Home Uncategorized Perjuangan Nenek di Medan Mengurus 1.000 Buaya Warisan Mendiang Suaminya

Perjuangan Nenek di Medan Mengurus 1.000 Buaya Warisan Mendiang Suaminya

138
0
perjuangan-nenek-di-medan-mengurus-1.000-buaya-warisan-mendiang-suaminya

Nenek 72 tahun bernama Lim Wi Chu adalah satu-satunya pengelola Taman Buaya Asam Kumbang yang masih bertahan. Sejak menjanda 12 tahun silam, Ibu Lim bertanggung jawab penuh atas penangkaran milik mendiang suami. Tugas mengurus 1.000 ekor buaya tidak mudah, dan menjadi semakin berat sejak pandemi Covid-19. Merosotnya jumlah pengunjung akibat larangan bepergian amat terasa pada pemasukan penangkaran.

Ribuan ekor buaya menghabiskan sekitar 500 kilogram daging ayam setiap harinya, tetapi jatah makan mereka terpaksa dibatasi jadi 100 kilogram sejak penangkaran ditutup selama PSBB. Hewan-hewan itu tampak lebih kurus sekarang.

Walaupun Taman Buaya Asam Kumbang sudah beroperasi kembali, tak banyak pengunjung yang datang setiap harinya. Ibu Lim mengeluh 2020 adalah tahun terberat baginya. Pemerintah setempat tak pernah menawarkan bantuan, sementara dia tak terpikir untuk melakukannya.

Ibu Lim menyanggupi dengan senang hati permintaan VICE World News untuk mewawancarainya. Dia berharap para pembaca tergerak hatinya untuk datang berkunjung ke Taman Buaya Asam Kumbang.

buaya berkerumun

VICE: Halo bu. Boleh diceritakan awal mula berdirinya penangkaran ini?
Lim Wi Chu: Penangkaran ini didirikan pada 1959 oleh suami saya, Lo Than Muk. Mendiang suami memang pencinta binatang. Dia mulai mengurus 12 ekor anak buaya setelah membelinya murah dari seorang warga. Buaya-buaya itu berasal dari kali sekitar sini.

Buaya-buaya ini sudah seperti anak kami sendiri. Mendiang suami memberikan mereka makan setiap hari. Dia juga gembira saat melihat peliharaannya tumbuh dewasa dan berkembang biak.

Benarkah penangkaran ini sempat jadi tempat wisata favorit pada 1980-an?
Betul sekali. Semakin banyak pengunjung yang berdatangan ketika kebun binatang kami populer pada 1982. Ada yang dari Jerman, Korea, sampai Jepang. “Penangkaran Buaya Medan”, begitu orang menyebutnya dulu, ramai pengunjung sepanjang 1990-an. Mereka datang ke sini untuk merasakan sensasi berada di alam liar.

Pengunjung melihat-lihat buaya di dalam kolam

Bagaimana setelahnya?
Jumlah pengunjung mulai berkurang tahun 2000-an. Mereka mungkin sudah bosan datang ke sini. Tak banyak yang tertarik melihat-lihat buaya kami.

Bagaimana situasinya selama pandemi?
Tidak ada lagi yang datang berkunjung. Penangkaran kami terpaksa ditutup selama empat atau hampir lima bulan, dan baru dibuka kembali tiga bulan lalu. Saya sempat khawatir buaya-buaya kami akan kelaparan.

Bagaimana Ibu memberi jatah makan setiap harinya?
Kadang-kadang kami memberi ayam yang sudah mati karena harganya lebih murah. Kami juga mencari ke pasar, tapi harganya lebih mahal. Ada kalanya kami memberi potongan daging, tapi tidak setiap hari. Saya memberikannya dua atau tiga hari sekali. Kalau misalnya kami punya 200 kilogram potongan daging, kami akan memberikannya separuh selama dua hari.

Cara ini tak mungkin dilakukan jangka panjang. Apakah Ibu khawatir dengan nasib penangkaran ini ke depannya?
Saya tidak mau membayangkan terlalu jauh. Sekarang saya mau fokus mengurus buaya supaya hewan-hewan ini bisa bertahan hidup.

Pernahkah Ibu terpikir untuk menyerahkan buayanya ke Balai Konservasi Sumber Daya Alam agar terurus?
Belum. Yang ada di pikiran saya hanyalah bagaimana caranya memberi makan buaya-buaya ini.

Seekor buaya menghadap pengunjung yang ada di luar kolam

Apakah buayanya bisa beradaptasi dengan jatah makan yang terbatas?
Buaya-buaya ini bisa puasa makan selama satu minggu, tapi terkadang ada saja yang menikam burung di pohon dekat kolam atau memangsa anak ayam yang jatuh.

Pernah ada buaya yang menyerang manusia?
Ada, tapi tidak terlalu parah. Orang sering kena gigit atau tercakar, tapi tidak pernah ada yang diterkam buaya.

Apakah Ibu berniat mewariskan penangkarannya ke anak-anak?
Belum tahu juga ya. Anak laki-laki saya bekerja di sektor lain, jadi saya tidak tahu mereka mau mengurus atau tidak. Saya akan terus mengurusnya sendiri selama masih diberi kesehatan oleh Tuhan, tapi tidak tahu berapa lama lagi saya bisa bertahan.

Kalau begitu siapa yang akan mengurus buaya-buaya ini jika Ibu sudah tiada?
Memang masih ada anak-anakku, tapi ya itu tadi… Saya tidak tahu apakah mereka mau mengurus penangkaran ini. Saya tidak mau memikirkannya, dan akan bertahan sebisa mungkin. Semua terserah anak-anak kalau saya meninggal nanti. Mereka bebas mau melakukan apa.

Apa harapan Ibu ke depannya?
Saya cuma berharap banyak pengunjung yang datang supaya buayanya bisa makan dan saya bisa menggaji karyawan. Sudah itu saja.

Apa kenangan terindah ibu selama mengelola penangkaran?
Banyak wisatawan asing yang berkunjung pada 1990-an, ketika suami saya masih hidup. Dia mengurus buaya seperti anaknya sendiri. Saya sangat merindukan masa-masa itu, tapi sekarang saya sudah tua jadi saya tidak mau memikirkannya lagi.

Follow Tonggo Simangunsong di Twitter