Home Uncategorized ‘Pentagon’ Lepas Tangan, Drama Keraton Agung Sejagat Berakhir Dengan Vonis Penjara

‘Pentagon’ Lepas Tangan, Drama Keraton Agung Sejagat Berakhir Dengan Vonis Penjara

225
0
‘pentagon’-lepas-tangan,-drama-keraton-agung-sejagat-berakhir-dengan-vonis-penjara

Tak berhasil diselamatkan Pentagon yang diklaim bagian dari kerajaannya sendiri, dua puncak pimpinan Keraton Agung Sejagat (KAS) Sinuhun Totok Santoso Hadiningrat dan Kanjeng Ratu Dyah Gitarja akhirnya resmi jadi terpidana.

Dalam sidang putusan kasus perbuatan onar dan penipuan ini, Totok Santoso (43) dan Fanni Aminadia (42), nama asli keduanya, divonis bersalah dengan hukuman penjara masing-masing 4 dan 1,5 tahun. Hukuman ini sudah didiskon dari tuntutan jaksa sebesar 5 tahun untuk Totok dan Fanni 3,5 tahun. Keduanya dilaporkan menerima putusan ini.

Kisah kerajaan bombastis ini boleh berakhir tragis-ironis, tapi jejak sejarah KAS layak dan harus dikenang. Ada banyak hikmah yang bisa dipetik. Lihat saja betapa bineka tunggal ika-nya aspek geografis si keraton: berlokasi di Desa Pogung, Purworejo, Jawa Tengah; didirikan oleh raja-ratu yang berdomisili di Sleman, D.I. Yogyakarta; tapi sebenarnya si raja dan ratu ber-KTP DKI Jakarta.

Cahaya Keraton Agung Sejagat menerpa jutaan netizen Indonesia ketika video kirab peresmian keratonnya viral, 12 Januari silam. Acara ini agak geje karena saat itu bangunan keraton belum jadi. Mau dianggap kirab peresmian berdirinya kerajaan pun tetap terasa konyol, soalnya Totok dan Fanni sudah mendirikan KAS sejak 2018. Motifnya? Kata Totok ke polisi, karena doi mendadak dapat wangsit buat nerusin Kerajaan Majapahit. Tapi anehnya Fanni malah bilang semua ini adalah idenya.

“Kami muncul untuk menunaikan janji 500 tahun runtuhnya Kerajaan Majapahit di tahun 1518,” kata Totok kepada Tugu Jogja, 12 Januari lalu. 

Totok sempat bikin penjelasan yang sulit dipahami soal maksud janji 500 tahun. Semoga enggak salah tafsir, tapi maksudnya kira-kira gini: waktu Majapahit runtuh, kerajaan ini sempet bikin perjanjian sama Portugis bahwa kekuasaan akan dialihkan ke Portugis dulu selama 500 tahun.

Setelah masa itu lewat, Portugis bakal undur diri dan Majapahit (dalam wujud KAS) gantian menguasai dunia. Orang jadi makin bingung, kok 1518? Bukannya Majapahit bubar tahun 1478 Masehi? 

Klaim lanjutannya jadi liar ke mana-mana. Totok juga menyebut, wilayah kekuasaan Keraton Agung Sejagat mencakup seluruh dunia. Terus mereka punya institusi bawahan di Eropa yang posisinya di atas PBB. Terus yang paling we o we, katanya Pentagon itu Dewan Keamanan-nya KAS alih-alih Amrik.

Khusus untuk klaim perjanjian 500 tahun, sayang sekali sejarawan udah memvonisnya dengan kalimat singkat: “Mengada-ada.”

Begitu viral, satu per satu fakta Keraton Agung Sejagat dikuliti. Misal kenyataan bahwa, meski terdengar konyol, sekitar 450 orang sudah membaiat diri sebagai pengikutnya. Jumlah yang besar untuk ukuran kolektif yang memasang uang pendaftaran Rp3 juta untuk bergabung. Pengikut lalu dijanjikan akan menerima gaji bulanan pakai dolar AS. 

Dua hari setelah viral (14/1), polisi mencokok Totok dan Fanni di kediaman sewaan mereka di Godean, Sleman, DIY. Keduanya diduga menipu, menyiarkan kabar bohong, dan bikin-bikin gelar palsu. Dari penangkapan ini lalu ketahuan, meski Fanni diposisikan sebagai ratu, doi bukanlah istri legal Totok. Tapi, orang open minded sih bakal mikir, bisa aja kan mereka nikahnya pakai hukum KAS.

Totok Santoso dan Fanni Aminadia ditetapkan tersangka pada 15 Januari. Martabat Totok makin jatuh setelah penangkapan tersebut karena ternyata, pada 2016 dia pernah ngaku-ngaku sebagai anggota Dewan Wali Amanat Panitia Pembangunan Dunia Wilayah Nusantara yang merupakan bagian dari organisasi Jogja Development Committee (DEC). Hierarki seribet itu dipakai untuk merekrut anggota dengan iming-iming bisa “kesejahteraan finansial”. 

Sekonyol apa pun kisah mula dan akhir keraton ini, kita wajib mengenang Keraton Agung Sejagat sebagai sejarah penting, yang alhamdulillah, Wikipedia sudah merintis usaha ini. Alasannya, pertama, sebenarnya udah rada umum orang bikin kerajaan baru di wilayah Indonesia. Nggak semua bermotif nipu karena ada yang tujuannya mulia: menggenjot pariwisata.

Alasan kedua, walau enggak semua kerajaan baru bermaksud buruk, kita tetep kudu hati-hati. Misal, dengan lebih banyak belajar sejarah biar enggak gampang dikibuli. Minimal biar pas direkrut pakai paparan sejarah jelimet tapi palsu, kita bisa kritis gitu.

Nah, dalam dua konteks itulah Keraton Agung Sejagat pantas masuk dalam rekaman sejarah Indonesia. Persisnya lagi, sejarah penipuan.