Home Uncategorized Penelitian: Ekstrak Ganja Bisa Kurangi Sifat Agresif Anjing

Penelitian: Ekstrak Ganja Bisa Kurangi Sifat Agresif Anjing

18
0
penelitian:-ekstrak-ganja-bisa-kurangi-sifat-agresif-anjing

Penelitian terbaru dalam jurnal Nature Scientific Reports mengungkapkan, ekstrak ganja CBD yang tidak memabukkan bagus untuk anjing stres yang diselamatkan dari jalanan atau pemilik yang kasar. Ekstrak ini dipercaya dapat mengurangi perilaku agresif.

“Hasil penelitian kami menunjukkan pengobatan CBD mungkin efektif meningkatkan kesejahteraan anjing di tempat penampungan,” tulis para peneliti. “Jika pengobatan CBD dapat mengurangi sifat agresif anjing, efek ini bisa saja meningkatkan hubungan antara anjing dan petugas penampungan.”

CBD bekerja pada sistem endocannabinoid tubuh, yang memainkan peran utama dalam mengatur berbagai proses biologis seperti sistem kekebalan dan saraf. Tubuh anjing memiliki sistem ini sama seperti kebanyakan hewan lain. Dengan demikian, CBD yang bisa meredakan kecemasan pada manusia seharusnya bisa menghasilkan efek positif serupa pada anjing.

Peneliti memberikan CBD pada 24 anjing telantar di penampungan Muratella di Roma, Italia untuk menguji teori tersebut. Anjing dipilih berdasarkan perilaku negatifnya, seperti makan kotoran, menjilat dinding kandang, merusak barang atau melukai diri sendiri. 

Sifat agresif lain yang diperhatikan adalah menggeram, bulu mengembang, memperlihatkan taring, dan menyerang jeruji kandang. Tidak sulit sama sekali mencari anjing dengan sifat ini. Dari 400 ekor anjing di tempat penampungan, 90 persennya menunjukkan gejala stres.

12 ekor anjing dikasih makan daging yang mengandung campuran extra virgin olive oil dan CBD selama 45 hari, sedangkan sisanya dikasih placebo. Hewan yang menjalani pengobatan menoleransi keduanya dengan baik.

Kelompok yang dikasih CBD tak lagi seagresif dulu, tapi tampaknya tidak terlalu berdampak pada gejala stres lain, seperti menggaruk berlebihan. Anjing tidak menunjukkan tanda-tanda mengantuk atau kurang aktif setelah dikasih CBD. Oleh karena itu, pengurangan agresi kemungkinan bukan karena anjing diberi obat penenang.

Penelitian ini diterbitkan seiring meningkatnya tren pengobatan CBD untuk mengurangi rasa sakit dan kecemasan pada anjing peliharaan.

Bulan lalu, Martha Stewart — perempuan Amerika yang dipenjara akibat skandal investasi ilegal pada 2004 — menjual camilan anjing berbahan ganja. Jauh sebelum dibuktikan manfaatnya secara ilmiah, perusahaan kanabis macam Canopy Growth meluncurkan tingtur rasa bacon untuk anjing.

Walaupun pengobatan CBD pada anjing telah diteliti sejak 1980-an, banyak yang belum kita ketahui tentang obat ini pada hewan. Hingga saat ini, trennya sebagian besar didasarkan pada laporan anekdot yang mengatakan ekstrak ganja bisa menenangkan anjing cemas karena petasan atau gangguan emosi.

Tak sedikit yang meragukan manfaat ekstrak ganja pada anjing. Alicia McCarty, misalnya, sudah 10 tahun menyelamatkan anjing telantar. Dia telah mencoba berbagai macam obat dan merek untuk menenangkan anjing ketakutan, tapi tidak ada efeknya.

“Saya sadar 99 persen orang akan bilang CBD berkhasiat, tapi saya pribadi tidak melihat manfaatnya,” tutur McCarthy. “Saya sudah bertahun-tahun menyelamatkan anjing berukuran besar. Saya sempat berharap CBD bisa menyelesaikan masalah yang anjing-anjing ini miliki. Tapi nyatanya tidak ada perubahan. Saya akhirnya melakukan pengobatan tradisional. Anjing English Mastiff milikku mudah cemas dan menderita artritis serta displasia yang parah. Dia semakin agresif seiring bertambah parahnya rasa sakit. CBD tidak menyembuhkan apa-apa.”

Peneliti menganjurkan agar dilakukan penelitian lebih lanjut yang menggunakan lebih banyak sampel.