Home Uncategorized Ngobrol Bareng Perempuan Dewasa, Soal Stereotip ‘Ibu’ yang Ingin Mereka Hapuskan

Ngobrol Bareng Perempuan Dewasa, Soal Stereotip ‘Ibu’ yang Ingin Mereka Hapuskan

130
0
ngobrol-bareng-perempuan-dewasa,-soal-stereotip-‘ibu’-yang-ingin-mereka-hapuskan

Aku perempuan berumur 30 tahun yang belum menikah, apalagi punya anak. Belum berencana untuk melakukannya juga dalam waktu dekat. Dalam bayanganku, berkeluarga itu perlu kerja ekstra keras.

Pertama, kamu harus menemukan pasangan yang cocok dengan gaya hidup dan pola pikirmu. Buat orang yang yakin bahwa perubahan adalah hal mutlak, prasyarat pertama ini saja sudah susah. 

Aku percaya bahwa konsep rumah tangga itu terus berevolusi. Begitu juga dengan peran sebagai perempuan, istri maupun ibu. Sederhananya begini, dulu ada dogma perempuan harus punya kualitas ‘keibuan’, seperti bisa masak dan tangkas mengerjakan urusan rumah tangga. 

Kenapa? Karena bagi masyarakat patriarkis, kodrat perempuan adalah menikah. Saat bersedia menjadi istri, perempuan diwajibkan menunaikan tugas-tugas itu untuk melayani suami. Ketika jadi ibu, tanggung jawab kami ditambah dengan mengurus dan mendidik anak. Pembagian peran tradisional itu semakin dipertanyakan di masa sekarang, karena situasi sosial akibat pengaruh globalisasi dan kapitalisme juga semakin rumit.

Banyak perempuan Indonesia mendapatkan sudut pandang baru seiring perkembangan zaman. Kini sudah tidak tabu lagi bagi perempuan (Indonesia) meninggalkan dogma lama dan memilih jalan yang enggak tradisional, karena ada banyak alternatif. Ini berarti merayakan kebebasan bagi perempuan yang sebelumnya cuma disodorkan dua pilihan yaitu jadi ibu (bagus) atau perawan tua (jelek).

Setiap 22 Desember, perempuan Indonesia dibiasakan memperingati Hari Ibu. Setiap tahun pula muncul diskusi untuk meluruskan makna sejarah 22 Desember, mengingat ini sebetulnya bukan momen yang tepat untuk memberi selamat hanya kepada ibu. Sejarah penetapan hari ini oleh Sukarno sebetulnya menjadi penanda kesetaraan bagi gerakan organisasi politik perempuan. Namun, oleh rezim Orde Baru, momen 22 Desember diarahkan untuk mendomestifikasi perempuan, tepatnya agar perempuan Indonesia lebih setia pada peran tradisional “ibu”, yang tentunya apolitis.

Karena itulah, mulai muncul interpretasi agar momen 22 Desember diubah menjadi momen mengucapkan selamat kepada semua perempuan, tanpa melihat statusnya sebagai ibu atau tidak. 

Tetapi, perempuan-perempuan yang secara sadar memutuskan jadi ibu juga layak diapresiasi atas pilihan kerja keras fisik dan emosional mereka. Ibu, khususnya yang secara definitif memutuskan memiliki anak, tak bisa lagi sesuka hati memikirkan diri sendiri. Kala seorang perempuan single capek dengan rutinitas kerja, kami bisa mendadak beli tiket pesawat dan terbang ke Bali. Mayoritas ibu sulit begini, kecuali dia Kylie Jenner yang mampu bayar banyak pengasuh dan asisten.

Aku pun ngobrol dengan empat perempuan dari kota yang berbeda-beda. Ada yang sudah menjadi ibu, ada yang baru akan melahirkan dalam waktu dekat. Aku mengulik seperti apa rasanya memilih tanggung jawab sebagai “ibu” saat usia mereka masih di pertengahan 20-an hingga awal 30 tahun. Apa stereotip soal ibu di negara ini yang mereka ingin lawan, apa yang terus mereka pelajari setelah menjadi ibu, dan pola pikir apa yang mereka masih ingin pertahankan sebagai individu merdeka.

Berikut penuturan mereka:


Judith, 32, Pemred Media

VICE: Adakah stereotip soal ibu di negara ini yang enggak kamu suka dan pengin kamu ubah?
Judith: That every mother loves to spend time with their kids all the time, karena mamak butuh me time supaya bisa waras. Hehehe.

Menurutmu, apa yang seharusnya cowok tahu soal pengalaman menjadi ibu?
In a lot of cases, postpartum depression is very real. Hal ini masih membingungkan bagi beberapa laki-laki, dan dianggap sebagai sesuatu yang hormonal saja. I hope every man and woman knows that every feeling is valid, dan seorang ibu baru sangat membutuhkan support system yang baik untuk bisa bertahan.

Apa hal penting yang kamu pelajari setelah menjadi ibu?
I grew up in a toxic household with a lot of childhood trauma. Ini yang membuat aku masih belajar berdamai dengan inner child. Sebelum jadi orang tua, aku mati-matian bersumpah enggak mau mengulangi cycle tersebut. Susah sekali memutuskan mata rantai untuk tidak menjadi seperti orangtua sendiri, but I meditate almost everyday to remind myself that I can change the cycle. Aku berusaha enggak jadi toxic parent dengan enggak gaslighting, too controlling, selfish, dan sebagainya. The next step is to forgive my parents dan coba melihat dari perspektif mereka bahwa orangtua juga manusia biasa.


