Home Uncategorized Nyanyikan Lagu Rohani Saat Terbang, Penumpang Pesawat Malah Panen Kritik

Nyanyikan Lagu Rohani Saat Terbang, Penumpang Pesawat Malah Panen Kritik

92
0

Dengan senyum yang mengembang di wajahnya, seorang lelaki berdiri di tengah lorong sambil menenteng gitar. Sekelompok anak muda berkerumun di sekitarnya. Mereka lalu menyenandungkan puji-pujian dengan penuh semangat.

Ini pemandangan lazim bagi mereka-mereka yang aktif menyebarkan ajaran agamanya di tempat umum. Bedanya, kejadian kali ini berlangsung di ketinggian 9.000 meter. Orang-orang yang menyaksikan pertunjukan religius tengah menumpangi pesawat EasyJet yang berangkat dari Polandia.

“Kami menaiki pesawat ini demi Yesus,” bunyi caption reel IG oleh lelaki 24 tahun bernama Jonathan Neo. Video tersebut pertama kali diunggah ke Instagram dan TikTok oleh rekannya, Jack Jensz Jr. Diposting pada 9 April, videonya baru viral seminggu kemudian.

Beberapa anak muda—kemungkinan teman-temannya Neo dan Jensz—ikut bernyanyi, sedangkan penumpang lain sibuk merekam konser dadakan pakai ponsel mereka. Sementara perempuan yang sebaris dengan Neo tampak tersenyum mendengarkannya, lelaki di sebelahnya terlihat sangat terganggu.

“Saya belum pernah melakukan ini. Saya meminta izin ke pramugari dan menunggu jawaban pilot,” tulis Neo dalam keterangan video. “Pramugari mengizinkan, dan saya mengajak tim untuk menyanyikan lagu-lagu pujian.”

Neo dan kawan-kawan kemudian menyanyikan “How Great is Our God” (Besar Allahku), salah satu lagu rohani yang sering dinyanyikan di gereja. Dari kursi dekat jendela, Jensz merekam seisi kabin lalu kamera pindah ke pemandangan awan dari jendela. Caption videonya berbunyi, “Menyembah Yesus dari ketinggian 9.000 meter!”

Meski Neo telah menggembok akun media sosialnya sejak viral, rekamannya sudah tersebar ke seluruh platform. Video itu telah ditonton 35 juta kali di Twitter, dan lebih dari 563.000 kali di TikTok. Video Neo dkk. sontak dibanjiri komentar, banyak di antaranya menyebut pertunjukan itu kurang pantas dan tidak dibutuhkan.

Ilhan Omar, anggota kongres AS yang beragama Islam, meng-quote retweet videonya sambil mengatakan: “Kayaknya keluarga saya juga harus berdoa di pesawat. Kira-kira reaksi penumpang akan seperti apa, ya?”

Namun, ada juga yang mendukung tindakan mereka. “Saya pernah menyaksikan orang akting The Lion King, kelompok paduan suara militer dan beberapa lainnya (kebanyakan grup amatir). Emang nyebelin, tapi itu bukan kejahatan, apalagi mereka sudah minta izin pilot,” kata pengguna Twitter.

Dalam postingan Instagram-nya pada Senin, pastor Australia Jensz mengatakan baru saja pulang dari perbatasan Ukraina-Polandia. Mereka meminta izin bernyanyi untuk “menyebarkan kebahagiaan”, mengingat banyak penumpang berasal dari Ukraina. Menurutnya, pilot dan pramugari memperkenalkan mereka kepada para penumpang sebelum mereka mulai bernyanyi.

“Kami hanya ingin menyebarkan kasih Tuhan kepada semua orang,” tutur Jensz kepada VICE World News, menanggapi backlash yang mereka terima. “Selama berminggu-minggu, kami membantu para pengungsi Ukraina. Kami memberi bantuan makanan, kemanusiaan dan mendoakan keselamatan mereka.”

Neo tidak merespons permintaan wawancara VICE. Tapi artikel 11 April dalam situs agama Kristen Thirst mengungkap Neo menjadi misionaris setelah lulus kuliah di London. Dia sedang di Afrika Selatan ketika Rusia menjajah Ukraina pada 24 Februari. Lelaki Singapura itu menyebarkan agama Kristen dengan cara backpacking melalui Prancis dan Spanyol.

Neo merasakan dorongan kuat untuk pergi ke Ukraina. Dia pun mengunjungi beberapa wilayah di Polandia untuk bernyanyi dan menawarkan ketenangan kepada para pengungsi Ukraina di negara itu. Seorang pengguna Twitter mengenali Neo dan membagikan video saat mereka di Polandia.

“Saya menjadi sukarelawan selama seminggu di stasiun kereta Przemysl, Polandia, tepat di seberang perbatasan Ukraina. Saya melihat orang-orang yang sama seperti dalam video,” bunyi captionnya. “Mereka bernyanyi untuk para pengungsi Ukraina yang sudah berjam-jam menunggu kendaraan. Para pengungsi habis melarikan diri dari serangan bom di Kharkiv dan Mariupol.”

Video tersebut juga dibanjiri komentar, beberapa mengklaim pertunjukannya kurang pantas saat itu. Dalam artikel Thirst, Neo mengatakan timnya ingin menunjukkan kepada para rakyat Ukraina bahwa mereka tidak sendirian.

Follow JC Gotinga di Twitter.