Home Uncategorized Problem Limbah Medis Selama Pandemi Hantui Sungai-Sungai Besar Pulau Jawa

Problem Limbah Medis Selama Pandemi Hantui Sungai-Sungai Besar Pulau Jawa

23
0
problem-limbah-medis-selama-pandemi-hantui-sungai-sungai-besar-pulau-jawa

Pertanyaan penting selama pandemi: karena alat pelindung diri (APD) hanya sekali pakai, ke mana rumah sakit dan fasilitas kesehatan lain membuang sampahnya?

Pemkot Surabaya punya berita buruk menjawab pertanyaan ini. Setelah melaksanakan razia rapid test pada Sabtu (12/9) malam, sampah baju hazmat dan bungkus alat rapid test ditemukan berserakan di bawah Jembatan Suramadu yang menghubungkan Surabaya-Madura.

Razia rapid test adalah operasi yang dilakukan Pemkot Surabaya bekerja sama dengan Polres Tanjung Perak. Hari itu tim mendatangi Pasar Genteng dan Jembatan Suramadu untuk menangkap basah warga yang bergerombol di tempat umum. Orang-orang yang terkena razia lalu di-rapid saat itu juga di lokasi. Berbekal 750 alat rapid test, petugas menemukan 37 warga reaktif.

Info berseraknya sampah tersebar setelah foto-foto kondisi TKP jadi bahan gunjingan di WhatsApp. Yunus, pedagang minuman di lokasi, mengonfirmasi keberadaan sampah medis memang masih ada hingga Minggu (13/9) pagi. “Tadi setengah tujuh pagi sudah dibersihkan, cuman masih berserakan. Sekarang sudah bersih semua,” ujar Yunus kepada Detik.

Semula Satpol PP Kota Surabaya menyangkal kebenaran foto sampah medis tersebut. “Karena kemarin sampah rapid dimasukkan di tempat khusus dan dibawa ambulans Dinkes Surabaya. Setelah selesai, di lokasi sudah dicek anggota sudah bersih,” Kepala Satpol PP Kota Surabaya Eddy Christijanto membela nama baik pemkot.

Sayangnya pembelaan itu sia-sia. Pemkot Surabaya akhirnya mengakui insiden tersebut dan meminta maaf. Mereka juga menekankan lokasi tersebut sudah langsung dibersihkan begitu laporan sampah medis bertebaran masuk. Katanya sih, limbah medis sudah dibakar terus tempat pembakaran sudah disemprot disinfektan.

“Karena kegiatan rapid test untuk 569 orang. Mungkin petugas kami kelelahan. Kami mohon maaf. Petugas kami ingatkan agar tidak mengulanginya lagi. Yang jelas kami mohon maaf yang sebesar-besarnya terkait kejadian tersebut,” kata Kepala Bagian Humas Pemkot Surabaya Febriadhitya Prajatara, dilansir Detik.

Pada kegiatan rapid test massal selanjutnya, pemkot berjanji akan menyediakan tempat sampah khusus limbah medis yang dibawa langsung oleh Dinas Kebersihan dan Ruang Terbuka HIjau (DKRTH). Warga yang ditemukan reaktif dalam razia ini langsung diisolasi di hotel yang sudah bekerja sama dengan pemkot, untuk kemudian dites swab.

Masalah penanganan limbah medis adalah warna lain yang bikin pandemi ini makin bikin frustrasi. Kondisi Sungai Cisadane selama tiga bulan terakhir bahkan lebih fatal dari kasus Surabaya.

Berawal pada Juni 2020 saat tempat pembuangan akhir (TPA) Cipeucang longsor dan tidak bisa digunakan, Bank Sampah Sungai Cisadane (Banksasuci) kelimpahan transfer sampah, termasuk sampah-sampah medis. 

“Pascalongsor (TPA) Cipeucang itu banyak [sampah medis yang datang]. Kira-kira sampai 50-60 buah sampah medis. Jenisnya ada infus, selang infus, suntikan, ada sarung tangan lateks, masker, dan lain-lain,” ujar pendiri Banksasuci Ade Yunus kepada Liputan6.

Ade sudah melaporkan temuan ini ke Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup (KLHK), namun belum ada tindak lanjut karena pihak KLHK juga kesulitan mengidentifikasi sumber sampah. 

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kota Tangerang Liza Puspadewi menyangkal sampah medis berasal dari rumah sakit di kotanya, sebab tidak ada rumah sakit yang wilayah administrasinya berada di Kota Tangerang. Ia lalu menunjuk Tangerang Selatan sebagai empunya masalah.

Di Jakarta Selatan lebih ngehek lagi. Ketua RW 06 wilayah Jagakarsa bersaksi ada dua mobil ambulans berhenti dan membuang APD seenaknya di selokan Jalan Moch. Kafi, April silam. Menanggapi berita ini, Kepala Puskesmas Jagakarsa Susilowati menyangkal keterlibatan pihaknya dalam tindakan tidak bertanggung jawab itu.

Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta melaporkan selama rentang April-Agustus 2020, masyarakat sudah menghasilkan 1.230 kilogram sampah medis, di antaranya masker bekas, sarung tangan, dan baju hazmat. Jakarta Barat jadi yang paling banyak menyumbang dengan 191 kilogram sampah. 

Kepala Seksi Pengelolaan Limbah B3 DLH DKI Jakarta Rosa Ambarsari menjelaskan, karena sampah APD termasuk kategori limbah infeksius, maka tidak bisa dibuang begitu saja ke tempat pembuangan sampah. Idealnya, limbah akan diserahkan kepada pihak ketiga yang akan melakukan pengolahan. Tiap kecamatan diklaim Rosa memiliki satu lokasi pengumpulan. “Kemudian untuk tingkat kota, di setiap kota itu ada lokasi yang dikhususkan untuk limbah medis masyarakat, misalnya di Jakarta Utara ada Dipo Ancol,” jelas Rosa.

Sementara, khusus sampah medis seperti APD dari rumah sakit, Ketua Umum Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Daeng M. Faqih menjelaskan setiap rumah sakit idealnya memiliki alat pengolah limbah berupa tungku pembakaran (incinerator). “Kan ada pemungut sampah medis biasanya, lalu dihancurkan melalui incinerator yang ada pada rumah sakit,” ujar Daeng.

Ya, kalau udah ngomong yang ideal, biasanya bahasan masalah makin panjang. Misal, gimana rencana DKI membangun tempat pengolahan sampah berkonsep intermediate treatment facility tahun lalu? Rencana ini tahun lalu sempat dikomentari Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini.

Waduh, karena udah menyinggung nama Wali Kota Risma, saya jadi kepikiran nasib penanggung jawab razia rapid test tadi. Gimana ya keadaannya setelah foto sampah medisnya viral?

Habis, Bu Risma kan terkenal garang banget. Terus garangnya paling parah kalo soal kebersihan pula (secara mantan kepala dinas kebersihan dan pertamanan). Tambah lagi, tahun 2018 Bu Risma pernah turun tangan ngebersihin sampah di kolong Jembatan Suramadu sampai hampir pingsan. Kami jadi degdegan….