Home Uncategorized Penjelasan Ilmiah Kasus Perempuan Cianjur Melahirkan Tanpa Sadar Sedang Hamil

Penjelasan Ilmiah Kasus Perempuan Cianjur Melahirkan Tanpa Sadar Sedang Hamil

105
0
penjelasan-ilmiah-kasus-perempuan-cianjur-melahirkan-tanpa-sadar-sedang-hamil

Siti Zainah bingung banget menjelang Valentine kemarin. Pas tanggal 12 Februari, ia yang sedang berada di rumahnya di Desa Sukapura, Cianjur, Jawa Barat, tiba-tiba merasakan sakit sekitaran lambung selama 15 menit dengan keadaan perut yang tiba-tiba membesar dua menit, lalu mengecil lagi. Mengira gejala asam lambungnya muncul, ia meminta seorang kerabat mengantarnya ke puskesmas terdekat. Keluarga Siti juga membuka kemungkinan telah terjadi santet, membuat perutnya lantas didoakan kiai setempat. 

Setelah diperiksa di Puskesmas, perempuan 25 tahun tersebut mendapatkan kabar yang terlampau sulit dicerna. Ia diberi tahu bahwa gejala yang terjadi bukan berasal dari asam lambung, melainkan dari kondisi kehamilan yang tengah dialaminya. Siti tentu saja kaget karena ia mengaku tidak merasa sedang hamil. Namun, ia enggak punya waktu untuk kaget terkait kehamilannya sebab ia dikagetkan oleh fakta yang lebih bikin bingung: ia divonis sudah saatnya melahirkan, saat itu juga.

“Saat itu saya lagi selonjoran sama anak di rumah. Tiba-tiba ngerasa ada yang masuk ke perut. Saat itu enggak ada pikiran hamil karena haid saya lancar. Pikir saya lambung karena saya punya riwayat sakit lambung,” kata Siti dilansir iNews. Riska Setiani, bidan yang menangani Siti, juga mengonfirmasi bahwa selama ini enggak ada tanda-tanda kehamilan saat dirinya sering menemui Siti. “Waktu ibu ini datang perutnya membesar dan keluar darah. Saya cek ada denyut jantung bayi, begitu diperiksa kepala bayi sudah terlihat dan lima menit kemudian langsung lahiran,” kenang Riska.

Pertama-tama dan terpenting, kondisi bayi dan Siti dilaporkan sehat. Kedua, sebaiknya kita segera redam imajinasi dan harapan semu bahwa bayi ‘ajaib’ ini adalah kiriman Tuhan ke dunia untuk memberantas korupsi. Sebab, Kepala Puskesmas Cidaun Erman Sulaeman menyebut apa yang terjadi pada Siti bisa dijelaskan secara ilmiah sebagai cryptic pregnancy atau kehamilan samar.

Sesuai namanya, kondisi mengandung tersebut memang tidak disadari oleh sang ibu. “Jadi, hal ini merupakan hal yang sudah biasa terjadi walaupun kasusnya tidak banyak,” kata Erman. Bentuk organ tubuh dan riwayat penggunaan KB adalah dua alasan mengapa kondisi tersebut bisa terjadi.

Kepala Dinas Kesehatan Cianjur Irvan Nur Fauzi menduga faktor hormonal turut memengaruhi. Siklus menstruasi yang tidak stabil membuat Siti tidak peka terhadap waktu menstruasi, sehingga saat keluar noda darah malah dikira sebagai datang bulan. “Jadi, ini lebih kepada mental health dan sikap soal aware yang bersangkutan terhadap kondisi tubuhnya,” kata Irvan kepada Kompas.

Siti bukan kasus kehamilan samar pertama di Indonesia. Pada Juli 2020, kehamilan samar juga menimpa Heni Nuraeni, perempuan asal Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat. Sama seperti Siti, Heni baru mengetahui dirinya hamil satu jam sebelum melahirkan anak ketiganya. “Jam tujuh malam, anak saya mengeluh perutnya sakit badannya lesu dan perutnya terasa kembung. Jam delapan malam langsung bengkak hamil. Awalnya perutnya biasa saja,” kata Mudin, orang tua Heni.

Lebih lanjut, Irvan berharap kehamilan samar harus dicegah. Tanpa mengetahui sedang hamil, hajat hidup bayi bisa terancam sebab bisa jadi tidak mendapat asupan gizi cukup selama kandungan, ataupun tidak punya persiapan persalinan yang baik.

Dokter kandungan Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung Ruswana Anwar menambahkan, kehamilan samar hanya punya kemungkinan terjadi sekali dari 25 ribu kehamilan. Kejadian langka ini juga lebih berpotensi terjadi pada kehamilan anak kedua atau ketiga kala tubuh sudah pernah mengalami lahiran, ditambah sang ibu yang tidak begitu memperhatikan tanda-tanda kehamilan. Sama seperti Irvan, Ruswana menganggap darah yang dikira Siti menstruasi sebenarnya adalah flek.

“Cuman bukan haid, hanya flek saja. Karena hormon hamilnya belum begitu tinggi. Tetapi, kalau di atas 12 minggu tidak lagi haid biasanya,” kata Ruswana dilansir Detik. “Memang kalau anaknya sudah lebih dari dua, biasanya tidak ada keluhan hamil akibat dari hormon plasenta tinggi itu tidak dirasakan oleh ibu-ibu,” tambahnya.