakai Kenny G adalah saksofon, semata-mata demi menjaga perasaan narasumber.)

Pernah diprotes orang sekitar?

Bhre: Belum pernah, karena aku selalu coba enggak ngasal melintir gas di sembarang tempat. Aku juga ngakalin suara knalpotku biar enggak terlalu keras suaranya pas di putaran [gas] bawah, baru bikin bising di putaran atas. Kalau masuk gang kampung selalu bawanya pelan. Jadi, enggak bikin orang-orang yang tempatnya dilewatin jadi kesel.

Andrek: Masuk SMA pertama kali ganti motor itu, satpam langsung bilang, “Mas, enggak boleh bawa helikopter ke sekolah.”

Abdi: Dulu pacar gue sebelum nikah pernah protes, orang tua juga protes. Tapi, ya sebenernya gue ketawain aja karena mereka enggak terlalu paham kenapa knalpot harus diganti. Poinnya bukan cari berisiknya, lebih cari performance-nya. Kalau bisa silent tapi optimal sih boleh aja, tapi bisa kita lihat sendiri mobil-mobil racing kan udah pasti berisik.

Ananda: Oh tentu, dari keluarga macam “Motor lu berisik amat” atau “Duh, mesti Nanda ini” [setiap mendengar knalpot bising dari kejauhan]. Cuma gue dulu denial aja kali ya, jadi gue iya-iyain aja. Tapi dari mereka yang awalnya protes-protes kecil, jadi maklum.

Yang paling gue inget tuh pernah dibentak sama bapak kosnya temen gue. Lagi main ke kosnya, gue mencoba sadar diri dengan menuntun motornya. Tapi, pas gue idupin motornya [pas mau pulang], langsung diteriakin ama bapak kosnya, “MAS, BERISIK!”

Dono: Pas masih pake knalpot Rp300 ribu sih sering. Pernah masuk gang kosan temen gue yang agak terpencil, disiram air ama warga. [Knalpotnya] pernah patah di jalan sehingga bunyinya makin ancur, di perjalanan ke bengkel dipelototin masyarakat, kayak dianggap beban sosial.

Setelah gue ganti ke Rp2,8 juta malah sering diajak ngobrol ama sesama enthusiast.  

Untitled design - 2022-01-18T155517.858.png

Foto hanya ilustrasi, menggambarkan pawai motor dengan knalpot ‘blombongan’ yang bising di Muntilan, Jateng. Foto oleh Noe Prasetya

Lalu, kenapa kalian sekarang berhenti pakai knalpot bising?

Bhre: Udah ketilang polisi tiga kali. (Catatan redaksi: Polda Lampung pernah menyatakan knalpot bising hasil modifikasi tak bisa ditilang.) 

Andrek: Saat ini udah enggak modif motor atau kendaraan lagi. 

Abdi: Ini gue masih nyetir Innova yang dari ujung mesin sampai ujung bodi belakang semuanya udah diganti, suaranya lebih berisik dari knalpot standar, tapi performance-nya meningkat jauh. Kalau gue balikin ke standar ya sayang sih, performance pasti turun.

Ananda: Tahun 2018, motor gue dipinjem sama temen gue selama gue exchange. Pas motor dia bawa, dua hari pertama dia mau diusir sama bapak kosnya gara-gara motornya berisik. Akhirnya, dia minta knalpot asli motor gue dan dia ganti lah sendiri. Selesai masa peminjaman, gue yang tadinya pengen balikin ke knalpot custom kok mulai merasa terganggu setiap dengerin motor yang knalpotnya berisik. Akhirnya gue sadar, apakah gue selama ini menyebalkan?



Sampai suatu hari di Desember 2019, gue lagi makan di warung pinggir jalan, tiba-tiba ada motor dua tak dengan knalpot super bising lewat dan ngebut banget. Pas mereka lewat, gue langsung ngerasa nyeri di kuping kanan, sampai ada suara “nging” agak lama. Setelah itu, gue dengerin musik pakai headphone, musiknya kenceng sebelah.

Akhirnya gue ke dokter THT. Pas dicek, ternyata di kuping kanan gue bagian tulang-tulang rawannya tuh memar berwarna merah gitu. Gue sempet didiagnosa hampir kehilangan pendengaran, ya karena momen motor berisik sekejap itu.

Dono: Sampai sekarang gue masih pakai kendaraan, mobil dan motor, dengan modifikasi knalpot bising. Tapi yang ini lebih merdu. 

Sebagai pengendara kendaraan bising, kamu terganggu sama kebisingan kendaraan lain?

Bhre: Kalau sekarang jelas terganggu, dan malu sendiri kalau inget dulu pakainya knalpot model begitu. Kalau dulu sih masih cuek-cuek aja pas ketemu atau dengar [suara knalpot] sesama pengguna knalpot bising.

Andrek: Aku enggak masalah sama knalpotnya, tapi cara pengendaranya mengemudi sih yang masalah. Knalpot bising itu enggak selamanya bising. Ada yang bisingnya merdu kayak Harley Davidson, motor-motor 500 cc ke atas itu bisingnya merdu. 

Cuma, kalau motor [merdu] itu dikendarai sama orang yang enggak qualified yang suka ngebleyer, itu baru mengganggu. Kalau dikendarai sama yang sudah dewasa justru enak banget di jalan. Jadi, orangnya sih yang menurutku salah.

Abdi: Kalau buat motor-motor yang cc kecil, terus diberisikin, gue terganggu banget, karena udah tahu nih motor performance-nya [mentoknya] kayak gimana. Enggak akan terlalu terasa, mending upgrade motornya. Kalau motor gede dengan knalpot berisik, misalkan 2 silinder dan 4 silinder itu gue sama sekali enggak terganggu, eargasm malah, seneng gue ngedengerinnya. Merdu.

Ananda: Semenjak momen [memar di telinga] itu, gue bener-bener langsung nutup kuping setiap ada motor suara berisik yang mau lewat.

Dono: Hampir tiap malem gue mengumpat-ngumpat sendiri sama kendaraaan bising yang ngebut di depan rumah. Kadang gue mikir, apa ini karma karena zaman gue kuliah dulu pake knalpot bising?

Pendapatmu soal polisi yang menghukum pengendara kendaraan bising dengan menempelkan telinga ke knalpot?

Bhre: Kurang sepakat sih. Lebih baik dikasih denda paling tinggi aja dengan jaminan motor diangkut ke kantor polisi. Itu udah cukup. Kalau mau bikin orang kapok ya sering-sering aja dirazia atau kasih denda tinggi. Kalau asal main tempelin kuping ke knalpot bahaya, bisa rusak masa depan pendengaran orang. Padahal orang itu bisa aja besoknya udah tobat pake knalpot bising, tapi sedih kan kalau pas tobat, kondisi kupingnya udah budeg.

Andrek: Motor kayak Harley itu bisa berisik, bisa enggak berisik. Itu semua manusianya yang menggunakan. Enggak semua pengendara motor bising [patut] dihukum. Yang masalah, pengendara yang bikin suara knalpot bisingnya jadi enggak merdu. Yang harus dilihat, apakah pengendara yang telinganya ditempelin ke knalpot racing itu hanya karena sembarang orang punya knalpot bising, atau karena dia berkendara secara tidak dewasa?

Abdi: Menurut gue bego sih, itu enggak perlu. Diperjelas aja regulasinya, cara menghukumnya lebih dipikirin lagi.

Ananda: Menurut gue sebagai yang pernah ngalamin sakit pendengaran, itu bahaya buat kuping pengendaranya….

Dono: Ini sih goblok.