Home Uncategorized Pengalaman Traumatis Dikuntit ‘Cowok Ideal’ di Tinder Setelah Kami Match

Pengalaman Traumatis Dikuntit ‘Cowok Ideal’ di Tinder Setelah Kami Match

120
0
pengalaman-traumatis-dikuntit-‘cowok-ideal’-di-tinder-setelah-kami-match

Emma* tengah mengepak belanjaan pembeli ketika seorang lelaki berjalan menghampirinya. “Kok belum balas chat, sih?” tanyanya tiba-tiba. Perempuan 18 tahun itu kaget bercampur bingung mendengarnya. Siapa orang ini? Rasanya enggak punya kenalan seperti dia, batin Emma. Tak mendapat jawaban, lelaki itu semakin gigih menodong Emma dengan pertanyaan dan ancaman. Dan dari situlah, Emma tersadar pernah match dengannya di Tinder.

Emma baru saja putus awal tahun ini, jadi dia pikir tak ada salahnya mencoba main Tinder. “Kesan pertama setelah match dia sweet,” ungkap Emma. “Tipe gue banget, lah. Tapi lama-lama, dia jadi posesif dan suka mendesak kalau chatnya enggak langsung dibalas.”

Emma memutuskan untuk berhenti ngobrol dengannya. Tak terima dikacangin, lelaki itu mulai mengusik kehidupan Emma. “Dia mulai menghujatku saat aku bilang enggak tertarik dengannya. Katanya enggak ada cowok yang mau sama cewek gendut kayak aku. Aku seharusnya bersyukur karena dia masih menerimaku apa adanya. Kalau aku menolaknya, dia mengancam akan mencariku sampai ketemu.”

Kalian para perempuan pasti familiar dengan pengalaman Emma. Mungkin enggak dikuntit sampai ke tempat kerja, tapi seenggaknya pernah sekali dua kali dapat kiriman DM macam “hai, kamu yang di Tinder kan ;)” dari cowok yang kalian yakin sudah di-swipe ke kiri. Kalian enggak pernah bertukar username medsos, atau menghubungkan Instagram dengan Tinder. Namun, mereka bisa menemukan akun kalian entah bagaimana caranya. Mereka memaksakan kehendak, seolah-olah kalian akan berubah pikiran setelah menerima pesannya.

Emma langsung nge-block profil Tinder lelaki itu, tapi masalahnya dia terus mengejarnya. Dia melakukan berbagai cara untuk mendapat perhatian Emma, mulai dari mengirim pesan lewat akun medsos Emma sampai menghubungi teman-temannya. “Aku kira teman cuma bercanda saat mereka bilang ada yang menanyakan aku. Mereka menunjukkan tangkapan layar chatnya, dan aku ketakutan melihatnya. Aku merasa seperti terjebak.”

Setelah beberapa minggu enggak diganggu, Emma mulai bernapas lega. Mungkin dia sudah menyerah. Ternyata salah besar. Lelaki itu malah nyamperin Emma ke tempat kerjanya. Emma belum pernah ketemuan dengan sang penguntit. Dia juga jarang ngomongin kehidupan pribadinya di internet. Emma enggak pernah kasih tahu di mana dia bekerja, jadi dia yakin cowok itu tahu dari profil Tinder Emma yang secara otomatis mengintegrasikan info pekerjaannya.

Emma hanyalah satu dari sekian banyaknya perempuan Inggris yang dikuntit oleh kenalan dari aplikasi kencan. Pada Januari, Tinder AS meluncurkan fitur keamanan yang disinkronkan dengan aplikasi keamanan pribadi Noonlight. Pengguna bisa memperingatkan layanan darurat seandainya teman kencan Tinder mereka mencurigakan. Selain itu, pengguna juga bisa menyaring akun dengan gambar palsu untuk menghindari catfish. Tinder disebut-sebut telah melakukan kemajuan besar dengan meluncurkan fitur ini. Tinder menolak permintaan VICE untuk berkomentar.

Emma menyambut positif fitur ini. “Andai saja sudah ada dari dulu, layanan darurat ini bakalan berguna banget, terutama saat isi chatnya mulai bernada menyerang,” tuturnya.

