Home Uncategorized Problem Akut Museum Indonesia: Sering Disatroni Maling

Problem Akut Museum Indonesia: Sering Disatroni Maling

112
0
problem-akut-museum-indonesia:-sering-disatroni-maling

Pencurian koleksi dialami Museum Negeri Sulawesi Tenggara di Kendari. Tragisnya, insiden ini baru diketahui publik dari unggahan Facebook. Akun bernama Axa Electone yang mengaku sebagai karyawan museum mengabarkan kebobolan terjadi pada Senin (25/1) malam waktus setempat.

Tampak dalam postingan itu foto rak-rak kosong di gudang serta gembok yang dipatahkan maling. Doi mengeluhkan kenyataan bahwa koleksi museum disimpan tanpa penjagaan orang ataupun kamera pengintai.

“[Kejadiannya] kayaknya tanggal 25, Senin malam. Karena selasa pagi gembok ruang koleksi [museum] sudah patah dan koleksi sudah lenyap semua,” kata Axa kepada Nasional. Dari penuturan Axa, ia menyebut museumnya udah sering kecurian karena pengamanan buruk. Di samping itu, barang di dalam museum juga berdebu karena enggak terurus. Setelah unggahannya viral, Axa berharap pelaku cepat tertangkap dan pemerintah setempat buruan deh ngasih perhatian penuh kepada Museum Sultra.

Barang yang hilang di antaranya peralatan logam dan kuningan, seperti ceret, gelas, guci, serta keris dan samurai peninggalan Jepang. Kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Museum dan Taman Budaya Kendari Dodhy Syahrul Syah mengatakan barang yang hilang adalah barang pengadaan dari Kemendikbud pada era ‘80-’90-an. Terkait minimnya pengamanan, Dodi mengaku pihaknya memang kekurangan duit.

Kurangnya fasilitas pengamanan ditambah pengakuan Axa soal cueknya perhatian pemerintah setempat patut kita sorot. Soalnya pemerintah sempat pamer bahwa mereka perhatian banget sama anggaran museum. Pada Oktober 2019 lalu, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (saat itu) Muhadjir Effendy menyebut pemerintah mengalokasikan Rp129 miliar buat Dana Alokasi Khusus (DAK) museum. 

“Sekarang, sudah ada DAK untuk museum. Baru Rp129 miliar, tapi ini sudah awal yang baguslah. Paling tidak pemerintah sudah memiliki kepedulian sekarang, perhatian yang cukup,” kata Muhadjir kepada Detik

Petunjuk pelaksanaan (juklak) penggunaan DAK diatur dalam Permendikbud 5/2019. Pada Pasal 1 ayat 2 tertulis tujuan distribusi uang khusus ini salah satunya demi membantu peningkatan pengelolaan museum negeri, artinya mencakup Museum Sultra juga. Sayang, laporan penggunaan uang DAK sulit ditemukan di internet, padahal Pasal 4 Permendikbud di atas menyebut masyarakat berhak mengakses laporan pertanggungjawabannya. Jadinya kita cuma bisa nebak-nebak kenapa Museum Sultra bisa bolak-balik kecurian. 

Di atas semuanya, karut-marut permuseuman ini diperparah oleh rendahnya minat masyarakat yang mau mengunjungi museum. Pada 2015, jumlah pengunjung Museum Sultra hanya 6.765 orang, itu pun hampir semuanya kunjungan pelajar (1.333 siswa TK/SD, 2.438 SMP, 2.267 SMA, dan 192 mahasiswa). Wisatawan umum tercatat hanya datang 533 kali.

Artinya, setiap hari selama tahun hanya 1-2 orang pengunjung kasual di Museum Sultra. Meskipun suram, data tersebut lebih baik dari 2014 yang hanya mencatat kedatangan 2.454 pengunjung. Masih dikuasai kunjungan pelajar, pengunjung umum berjumlah 154 orang saja. 

“Dari data kunjungan tersebut, kita bisa menilai betapa kurangnya minat pelajar kita untuk mengenal peninggalan sejarah ataupun budaya lokal yang ada di daerah kita,” kata Kepala Museum Sultra Ambo Aco kepada Zonasultra, lima tahun lalu. Meski belum ada laporan perkembangan kunjungan museum Sultra lima tahun terakhir, pemberitaan soal kondisi museum setelah kasus kecurian terjadi membuat kita enggak bisa berpikir optimistis.

Ngomongin soal pencuriannya, informasi pencurian di museum-museum Indonesia bisa kita temukan sejak 1960-an. Saat itu, Museum Nasional (dulu bernama Museum Gajah) di Jakarta kehilangan emas dan permata setelah dirampok gerombolan pimpinan Kusni Kasdut.

Para perampok baru tertangkap pada 1968, delapan tahun setelah mereka mencairkan hasil perampokan bernilai Rp2,5 miliar. Perampokan Kusni dkk. sempat memunculkan usulan adanya standardisasi pengamanan museum. Apakah setelah itu Museum Nasional berubah jadi tempat anti-maling? Oh tidak. Selain 1960, mereka kecurian lagi pada 1979, 1996, dan 2013.

Museum daerah lain tentu enggak ketinggalan jadi sasaran para maling. Bahkan, sangking seringnya museum di Indonesia kemalingan, ada satu halaman Wikipedia sendiri yang didedikasikan untuk topik ini. Surem.