Silvia, 34, Staf Organisasi Kemanusiaan

VICE: Apa pola pikir yang enggak berubah dari kamu sejak masih single sampai sekarang sebentar lagi jadi ibu dari seorang anak?
Silvia:
Aku mengimani bahwa perempuan mempunyai banyak pilihan dalam hidupnya. Mau jadi ibu, lalu melahirkan, monggo. Atau perempuan yang ingin menjelajah dunia untuk berkembang sesuai kapasitas juga monggo.

Jadi, sama-sama penting?
Aku percaya pemberdayaan perempuan dalam memperoleh pendidikan, kesehatan, mampu bersuara, merasa aman baik di rumah dan di luar rumah, perkawinan dini, dan isu lainnya lebih penting [untuk diurus] ketimbang memikirkan kapan menikah dan punya anak. Iklim patriarkal yang akhirnya membuat perempuan merasa enggak lengkap dengan dirinya sendiri karena belum mendapatkan validasi dari orang lain, contohnya menikah dan punya anak.

Ada enggak nilai yang ingin kamu ajarkan ke anakmu suatu saat nanti?
Nilai-nilai yang aku percaya itu tetap aku bawa dan sering aku ceritakan ke orang-orang di sekitar. Aku juga enggak takut mendapatkan musuh baru setiap kampanye (dalam tanda kutip) untuk perjuangan perempuan agar mampu berdaya dan percaya diri akan pilihan-pilihannya. Sebagai calon ibu dari seorang bayi laki-laki, aku berjanji I will raise a son that your daughters will be safe with.


Agustin, 29, Editor Lepas

VICE: Apa stereotip yang kamu terima ketika baru menjadi ibu?
Agustin:
Banyak orang memandangku enggak bisa apa-apa, enggak ngerti cara merawat bayi, enggak bisa mandiin, dan lain-lain. Kan aku tinggal sama mertua. Banyak perdebatan tentang cara pandang merawat anak versi sekarang dan zaman dulu. Jadi ibu habis melahirkan rasanya tuh campur aduk.

Dari pengalamanmu, stereotip ibu muda enggak bisa apa-apa itu dilabelkan oleh mereka yang sudah tua?
Iya, dan semakin ke sini, stereotip jadi ibu kudu bisa mengatasi semua urusan rumah tangga. Waduh! Aku bahkan enggak pintar masak. Bikin mendoan 25 kali ya jadi 25 rasa. Kadang tertekan juga. Jadi, sekarang aku lagi belajar buat “udah deh, enggak usah berusaha jadi sempurna dan aku enggak perlu jadi sempurna untuk urusan domestik”. Ibu itu perlu memikirkan bahagianya sendiri. Jadi, kadang aku pilih kerja yang memang aku lebih suka itu daripada cuci baju. Dulu sarapan aku maksa masak. Sekarang enggak sempat, ya beli. Parameter hidup orang kan beda-beda.

Apakah pengalaman menjadi ibu itu sesuatu yang bakal kamu rekomendasikan pada perempuan lain?
Enggak recommended kalau enggak siap. Kalau enggak siap, susah. Diobrolin dulu gimana mau menjalani hidup kalau punya anak, bakal jadi orangtua kayak apa, pola pikirnya gimana, dan lain-lain. Barangkali kalau suamiku enggak seperti sekarang ini, aku bakal lebih stres kali ya? Siap atau enggak juga bisa dilihat dari kita sudah berdamai belum nih sama diri sendiri? Soalnya hubungan antara orang ke orang kayak pertemanan dan pernikahan versus ibu ke anak, itu beda. Sebelum jadi ibu, carilah pasangan yang kooperatif dalam segala aspek kehidupan.


Prisca, 29, Karyawan Swasta

VICE: Apa yang paling membahagiakan dan paling ngeselin jadi ibu di era media sosial?
Prisca:
Paling membahagiakan itu akses informasi super gampang. Banyak kanal edukasi yang buka pikiran soal cara didik yang sebenarnya sudah ketinggalan zaman atau salah kaprah. Ngeselinnya karena kita terus merasa kurang. Bikin muncul rasa mom guilt karena media sosial bikin kita berpikir kita kurang memenuhi kebutuhan si kecil, kurang berusaha, kurang banyak waktu, kurang stimulasi.

Biasanya yang bikin merasa seperti itu akun parenting atau influencer?
Dua-duanya, tapi efeknya jadi semacam self-harming. Kalau akun influencer, kita tahu enggak bisa memenuhi standar itu tapi di satu sisi kita FOMO, jadi keep following them anyway. Kalau akun parenting lebih ke introspective sifatnya. Tapi ngeselin juga karena at the end of the day we make mistakes, dan too many do’s and don’ts bikin stres juga. Jadi merasa inferior, kok ibu lain bisa, aku enggak bisa.

Ada enggak pelajaran hidup yang kamu cuma ketahui ketika akhirnya jadi ibu? 
Kalau kita semua bawa trauma masa kecil kita saat jadi orangtua, apa yang dulu kita alami dan enggak terselesaikan, bisa jadi trigger yang mempengaruhi pola asuh kita. Kalau enggak diselesaikan, bisa meledak dan yang kena malah anak. Itu jadi cluster trauma baru buat anak. Bisa dia bawa sampai dia sendiri jadi orangtua.


Dari obrolan di atas, bisa kita simpulkan semua orang punya tantangan masing-masing—baik sebagai individu, perempuan, maupun ibu. Selamat memilih jalan hidup, perempuan Indonesia!