Layanan darurat sebenarnya bisa membantu kita mencegah perilaku yang tak diinginkan sejak dini, tapi sayangnya mereka kerap lamban menanggapi permintaan tolong perempuan, khususnya dalam kasus penguntitan. Hasil investigasi Broadly membeberkan sepanjang 2015-2017, 55 perempuan Inggris tewas di tangan pasangan, mantan dan penguntit abusif yang telah dilaporkan ke pihak berwajib.

Melissa* tak sadar kalau dia match dengan tukang kuntit di Tinder. Mahasiswi 21 tahun ini merasa ada yang aneh dengan cowok ini, tapi enggak benar-benar mencurigainya. “Aku harusnya mengikuti insting,” keluhnya. Beberapa hari setelah kenalan, Melissa menyudahi pembicaraan mereka sebelum kenalan Tinder-nya berharap lebih.

Dia awalnya menerima penolakan dengan baik, tapi kemudian mulai rajin menunggu Melissa di depan kelasnya. “Aku melihatnya saat keluar kelas. Aku enggak ada kepikiran apa-apa soalnya dia bilang kita satu kampus. Eh, dia terus-terusan mengirimiku SMS tak lama setelah kami bertemu. Dari situ, aku menyadari dia sengaja datang untuk menemuiku.”

Frekuensi chat dan panggilan telepon yang diterima Melissa darinya makin menggila. “Dia agresif mengajak ketemuan dan sering menungguku di depan kelas,” lanjutnya.

Melissa akhirnya ketakutan sendiri diganggu seperti itu, sehingga dia melapor ke petugas keamanan kampus. Tapi percuma saja. “Kayaknya baru mau menolong kalau sudah main fisik,” kata Melissa.

VICE bertanya kepada badan amal Suzy Lamplugh Trust di London, bagaimana sebaiknya sikap seseorang jika dihadapkan dalam kondisi tak menyenangkan seperti dikuntit. Meminta bantuan otoritas sejauh ini memang merupakan cara terbaik untuk menghindari kemungkinan yang lebih buruk.

“Segala bentuk penguntitan atau gangguan yang terjadi baik di dunia maya maupun nyata dapat menimbulkan dampak buruk bagi korban. Kalian harus segera mengadukan pelaku ke pihak berwajib atau meminta bantuan dari layanan non-darurat,” terang perwakilan badan amal.

Suzy Lamplugh Trust lebih lanjut menganjurkan untuk melaporkan penguntit lewat aplikasi. “Apabila kalian menjadi korban penguntitan di aplikasi kencan, laporkan orang tersebut melalui prosedur yang disarankan dan mengikuti saran keselamatannya. Minta mereka berhenti menghubungi kalian, dan abaikan pesan mereka setelahnya.”

Diharapkan dengan hadirnya “Does This Bother You” di Tinder, tak ada lagi Melissa dan Emma yang lain di dunia ini. Pengguna bisa melaporkan seseorang langsung ke Tinder apabila menjawab “ya”. Walaupun begitu, tak dapat dipungkiri layanan kencan online ini sudah telat melakukan peningkatan tersebut. Emma dan Melissa keburu kapok main Tinder.

Beruntungnya bagi Emma, satpam toko langsung bertindak ketika penguntit mengganggunya. Cowok aneh itu tak pernah menghubunginya lagi. Emma coba aplikasi lain, dan akhirnya dapat pacar baru dari Bumble.

Beda ceritanya dengan Melissa. Siapa sangka, hal sepele macam swipe kanan meninggalkan trauma mendalam kepadanya. Melissa terpaksa ganti nomor dan pindah kelas agar penguntit berhenti mengikutinya. Dia takkan pernah bisa melupakan pengalaman mengerikan itu, bahkan setelah lulus kuliah. “Aku selalu gelisah setiap ke kampus.”


Jika kalian merupakan korban atau mengenal seseorang yang menjadi korban penguntitan alias stalking, segera buat pengaduan ke Komnas Perempuan melalui telepon 021-390-3963 atau hubungi hotline WhatsApp LBH APIK Jakarta 0813-8882-2669 untuk berkonsultasi.

*Nama telah diubah untuk melindungi privasi narasumber

@iamdanran

Artikel ini pertama kali tayang di VICE UK.